Aku Pun Begitu

unsplash.com
Jika jatuh cinta berpasangan, maka tulisan ini juga ingin berpasangan — dengan Lembar Kedua milik Nawang. Bisa dibaca dulu di sini ya.

Papan huruf-huruf laptop ada di hadapanku — tepat di bawah jejari. Tapi, huruf-huruf itu, tiba-tiba selalu ingin sembunyi acapkali jejariku menyentuh mereka satu persatu. Aku tak tahu kenapa.

Kurasa huruf-huruf itu kini memilih jadi mahluk pemalu sejak kukatakan bahwa aku ingin mengirim seluruh dari mereka ini padamu nanti.

Dini hari: Aku mulai menerka dan menerkam sebungkus ingatan manis tentang kita beberapa waktu lalu. Saat kau bertamu di kotaku, dan akhirnya kita bertemu di antara kata-kata manis itu: menulis di lembar-lembar selanjutnya.

Kau menyebutnya sebagai lembar kedua. Apapun itu, aku senang kau punya keinginan menutup lembar pertama untuk menatapku dan menulis di lembar selanjutnya. Aku sangat menyukainya, lembar-lembar cerita yang akan kita isi dengan asa kekal tentang kita.

Ketika kau menulis cerita atau puisi dan aku membacanya, kudengar banyak hal yang berhasil kau bisikkan ke telingaku. Lalu beredar di sekujur inderaku. Mengobati sel-sel sakit di tubuhku. Hingga kini, segala tentangmu telah menetap di hati.

Aku tak tahu bagaimana inderaku bisa tersandera di seluruhmu. Segala rasa timbul setiap dirimu menyembul dengan senyum simpul. Aku juga tak tahu sejak kapan ingatanku mengabadikan segala tentangmu.

Diam-diam ia sudah mengenalmu dan kau mendebarkan hati setiap kau deburkan ombak di pantai perasaanku. Kau pun, telah membuat hatiku tak hanya hilang terampas. Tapi juga jatuh sebagai yang patuh hanya padamu.

Kita memang tak perlu susah payah. Tugas kita hanya tegas untuk melangkah dan berdua beradu doa. Di hatimu, aku ingin menjadi yang tunggal. Bukan sebagai puisi yang dipenggal-penggal. Atau orang asing yang tanggal dan kau tinggal.

Jika ada yang bertanya padaku tentang ruang di mana segalanya tercurah, tentang cinta di mana mereka beranak pinak, aku akan menjawab: tidak ada tempat lagi selain ceruk hati kita: bersemayamnya segala senyuman kita.


Jatuh cinta, membuat kita seperti sekomplotan pencuri. Kau curi hatiku, aku curi hatimu. Atau seperti pesulap, yang tiba-tiba menyusup, bersembunyi dan menempati ruang hati tanpa permisi.

Tak ada kecemburuan. Sebab kita berdua berdaulat dengan keyakinan masing-masing. Bahwa tak ada cinta selain kau dan cintaku hanya untuk engkau.

Sayangku,

Demi mengabulkan kemauanmu, aku ingin menjadi pustakawan untuk perpustakaan cinta dalam kepala kita. Menginventaris segala kenangan, supaya aku tahu, mana yang perlu dan tidak perlu diselamatkan.

Terakhir, setelah kita senyaman senyuman, aku ingin setiap pagi membisikkan cinta padamu lewat apapun semampuku. Jangan tanya alasannya, bahkan tuhan sudah lupa mengapa aku begitu mencintaimu.

[AR]