40 Hari Tanpamu

Seperti kata Sheila on 7 dalam salah satu tembangnya. 40 hari setelah kau pergi, ku masih sembunyi di balik senyum palsu.


Time flies. Aku tak dapat menghentikan waktu. Kemarin, 8 Juli, tepat 40 hari kepergianmu. Menjadi penanda khusus bagiku, bahwa telah aku lalui 40 hari dengan sesuatu yang berbeda.

Tak ada reminder kecilmu. Tak ada perhatian-perhatianmu. Dan tak ada nasehat-nasehat pabila aku lalai.

Rasanya akupun menjadi berbeda dari biasa. Memaknai kehidupan dengan lebih dalam. Semakin sadar bahwa jarak antara aku dan kamu, tak kurang dari satu jengkal.


Belajar

Tapi, mama harus tau. Bahwa aku tetap menjadi pembelajar seutuhnya. Aku tetap menjadi anakmu yang suka belajar. Mengamati pola hidup. Membaca lika-liku romansa. Hingga mendekatkan diri pada-Nya.

Aku semakin belajar. Bahwa tak ada yang aku miliki di dunia ini. Selain Dia.

Namun, tetap sama Ma, aku kehilangan berat. Aku tak tau harus mengadu ke siapa saat aku lelah, bercerita kebahagiaanku bahwa aku hampir sarjana, meminta pendapat terkait wanita yang aku dekati, hingga ketakutan-ketakutanku yang selalu bisa kau tenangkan.

Aku tak lagi meraihmu. Tak mendengar suaramu untuk bertukar asa. Kehilangan hangat pelukmu, pastinya.


Sesuatu yang Baru

Kepergianmu sungguh membekas. Menyisakan luka. Sakit, tapi tak berdarah.

“Pada akhirnya, aku belajar pada dua hal: kehadiran dan kepergian.”

Kepergianmu memberikan pembelajaran. Bahwa aku bukan lagi bocah ingusan yang hanya bisa memposisikan tangan di bawah.

Aku telah lebih kuat. Memaknai hidup dengan lebih dewasa. Mensyukuri nikmat dengan lebih khidmat. Menerima cobaan dengan lebih tawakkal.


Dan kini, aku akan berusaha. Melakukan pengabdian terakhirku. Menjadi sebaik-baiknya anak. Membangunkan sebuah istana di surga dengan amal jariyahku. Aku akan mengirimkan mahkota yang indah, yang sinarnya lebih benderang daripada sinar mentari di dalam rumah sekalipun. Aku akan mengirimkan jubah, untukmu di surga, memastikan bahwa kau tak kedinginan, dan nyaman bersenda gurau dengan bidadari surga. Aku akan, ma.

Aku akan tetap bercerita padamu. Menepati janju-janjiku yang mulai usang. Mengabarkan hari bahagiaku. Meminta topangan bahumu saat aku letih. Aku akan berkomunikasi denganmu, selalu.

Semoga Allah mendengar percakapan kita yang hanya berjarak antara kening dan sajadah.
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Alief Bagus Wicaksono’s story.