New York
New York, concrete jungle
Where dreams are made of
There’s nothing you can’t do
Ini mungkin akan terdengar basi, kaya remaja umur 19 yang menginginkan New York sebagai destinasi hidupnya. Living an American dreams in a full fantasy. Terlebih, you are not even an American. Oops, there is no thing such a real American in this century, right? So I think there is a hope for me to work my ass off there, in a ‘beautiful’ melting pot.
But, why? Kenapa New York?

Ok, should I wear I love NYC shirt first? Nope, I don’t have it.
Karena it was quite mesmerizing everytime I saw NY movies, those skyscrapers, those people fill up the street, those yellow cabs, dan pasti biasanya cerita yang latar belakangnya New York pasti menceritakan tokoh utamanya yang sedang mengejar impian, in the world’s big city.

Selain mengejar cita dan asa, ia si malang pada kehidupan awalnya pasti akan mencari cinta juga, jadi pasti: cinta, cita, dan asa. Kalau jadi judul FTV pasti jatohnya, “Cintaku Tertubruk New York Subway”, mati dong.
Setelah cita-cita tercapai, cinta oke oce, nanti couple yang baru beradegan mesra untuk adegan yang terakhir kalinya akan di zoom out, kameranya naik entah ke arah langit atau city lights, footage yang baru. Dan para pengidam New York akan menjerit dalam hati. Karena men, percaya atau engga (bahkan gue yang gapernah kesana bisa bilang) kalau sunset dan city lightsnya New York sama New-new yang lain itu beda, apalagi yang gaada New-nya karena mungkin udah expired.
Tapi sungguh, typical New York movies yang gabakal lepas dari ingatan para cewek. Yang tajir mungkin tinggal bilang bonyoknya minta kuliah di NYU, and nothing to lose: ilmu dapet, dan ilmu yang lain-lain apalagi. Dan bagi gue yang kere mungkin cukup bahagia nonton film yang settingnya di New York terutama di tahun awal 2000an, karena percayalah, ga semua film HD itu bagus, unless you are watching animation movie.

Tapi film tahun 2000an is a hell good damn movie, isn’t? Aku masih suka ngelihat film tahun 80-90–00 karena I think, they are super great. Ambience warna yang ga vivid itu justru ngasih identitas yang bikin aku makin cinta. Too good to be true. Aktor dan aktrisnya masih senatural itu, Anne Hathaway dengan senyum sumringah tanpa dibuat-buat di The Devil Wears Prada, atau Kate Beckinsale yang berbahagia karena akhirnya bertemu dengan jodohnya. Men, I hope my life was easy as the movies.

Disini soft powernya US untuk menarik orang-orang ke NY is worked. A tons of people pengen kesana, dan film semakin membuat racun di otak semakin kuat, menjadikannya suatu motivasi jika dinetralkan dengan benar.
And I’m living that New York dream, having my coffee whilst walking near Rockefeller towards my office (actually, it has a name) with my trench coat and sunglasses that doesn’t have any particular function but it match with my boots, and holding some paper and envelopes contains top secret this world could have and anything that can makes me, proud of me in my dream.
Big thanks to Frank Sinatra with his most famous song to accompany me writing one of my dreams.
