Sekilas Kesengsem

Awal bulan Juli, saya berniat untuk menggarap satu manuskrip puisi yang saya beri judul “Kesengsem”. 48 puisi yang saya buat sejak Januari 2017 itu akhirnya saya tata sedemikian rupa dalam microsoft word, kemudian saya membacanya ulang sebagai pembaca. Saya tertawa dan kadang-kadang sedih, sebab saya selalu ingat setiap kejadian yang membuat puisi itu tercipta. Setelah lima kali membaca ulang, saya kemudian mengirim pesan ke Bung Andrenaline Katarsis (Penulis Jelajah Kampung) dan Vika Aditya (Model/Aktris). Kedua orang ini sama-sama baru saya kenal tahun ini. Saya bertemu Bung Andrenaline di Indonesia Buku, waktu itu beliau sedang main ke Jogjakarta dan (Mungkin) sowan-sowan ke beberapa pegiat literasi di Jogja, sementara perkenalan dengan Vika Aditya berlangsung di instagram dan berlanjut setelah dia membeli buku kumpulan cerpen saya LELAKU (2016). Keduanya penulis, pembaca puisi dan penikmat puisi. Saya rasa, itu lebih dari cukup untuk saya mintai komentar tentang manuskrip yang ingin saya terbitkan itu. Benar, keduanya menerima email saya dan membalasnya dengan cepat. Saya berseri-seri dibuatnya. Tanpa pikir panjang, saya menghubungi Bung Topan (Pemilik Penerbit Nyala Yogyakarta) untuk bekerjasama dalam urusan ISBN. Buku Kesengsem saya terbitkan atas nama literISI (yang awalnya adalah media yang saya buat di kampus ISI untuk menampung suara mahasiswa). Setelah kesepakatan dengan Bung Topan sukses, dua kawan saya di Indonesia Buku saya repotkan. Safar Banggai saya minta untuk menulis pengantar, Prima H (kelanamallam) saya minta bantuan untuk me-layoutnya. Semua berjalan dengan sangat mulus, saya mulai membuat promo via instagram. Setelah segalanya siap, saya dan Prima ke percetakan. Dari segala proses itu, saya mendapat sarab dari Safar Banggai dalam hal marketing, usulannya begitu brilian! yakni meminta saya untuk memberi bonus sketsa wajah bagi yang melakukan Pre-Order pertama. Usul itu saya laksanakan dan di luar dugaan, pemesan buku Kesengsem melonjak hingga angka yang melebihi jumlah cetakan. Akhirnya saya harus menambah stock cetak lagi. Berbeda dengan LELAKU maupun Lisan Tulisan, buku Kesengsem ini begitu laris (setidaknya ini versi saya).

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Alfin Rizal’s story.