Tak Ada Yang Buruk Dengan Sendirian

Mengapa masih sendiri ?
Tidakkah terdengar lucu, menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya? jawabannya jelas satu; jodohnya belum tiba. Tapi bukan berarti juga mereka yang sedang berdua saat ini, jodohnya sudah tiba. Tak ada yang menjamin mereka bahwa pasangannya saat ini adalah jodohnya, bukan?

Tulisan kali ini cukup menguras emosi saya. Karena saya, satu dari sekian banyak orang yang merasa risih dengan mereka yang menjadikan sendiri — atau mereka senang menyebutnya jomblo — sebagai bahan lelucon, olok-olokan. Mengatainya tidak laku —ya mereka sering menyebutnya seperti itu, seakan-akan barang dagangan, bukan manusia. Apa mereka tidak pernah berpikiran bagaimana kalau alasan orang itu masih sendiri adalah karena masih terjebak dengan masa lalu nya? — seperti saya misalnya. Dengan begitu sama saja kau menyapa luka lamanya kembali, bukan? Dan percayalah, itu sama sekali tidak lucu.

Saya tidak mengerti, kenapa menurut sebagian orang sendirian adalah sesuatu yang mengerikan.

Saya sering pergi keluar sendirian, pergi ke toko buku sendirian, menonton sendirian, pergi keluar kota sendirian, dan saya rasa selama itu saya tak melihat ada hal yang buruk. Walau pun tak bisa saya pungkiri seringnya saya merasa iri dengan mereka-mereka yang sudah berdua.

Tapi belakangan ini saya mulai resah atau lebih tepatnya tahu dimana letak terburuk dari sendirian, sejak pikiran semacam ini menjejali otak saya; dari sekian banyaknya manusia di muka bumi ini, bagaimana mungkin tak ada yang bisa saya ajak berdua? Tidakkah janggal, karena masih ada yang sendirian di dunia ini, sedangkan di sisi lain begitu banyak mereka yang serakah karena 'bertiga’. Ah, saya rasa mereka lupa bahwa manusia itu diciptakan ‘berpasang-pasangan’. Bukannya ‘berpasang-pasang-pasangan’.


Sudah lama rasanya saya tidak menjalin cerita. Terakhir mungkin sekitar empat atau lima tahun yang lalu. Tak berjalan lama, hanya hitungan lebih dari satu bulan. Biasa anak SMA. Wajar. Yang tidak wajar, karena saya masih mengingat wajahnya, bagaimana caranya berbicara, bagaimana matanya menghilang tiap kali tertawa. Masih sering mencari tahu kabarnya, dan ingin terus tahu kabarnya. Hampir gila rasanya. Terlebih jika mengingat kenyataan sudah berdua dengan siapa ia saat ini.

Sepanjang tahun itu, teman-teman saya sering mencoba mengenalkan saya kepada teman laki-lakinya. mengatakan kalimat-kalimat yang terdengar sama setiap kali saya menolak niatan baiknya.

“kenapa tidak dicoba saja dulu?”

Sudah. Dan nihil. Padahal saya ingin. Saya ingin mencoba menjalin cerita dengan seseorang 'baru’. Saya betul-betul ingin ada seseorang yang bisa diajak pergi ke bazar buku, menonton film. Menemaninya minum kopi. Menemaninya — atau mungkin mengganggunya, saat main game online. Tapi saya rasa saya belum bisa menemukan lagi seseorang itu. saya tidak pernah merasakan apa-apa setiap bersama orang ‘baru’.

Lagi pula laki-laki sekarang ini begitu suka membual. Membuat perut saya mual. Mereka menganggap suatu ketertarikan sebagai cinta. Buta tak bisa membedakan.

Dan begitupun juga dengan hubungan saat ini, saya perhatikan mereka lebih terkesan mengekang, menjebak, memerangkap, alih-alih merawatnya dan membiarkannya mengepakkan sayapnya terbang.

Entahlah, saya rasa semakin kesini saya semakin sulit untuk memiliki rasa. Setiap kali ingin mencoba dekat dengan seseorang, setiap kali seseorang berlaga serius di waktu yang begitu dini, saya malah mundur — bukan kesalahannya, kesalahannya tentu ada di saya. Tak mau menyamankan diri — berdasarkan pengalaman sebelumnya; percuma nyaman jika tidak di takdirkan berdua. Tak mudah berbagi dunia kepada orang lain. Dan tak suka memaksakan sesuatu. Begitu juga, tak suka menjadi yg di harapkan.


Saya tahu, ini harus segera di akhiri. Takutnya saya malah nyaman dengan keadaan seperti ini — melakukan apa-apa sendiri, sampai-sampai merasa bisa hidup tanpa orang lain. Terkadang sendirian memang baik. tapi demi apapun tidak ada yang sudi sendirian jika bisa berdua. Walau saya tahu, pada akhirnya saya juga akan sendirian menghadapi kematian. Tapi saya juga tahu betul, saya tidak akan mungkin mengangkat jenazah saya sendirian, kan?

Untuk saat ini sendiri adalah yang baik. Masih banyak cita-cita yang belum saya wujudkan. Perjalanan masih panjang — begitu pun saya harap dengan umur saya. Mencoba menghargai sendirian, menikmati prosesnya sampai di pertemukan. Memperbaiki ego sendiri, sebelum kembali berdua.


Tetapi, jika boleh jujur mengapa saya belum bisa membuka hati.. karena saya masih merasa nyaman di tempat yang dulu. Tempat yang sudah ia tinggalkan. Yang hanya tersisa saya di dalamnya, masih berharap Tuhan berbaik hati mengembalikan nya.