Kelangsungan Konservasi Energi di Indonesia

(Sumber : ebtke.esdm.go.id)

Pada hari keempat belas keikutsertaan saya dalam kompetisi blog #15Hariceritaenergi yang diadakan oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), saya akan membahas tentang bagaimana kelangsungan dari konservasi energi di Indonesia yang nantinya akan dibagi ke dalam beberapa sektor. Pembahasan ini cukup menarik bagi saya mengingat dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya belum terdapat pembahasan tentang topik konservasi energi. Secara sederhana, Konservasi energi dapat diartikan bagaimana menggunakan energi lebih efisiensi dari penggunaan energi biasanya dan rasional tanpa mengurangi penggunaan energi yang memang benar-benar diperlukan.

Saat ini, peraturan yang mengatur tentang konservasi energi di Indonesia adalah Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi.

Jika kita berbicara tentang konservasi energi, hal ini memiliki keterkaitan dengan seberapa banyak kebutuhan energi nasional yang diperlukan. Kebutuhan energi sendiri dibagi dalam empat sektor yaitu kebutuhan energi sektor industri, transportasi, rumah tangga dan komersial. Pembagian tersebut didasarkan pada Buku Outlook Energi Indonesia 2016 dari Dewan Energi Nasional. Untuk mempermudah pembahasan, mari kita bahas satu per satu dari tiap sektor yang telah disebutkan di atas.

  1. Sektor Industri
Pangsa Kebutuhan Energi Final Menurut Sektor Industri (Sumber: Outlook Energi Indonesia 2016)

Total kebutuhan energi dari sektor industri pada tahun 2015 sebesar 45 Juta TOE (Tonne of Oil Equivalent = setara ton minyak). Yang mana industri makanan menjadi penyumpang kebutuhan energi tertinggi yaitu pupuk kimia dan karet sebesar 21 persen atau 9,45 TOE, selanjutnya diikuti oleh industri semen dan bukan logam sebesar 20 persen atau 9 TOE. Lalu bagaimana sektor industri melakukan konservasi atas kebutuhan energinya?

Dalam PP Nomor 70 tahun 2009 disebutkan bahwa setiap industri diberikan tanggung jawab dalam tiga hal, yaitu:

a. melaksanakan konservasi energi dalam setiap tahap pelaksanaan usaha;

b. menggunakan teknologi yang efisien energi; dan/atau

c. menghasilkan produk dan/atau jasa yang hemat energi.

Tanggung jawab industri dalam perusahaan ini seperti yang kita lihat dari ketiga poin di atas masih sangat umum. Hal itu dikarenakan jenis industri yang beragam dan juga nantinya memiliki turunan peraturan lainnya.

Dalam paparan seminar dari Tri Reni Budiharti Kepala Pusat Pengkajian Industri Hijau dan Lingkungan Hidup Kementerian Perindustrian menyebutkan bahwa kita sebenarnya memiliki peluang dalam konservasi energi di sektor industri diantaranya banyak industri yang sebenarnya telah mengetahui bahwa pemerintah sedang menggalakkan pengembangan industri yang ramah lingkungan dan juga setiap pelaku usaha untuk mendapatkan audit energi gratis dari pemerintah.

Tetapi, hambatan yang dihadapi dalam sektor ini juga cukup banyak. Mulai dari teknologi ramah lingkungan yang cenderung tinggi, kurangnya kesadaran industri dalam memanfaatkan limbah industrinya untuk dijadikan energi bersih, selain itu juga kurangnya koordinasi antara pihak perusahaan dan pemerintah disinyalir dapat menghambat konservasi energi di sektor Industri.

2. Sektor Transportasi

Pangsa Kebutuhan Energi Final Menurut Sektor Transportasi (Sumber: Outlook Energi Indonesia 2016)

Dari data yang disajikan dapat dilihat bahwa kebutuhan energi di sektor transportasi pada tahun 2015 sebesar 46 Juta TOE. Yang mana dari jumlah tersebut, jalan raya mengantongi angka tertinggi yaitu sebesar 40,38 Juta TOE. Pemerintah dalam hal ini berusaha melakukan konservasi energi di sektor transportasi dengan beberapa cara seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini

Upaya Konservasi di Sektor Transportasi (Sumber: Outlook Energi Indonesia 2016)

Dalam kehidupan sehari-hari setiap orang membutuhkan akses transportasi untuk dapat menunjang kebutuhan hidupnya. Selain langkah-langkah yang telah diusahakan pemerintah dalam melakukan efisiensi terhadap konsumsi energi, tentulah kita sebagai pemakai energi terutama dalam hal ini transportasi perlu bijak dalam memilih moda transportasi yang digunakan. Skenario-skenario tersebut tidak akan berjalan jika warganya sendiri enggan melakukan diet energi di sektor ini.

Selain hal-hal di atas, program-program seperti hari car free day atau bike to work atau bike to campus perlu digalakkan untuk menekan laju emisi karbon dan juga dapat meningkatkan efisiensi dari penggunan energi ini. Hal yang saya sebutkan di atas tidaklah berdiri sendiri, karena di beberapa negara yang telah mengoptimalkan penggunaan energi bersih di sektor transportasi melakukan kolaborasi antara pihak swasta, pemerintah dan institusi untuk mengoptimalkan penggunaan energi bersih.

3. Sektor Rumah Tangga

Pangsa Kebutuhan Energi Final Menurut Sektor Rumah Tangga (Sumber: Outlook Energi Indonesia 2016)

Pada 2015, total kebutuhan energi nasional di sektor rumah tangga sebesar 111 Juta TOE. Kebutuhan energi terbesar berasal dari energi listrik lalu disusul oleh kebutuhan atas LPG. Adapun beberapa penjabaran yang dapat dilakukan dalam meningkatkan efisiensi energi di sektor rumah tangga adalah sebagai berikut.

Upaya Konservasi di Sektor Rumah Tangga (Sumber: Outlook Energi Indonesia 2016)

Jika kita melihat data yang disajikan gambar di atas tentu kita sudah tidak asing dengan hal-hal yang telah dijabarkan di atas. Seperti penggunaan penerangan dengan lampu LED dikarenakan memiliki jumlah watt yang kecil tapi pijaran yang efisiensi, juga langkah-langkah menghemat barang elektronik yang tidak terpakai.

Pemerintah sendiri memiliki beberapa program dalam meningkatkan angka konservasi energi listrik di Indonesia pada sektor ini. Di antaranya adalah “Potong 10 Persen”. Gerakan ini diluncurkan pertama kali pada 15 Mei 2016 oleh Menteri ESDM saat itu yaitu Sudirman Said. Dia mengatakan ada tiga langkah mudah dalam menghemat penggunaan listrik yaitu matikan lampu dan peralatan elektronik yang sudah tidak digunakan, serta mencabut saklar. Cara kedua, menjaga volume mesin pendingin (AC) pada level 25 derajat. Dan ketiga, menjadikan hemat energi sebagai gaya hidup sehari-hari masyarakat Indonesia.

Selain itu, dengan melakukan penghematan energi 10 persen, itu artinya kita telah berusaha untuk membangun kapasitas pembangkit listrik setara 3,5 Gigawatt (Gw) yang mana memerlukan dana sebesar 43 Triliun Rupiah. Sebuah langkah kecil yang tanpa disadari ternyata memiliki dampak besar jika dilakukan secara masif. Untuk lebih gampang mencerna akan manfaat penghematan 10 persen bisa dilihat gambar di bawah ini sebagai bahan bacaan tambahan yang bersumber dari laman esdm.go.id .

Kampanye potong 10 Persen dari Kementrian ESDM (Sumber : esdm.go.id)
Kampanye potong 10 Persen dari Kementrian ESDM (Sumber : esdm.go.id)

4. Sektor Komersial

Pangsa Kebutuhan Energi Final Menurut Sektor Komersial (Sumber: Outlook Energi Indonesia 2016)

Dari data didapatkan bahwa jumlah total energi di sektor komersial pada tahun 2015 adalah sebesar 40 TOE yang mana energi listrik menjadi pasokan utama dari sektor energi ini. Dalam melakukan efisiensinya, langkah-langkah yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan langkah-langkah yang dilakukan seperti pada sektor rumah tangga. Peningkatan kebutuhan energi pada sektor ini meningkat tajam pada tahun-tahun ke depan dikarenakan semakin menjamurnya usaha hotel, restoran, lembaga keuangan tanpa bank, sewa bangunanan dan juga gedung pemerintahan.

Upaya Konservasi di Sektor Komersial (Sumber: Outlook Energi Indonesia 2016)

Dari data-data yang telah disajikan di atas, tentu kita berharap dengan semakin majunya teknologi, konsumsi akan energi dapat ditekan demi terjaganya bahan baku yang hingga saat ini masih didominasi dari bahan fosil. Di masa yang akan datang, peningkatan akan jumlah populasi manusia juga menjadi tantangan akan dalam ketahanan energi di Indonesia. Mari, mulai dari sekarang lebih bijak dalam menggunakan energi demi menjaga keberlangungan energi di masa yang akan datang.

www.esdm.go.id

#15Hariceritaenergi