HARI NASIONAL INDONESIA BERDO’A

ABSTRACT

By Ali Akhmad Setiyawan

Far from God because of lack of faith , make rampant crime ; many of robbery , theft , kidnapping ; rape; murder. Even many unemployed trigger miscellaneous depravity nation. Concern for the nation and the state , kind of thinking to be able to change things for the better . But among the limitations of resources and efforts , made ​​man must return to God Almighty . This nation was built on the foundation of high morale and the flow of prayer-prayer that never end . However spotted with young people who fall asleep with the progress of time . It needs a system to make people back to God so that this country is always safe and secure .

With the National Day of Indonesia Pray , make the Indonesian people back to God Almighty and to hold back the norms and customs that apply as of Pancasila . Cooperation and inter-religious tolerance made ​​the Indonesian people are strong in all areas .

Jauh dari Tuhan dikarenakan kurangnya iman, menjadikan kejahatan merajalela; banyak perampokan, pencurian, penculikan; pemerkosaan; pembunuhan. Bahkan banyak pula pengangguran yang memicu aneka kebobrokan bangsa. Keprihatinan terhadap bangsa dan negara, memunculkan pemikiran untuk mampu merubah keadaan menjadi lebih baik. Namun diantara keterbatasan daya dan upaya, menjadikan manusia harus kembali kepada Tuhan YME. Bangsa ini dibangun dengan pondasi semangat juang yang tinggi serta aliran do’a-do’a yang tak pernah putus. Namun dinodai dengan generasi muda yang terlena dengan kemajuan zaman. Perlu adanya sistem untuk membuat manusia kembali kepada Tuhan sehingga negeri ini selalu aman dan tentram.

Dengan Hari Nasional Indonesia Berdo’a, membuat masyarakat Indonesia kembali kepada Tuhan YME serta memegang kembali norma dan adat yang berlaku sesuai pancasila. Kerjasama dan toleransi antar umat beragama menjadikan Bangsa Indonesia kuat dalam segala bidang.


Spiritual merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dari Indonesia,− negara dengan berjuta cerita sejarah serta perjuangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa lika-liku terbentuknya Indonesia karena spiritual ikut andil dalam proses tersebut.

Melihat ke masa dimana raja-raja Nusantara memimpin kerajaan, setiap raja merupakan hal vital dari masyarakatnya. Setiap masyarakat suatu kerajaan menganggap raja mereka merupakan orang pilihan Tuhan, oleh sebab itu mereka menganut ajaran sesuai raja mereka. Pada masa tersebut sudah terlihat bahwa spiritual merupakan hal vital yang mendasari kedamaian pada setiap kerajaan di Nusantara. Hingga tiba suatu masa dimana ulama islam yang dijuluki “Wali Songo” datang ke tanah Jawa, tempat kerajaan terkuat di Nusantara. Para ulama tersebut mengajarkan konsep keTuhanan yang hakiki. Hingga ajaran tersebut lambat laun menyebar ke seantero Nusantara.

Peta Kerajaan di Nusantara

Waktu terus berjalan, datanglah para orang asing yang datang ke Nusantara guna untuk berdagang atau menetap. Karena mereka (para orang asing) merasa nyaman dan untung tinggal di Nusantara, pemerintah mereka bersikeras untuk mengambil alih Nusantara. Disinilah penjajahan dimulai. Kerja paksa dimana-mana, pembodohan masyarakat meningkat, kemiskinan merajalela. Para petinggi/ pembesar kerajaan mulai menyiapkan strategi untuk melawan dan berdo’a kepada Tuhan agar penderitaan Nusantara berakhir.

Hingga tiba saat dimana para intelek-intelek dan pejuang-pejuang tangguh muncul, seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, Dr. Soepomo, Jendral Sudirman dll. Mereka (para intelek dan pejuang) bersama rakyat memerangi orang asing yang berusaha menguasai ibu pertiwi. Segenap tenaga dan do’a dikerahkan, bagaimana mungkin dikatakan spiritual tidak ikut andil dalam upaya melawan penjajah? Karena jika dinalar, mungkinkah senjata api kalah dengan bambu dan kayu? Atau bahkan ratusan prajurit kalah dengan puluhan rakyat pribumi? Tetunya tidaklah mungkin kedua hal tersebut terjadi. Tetapi karena rakyat pribumi menyertakan Tuhan dalam perjuangan mereka, melalui berbagai proses Tuhan pun mengabulkan do’a dengan cara memberikan rakyat pribumi kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.

Dr. (H.C) Ir. H. Soekarno

Setelah merdeka dan masa orde lama berlalu, lantas tak membuat rakyat Indonesia melupakan Tuhan. Buktinya saat orde baru pun negeri ini aman damai, terhindar dari bencana alam. Namun karena secuil pemerintahan yang melakukan korupsi, Tuhan pun membuka tabirnya. Dijatuhkannya pemerintahan orde baru karena Tuhan masih sayang dengan Indonesia.

Orde baru pun berlalu meninggalkan kesemrawutan politik. Pada tahun 2000an bencana alam mulai mendatangi Indonesia. Tersapunya Aceh karena Tsunami, meletusnya gunung-gunung berapi, gempa hebat dimana-mana, hujan lebat yang mampu menyebabkan banjir, kebakaran yang tidak diketahui sumbernya dll. Itu merupakan dari segi alam, sedangkan dari segi manusia, korupsi yang terorganisir dan tak nampak, kegaduhan elit-elit politik, dll.

Jauh dari Tuhan dikarenakan kurangnya iman, menjadikan kejahatan merajalela; banyak perampokan, pencurian, penculikan; pemerkosaan; pembunuhan. Bahkan banyak pula pengangguran yang memicu aneka kebobrokan bangsa. Bukanlah bangsa ini dibangun dengan pondasi semangat juang yang tinggi serta aliran do’a-do’a yang tak pernah putus. Tetapi karena generasi muda terlena dan terbuai akan gemerlapnya kemajuan zaman, mereka melupakan Tuhan.

Harusnya rakyat dan pemerintah mulai khawatir, karena negeri dalam keadaan darurat dalam segala aspek. Untuk itulah perlu adanya sistem untuk membuat manusia kembali kepada Tuhan sehingga negeri ini selalu aman dan tentram, seperti dalam kutipan dalam Bahasa Sansekerta yaitu “Gemah ripah loh jinawi”.