Menjadi Umum atau Mencari yang Khusus?

Tulisan ini merupakan hasil perenungan diri, tentang bagaimana kita menyikapi hidup. Agaknya diksi yang digunakan kurang relevan, mohon dikoreksi.


Hidup itu Pilihan

‘Hidup itu pilihan’ rasanya menjadi frasa paling populer untuk menggambarkan kehidupan. Menceritakan perjalanan antara nafas dan sakaratul maut. Menjadi sebuah deskripsi tentang sebuah perjalanan manusia.

Namun, jangan pernah katakan kalau hidup itu pilihan jika belum memilih jalan hidup sendiri. Aha?

Lantas, bagaimana nasib bagi orang-orang passenger. Yang hidupnya dipilihkan. Memilih sekolah dipilihkan, memilih kampus diarahkan, jodoh dicarikan. Mungkin warna baju di hari ulang tahun juga dipilihkan?

Bagiku, itu tetap pilihan, maka ia memilih jalan hidupnya untuk dipilihkan.

Justru yang patut dipertanyakan adalah, saat hidup itu adalah pilihan, lantas apakah kita memilih untuk memulai hidup di dunia ini?

Dengan sangat yakin, Sang Sutradara yang mengaturnya. Memilihkan kita. Memilih jalan hidup kita. Memilih tujuan hidup kita. Maha benar Allah dengan segala firmanNya.


Hidup itu Berpasang-pasangan

Lho, kalau yang satu ini bagaimana?

Segalanya tertuang dalam Adz-Dzariyat ayat 49. Bahwa Allah telah menciptakan kita berpasang-pasangan. Untuk mengingat kebesaranNya.

Maka kita pun harus memilih pasangan kita, ya?


Belajar dan Berkembang

Jika berpasangan harus diawali dengan memilih. Hal itu pastinya juga terjadi pada wadah belajar.

Berorganisasi misalnya, kita pasti memilih suatu wadah untuk menjadi destinasi kita. Menjadi lumbung pahala untuk suatu kemanfaatan.

Bagaimana kita memilih suatu ladang belajar?


Menjadi Umum atau Mencari yang Khusus?

Dalam memilih, kita akan dihadapkan dalam dua pilihan: menjadikan diri kita menjadi orang-orang pada umumnya atau mencari suatu yang khusus pada diri kita apa adanya.

Di balik An-Nur ayat 26, dalam memilih jodoh tentunya kita akan tetap berjuang. Menentukan refleksi diri kita, meskipun Allah telah gariskan jodoh kita. Saat kita sedang mengupayakan seseorang, kita akan memilih untuk menjadi lelaki pada umumnya agar diterima dia atau mencari jodoh yang benar-benar sesuai dengan karakter kita.

Menjadi lelaki yang diidam-idamkan banyak wanita. Dengan segala perhatian dan pengertian. Dengan sikap nan lemah lembut. Itu menjadi umum, bukan?

Atau menjadi diri kita apa adanya. Berusaha menjadi serpihan hati yang menerimamu apa adanya. Menunggu kepingan terakhir benar-benar cocok dengan susunan puzzle yang telah menanti. Kalau yang ini mencari yang khusus, kan?

Dalam belajar pun sama, kita diminta untuk tenggelam dalam hegemoni mayoritas. Terpaksa menjadi umum agar dapat berkembang, ujarnya. Sebagai contoh, semua mahasiswa diminta untuk berkontribusi di himpunan atau suatu organisasi, alih-alih dia berkontribusi sesuai dengan minatnya. Lagi-lagi, kita memilih, memaksa diri kita menjadi umum atau keluar dari arus dan mencari hal khusus bagi kita.

Bahkan, kita terdoktrin dengan rumah yang bernama sekolah. Rumah kedua ujarnya. Kita telah menjadi umum. Memaksa diri kita bersekolah untuk mendapat ilmu. Untuk belajar. Apakah sekolah satu-satunya wadah untuk belajar, sehingga kita harus menjadi umum?


Menjadi umum atau mencari yang khusus akan selalu kita hadapi dalam sebuah pilihan.

Mana yang kamu pilih?

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Alief Bagus Wicaksono’s story.