Aktivis Setengah-setengah, Hamba Setengah-setengah

Tulisan ini dibuat atas dasar pengalaman selama masa perkuliahan. Dibalut sedikit penyesalan. Namun, diikuti dengan sejuta harapan yang tinggi.


Kuliah yang Menyenangkan

Bagi kita semua yang telah duduk di bangku kuliah. Rasanya tak ada yang menyangkal bahwa kuliah itu menyenangkan. Kita benar-benar mengalami fase pendewasaan secara matang. Membangun konstruksi berpikir. Mencoba-coba melakukan analisis ilmiah. Hingga menjalin relasi dengan keragaman umat.

Dari sekian banyak aktivitas kampus. Rasanya tak sedikit yang menyelami dunia organisasi atau kepanitiaan. Atau sesekali menjadi parlemen jalanan. Menyambung lidah rakyat untuk meneriakkan hak mereka.

Bahkan, ada beberapa mahasiswa yang mendeklarasikan bahwa mereka berkuliah di organisasi dan mengikuti ekstra-kurikuler di ruang kelas bersama dosen. Hehe.


Idealisme

Mahasiswa selalu dikenal dengan idealismenya. Bahwa idealisme merupakan kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda (mahasiswa). Memperjuangkan kaum tertindas, ujarnya.

‘Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia’

Namun yang menjadi pertanyaan adalah,

Mahasiswa mana yang kita hidupi? Kita berteriak dengan lantang. Akan tetapi masih banyak teman kita yang kesulitan membayar uang kuliah, makan masih hutang, biaya kos tertunda beberapa bulan. Tidakkan seharusnya kepekaan di pupuk dari radius terkecil?

Lanjut, rakyat mana yang dihidupi? Saat kondisi sekitar kampus masih mengenaskan. Warga sekitar tak mendapat manfaat apa-aa selain jasa kos-kos-an, fotocopy, laundry, ataupun warung makan. Tak ada sentuhan kampus teknologi dari seluruh mahasiswanya. (Atau mungkin pemahaman saya yang minim, cenderung terlalu apatis). Wallahua’lam.


Setengah

Agaknya kita telah terjebak. Dengan kondisi setengah matang. Kita berupaya menjadi aktivis, namun setengah-setengah.

Kita disibukkan dengan aktivitas organisasi. Hingga kita lupa siapa nama Bapak Kost kita. Kita tak tahu siapa Ketua RT lingkungan kost kita. Kepekaan kah itu?

Kita lupa terjun ke masyarakat. Duduk sama rendah. Untuk sekedar menyapa kabar saja, kita enggan.


Lalai

Ternyata, dalam urusanNya pun kita setengah. Organisasi membuat kita lupa pada Sang Pencipta. Rapat di waktu shalat. Diskusi hingga dini hari, menyebabkan terlewatnya shalat subuh.

Kita benar-benar jauh darinya. Lebih nyaman duduk di kantin, daripada bersimpuh di Baitullah.

Separuh hamba. Mungkin itulah sebutan bagi saya. Bahkan menjadi hamba-Nya pun belum layak. Hanya mencariNya saat organisasi kita sulit. Namun bersenang-senang berlebihan saat organisasi berhasil melakukan suatu hal.

Entah berapa banyak waktu yang telah terbuang. Yang seharusnya dapat digunakan untuk mempelajari ilmu agama. Akan tetapi, dihabiskan untuk urusan dunia.


Akan tetapi, bukan berarti organsiasi selama ini tidak bermanfaat. Pasti bermanfaat. Hanya saja perlu diseimbangkan antara urusan dunia dan persiapan akhirat.

Semoga setelah ini, saya benar-benar menjadi hamba sepenuh waktu. MengingatNya di setiap waktu dan tempat.

Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

)

    Alief Bagus Wicaksono

    Written by

    Penulis suka-suka. Contact: mail@aliefwicaksono.com or https://www.linkedin.com/in/aliefwicaksono/

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade