Ijazah: Selembar Ironi Kehidupan,

Alfian Arrizky
Sep 1, 2018 · 3 min read

Benarkah?

Prosesi Wisuda

Bulan Agustus sampai September menjadi waktu paling krusial bagi institusi pendidikan tinggi Indonesia. Di masa-masa ini terdapat prosesi wisuda, sebuah momen dimana para mahasiswa yang telah menyelesaikan 144 SKS selama masa studinya, dikukuhkan dan dilepas untuk terjun mengabdi ke masyarakat. Asumsi yang digunakan disini adalah para mahasiswa yang telah berhasil mendapatkan nilai paling minimal C dari seluruh SKS yang telah diambil, dianggap telah naik kelas menjadi manusia yang lebih berpengetahuan dan siap untuk berkontribusi di masyarakat.

Prosesi wisuda ini layaknya sebuah perayaan besar tahunan yang harus dilakukan dengan megah dan meriah. Terkhusus bagi institusi yang menyelenggarakan proses belajar level pendidikan tinggi, wisuda ini menjadi ajang unjuk gigi tentang apa prestasi yang bisa dilakukan oleh para peserta didiknya. Hal ini menjadi sebuah gengsi bagi institusi terkait karena hal ini dianggap menentukan seberapa besar kualitas institusi tersebut dalam membentuk para peserta didiknya. Salah satu topik yang terus digaungkan selama prosesi wisuda adalah angka dari Indeks Prestasi Kumulatif yang diperolah oleh para mahasiswanya. Setiap kampus berlomba-lomba untuk dapat meluluskan mahasiswa nya dengan perolehan IPK yang tinggi dan menakjubkan. Pihak kampus beranggapan bahwa nilai IPK yang tinggi adalah barometer utama untuk mengukur seberapa siap para wisudawan dalam menyongsong kehidupan yang sesungguhnya. Namun pertanyaannya kini, apakah benar nilai IPK yang dicantumkan dalam selembar kertas ijazah adalah barometer utama untuk mengukur seberapa siap para wisudawan dalam menyongsong kehidupan yang sesungguhnya?

Nilai IPK yang didapat oleh para wisudawan ditentukan oleh proses pengerjaan soal di kertas ujian semasa menjadi mahasiswa. Semasa kuliah, para wisudawan itu dipaksa untuk menjawab beberapa soal teoritis tentang kehidupan di beberapa lembar kertas berdasarkan buku panduan yang telah diberikan. Kemudian nilai-nilai yang didapat dari hasil ujian itu diasumsikan dan dijadikan landasan empiris dalam membuat pengkategorian mengenai seberapa siap mahasiswa untuk dapat membantu menyelesaikan masalah di masyarakat. Satu hal yang menurut penulis kurang mendapat fokus dari sistem pembelajaran semacam ini adalah kurangnya pelibatan unsur teknis dalam proses penilaian. Penulis sepakat bahwa angka yang kemudian dikonversi menjadi nilai sangat diperlukan dalam proses kehidupan, hal ini bertujuan untuk membuat sebuah urutan dan kategorisasi atas baik atau buruknya sebuah hal. Namun yang sering terjadi adalah proses penilaian ini kurang banyak melibatkan unusr teknis pelaksaan, padahal pelaksaan ini adalah poin kunci agar dapat memastikan bahwa ide-ide yang dimiliki dapat diimplementasikan dengan baik.

Ada banyak kalangan yang beranggapan bahwa para wisudawan hanya memiliki pemahaman yang baik secara teori, tetapi secara teknis pelaksanaan pemahaman mereka sangat tidak memuaskan. Penulis cenderung untuk bersepakat dengan anggapan ini karena realitanya adalah para mahasiswa semasa kuliah sangat banyak diajarkan untuk berpikir dan berdiskusi mengenai suatu hal namun kurang mendapatkan porsi waktu yang cukup untuk terjun ke lapangan dan melihat realita yang ada. Penulis berpendapat bahwa terjun ke lapangan secara langsung sangat penting untuk dilakukan oleh para mahasiswa sebab hal ini dapat membantu para mahasiswa dalam memberikan gambaran yang lebih konkret tentang apa yang sebetulnya menjadi masalah di lapangan. Hal ini dilakukan agar kelak ketika para mahasiswa telah tiba masanya untuk menjadi wisudawan dan kemudian bergabung menjadi bagian dari masyarakat tidak merasa kebingunga karena apa yang dibacanya dibuku dan apa yang dilihat di lapangan itu berbeda. Bagi penulis jelas, jika para mahasiswa yang diharapkan dapat menjadi pionir perubahan di masyarakat hanya memiliki IPK yang tinggi namun kelu ketika bersentuhan langsung dengan masyarakat, sejatinya nilai-nilai yang dimilikinya di selembar kertas ijazah hanyalah ironi penilaian kehidupan belaka.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade