Mengupas Perkembangan Energi Biomassa di Indonesia
Pada hari ketiga belas keikutsertaan saya dalam kompetisi blog #15Hariceritaenergi yang diadakan oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), saya akan membahas tentang perkembangan energi biomassa di Indonesia. Tulisan kali ini adalah penjabaran dari tulisan pertama saya yaitu tentang memahami potensi energi baru dan terbarukan hari ini. Dalam tulisan tersebut saya menyebutkan bahwa poin nomor empat adalah biomassa. Oleh karena itu, saya akn mencoba lebih dalam mengulas tentang perkembangan energi biomassa saat ini di Indonesia. Bagi yang belum membaca tulisan pertama saya yang disebutkan di atas, silahkan langsung cek pada tautan di bawah ini.
https://medium.com/@alfinfadhilah/memahami-potensi-energi-baru-dan-terbarukan-hari-ini-430ca688d3b8 .
Biomassa adalah material yang berasal dari organisme hidup yang meliputi tumbuh-tumbuhan, hewan dan produk sampingnya seperti sampah kebun, hasil panen dan sebagainya. Istilah biomassa pertama kali muncul pada Journal of Marine Biology Association pada tahun 1934 oleh ilmuwan Rusia bernama Bogorov.
Biomassa sendiri dikelompokkan dalam berbagai macam golongan, di antaranya adalah bioetanol (tanaman), biodiesel (minyak sawit dan kedelai), biogas, biobriket serta biokerosen (minyak nabati). Hal itu dikarenakan sumber bahan bakunya yang berbeda dan juga pengolahan yang dilakukan.
Potensi sumber daya biomassa di Indonesia salah satu yang terbesar dibandingkan negara lain, menurut laman Kementerian ESDM, potensinya apabila dikembangkan adalah 50 Giga Watt (GW). Selain itu, data dari (ZREU,2000) menyebutkan bahwa Indonesia memproduksi 146,7 Juta ton atau setara 470 Giga Joule (GJ)biomassa per tahun yang mana sumber utamanya berasal dari residu pertanian yaitu sebesar 150 GJ per tahun dan karet kayu 120 GJ per tahun. Berikut adalah sebaran potensi biomassa di Indonesia.

Seperti pengertian biomassa di atas, penjabaran untuk memanfaatkan energi tersebut sungguh sangat luas karena berasal dari makhluk hidup. Di Indonesia, pemanfaatan dari produksi tersebut umumnya berasal dari tumbuhan-tumbuhan seperti karet, sisa kayu, sisa proses gula, sisa padi, sisa kelapa. Hal itu disampaikan dalam Seminar Nasional Energi Terbarukan yang diselenggarakan oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) pada 10 Maret 2009. Berikut adalah potensi energi biomassa berdasarkan bahan bakunya.

Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Energi Biomassa
Masih dikutip dari Seminar Nasional Energi Terbarukan UNS, 2009. Terdapat kelebihan dan kekurangan dari energi biomassa ini, di antaranya sebagai berikut.
Kelebihan
- Dapat disimpan dalam jangka lama
- Dapat dimanfaatkan sebagai sumber panas maupun daya (CHP) sehingga efisiensinya tinggi.
- Teknologinya fleksibel, baik untuk skala kecil, sedang, ataupun besar.
- Lebih efisien jika antara sumber energi dan pemanfaatannya berjarak dekat (reduced transportation cost).
Kelebihan dari penggunaan energi biomassa tidak hanya sampai di situ. Berlimpahnya bahan baku untuk pengolahan energi ini perlu digaris bawahi dikarenakan energi fosil di masa yang akan datang jumlahnya akan berangsur menyusut. Selain itu, pemanfaatan energi ini sangat potensial di wilayah pedesaan mengingat masyarakat di sana yang langsung bersentuhan dengan bahan baku dari energi biomassa. Pendampingan akan pengolahan energi ini memang sangat dibutuhkan mengingat perlu adanya dorongan dari pemerintah untuk masyarakatnya berdaulat di sektor energi.
Kekurangan
- Untuk beberapa teknologi proses masih menghasilkan bau.
- Perlu gas cleaning
- Abu yang dihasilkan cukup tinggi sehingga maintenance peralatan lebih sering dilakukan.
- Sparepart untuk proses gasifikasi, pirolisis, cogeneration masih terbatas.
Kekurangan yang paling sering muncul dari pengembangan teknologi ini adalah ketersediaan alat dari pengolahan tersebut. Kalaupun ada, biaya yang dikeluarkan untuk itu juga tergolong cukup tinggi. Selain itu, kurangnya dorongan pemerintah terhadap potensi energi ini juga tergolong minim. Pengelolaan energi biomassa terutama bioetanol dan biofuel saat ini juga masih tergolong minim karena membutuhkan modal penelitian yang cukup besar.
Pengembangan
Untuk meggenjot pangsa pasar energi biomassa yang dalam hal ini ditujukan dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm), pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM telah mengeluarkan peraturan Menteri ESDM Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pembelian Tenaga Listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa dan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas oleh PT PLN (Persero).
Dalam peraturan tersebut yaitu pasal 23, disebutkan bahwa harga jual listrik kepada PLN untuk tegangan menengah yaitu Rp. 1.150,00/kWh dan tegangan rendah yaitu Rp. 1.500,00/kWh. Peraturan ini juga menjadi angin segar bagi para investor jika ingin membangun PLTBm di Indonesia. Hal itu yang disampaikan Dirjen Energi Baru Terbarukan Konversi Energi Kementerian ESDM, Rida Mulyana seperti dilansir tribunnews.com
Saat ini, pembangunan PLTBm pertama kali dilakukan di Gorontalo seperti dikutip dari bisnis.liputan6.com pada 21 Juli 2014. PLTBm tersebut dinamai PLTBm Pulubala yang menurut Dahlan Iskan diharapkan bisa menjadi PLTBm percontohan dan akan mendorong daerah-daerah lain untuk membangun PLTBm. Sumber utama PLTBm ini adalah dengan memanfaatkan potensi tongkol jagung yang melimpah di Provinsi Gorontalo.
Selain di Gorontalo, pembangunan PLTBm di Indonesia mulai menjamur di beberapa daerah seperti di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Kapasitas dari pembangunan PLTBm tersebut memiliki kapasitas sebesar 10 MW dan juga dipadukan degan Pembangkit Listrik Energi Terbarukan Biogas (PLTBg). Adapun bahan baku dari PLTBm ini berasal dari bahan bakar kayu. Berita tersebut dapat dicaba selengkapnya pada laman ebtke.esdm.go.id.
Bergeser dari Kalimantan, di ibu kota Jakarta juga tak mau kalah. Dilansir news.detik.com Anak perusahaan PT PLN (persero) PT Indonesia Power berencana membangun pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBm) di Marunda untuk dapat memanfaatkan sampah yang ada di Jakarta Utara menjadi energi listrik.
Di Provinsi Bali, PT Charta Putra Indonesia berencana menggarap proyek PLTBm dengan memanfaatkan bahan baku berasal dari bambu. Adapun Proyek PLTBm ini nantinya akan berkapasitas sekitar 700 KW dengan investasi sebesar 300 Juta Dollar Amerika. Diharapkan PLTBm ini dapat beroperasi pada 2018 dan dapat mengaliri tiga desa.
Selain dari daerah di atas, saat ini pengembangan dari PLTBm juga tersebar di beberapa wilayah seperti PLTBm di Tanjung Batu, Kepulauan Riau, PLTBm Tempilang di Bangka Belitung yang saat ini dalam proses kontruksi. Tak ketinggalan, di wilayah timur yaitu rencana PLTBm Sidarap di Sulawesi Selatan, PLTBm Bondohuka di NTT, PLTBM Piru di Maluku dan PLTBm Merauke di Papua.
Tentunya kita berharap pembangunan PLTBm yang hampir secara keseluruhan ditargetkan beroperasi pada tahun 2018 dan 2019 dapat terealisasi dengan sebaik mungkin. Sehingga pemenuhan akan energi listrik yang termasuk ke dalam salah satu Nawa Cita Presiden Joko Widodo dapat terlaksana.
#15Hariceritaenergi
