Journey Vol.1

Saya akan bercerita tentang bagaimana saya bertemu seseorang yang tidak dikenal sebelumnya sampai akhirnya berpacaran.

Awal Sejarah

Bumi , 27 September 2015

Tak pernah satu sekolah , satu kampus maupun ketemu sebelumnya dengan dia, sampai akhirnya ada sebuah acara bernama Hantaru (hari agraria dan tata ruang nasional) dan dimana aku disana bertemu dengan dia, lebih tepatnya aku yang melihat dia.

Karena memang aku Lelaki pemalu maka hanya sebatas melihat dari jarak jauh tidak berani mendekat, hanya sebatas mengagumi. Sampai hari terakhir acara, bibir ku tidak bicara satu kata pun ke dia, hanya sebatas mata yang melihat.

Otak ku berpikir mungkin dia sudah di punyai seseorang, tetapi waktu dan kenyataan berpihak kepada ku, nyatanya belum. Sampai hari terakhir acara selesai, mata ku tidak bertemu ataupun melihatnya lagi sejak hari itu, 4 hari setelah itu akhirnya ada sebuah acara lagi , dan pada saat itu ku tidak tahu, bahwa dia juga akan datang.

Akhirnya sempat tangan kita berintegrasi, ku tahu nama nya “Mutiara”, muka memerah keduanya dan keadaan jadi canggung. Tak terasa acara itu selesai, kini ku tahu aku jatuh cinta lagi setelah sekian lama tersesat di dalam kesendirian. Tetapi keadaan terjadi lagi , tidak bertemu lagi , tidak ada nomor , hanya pesan singkat lewat sebuah email yang hanya bertahan 2 hari. Tidak ada lagi komunikasi , tidak ada lagi pertemuan.

Perasaan hanya di pendam dan tersimpan dalam sunyi , entah sampai kapan , pada saat itu ku hanya berfokus terhadap Perkerjaan yang lagi ku kerjakan. Berbulan — bulan tidak ketemu , tidak ada komunikasi , keadaan menjadi stagnasi.

Sekian lama tidak bertemu , beda pulau dan akhirnya hanya ada sedikit komunikasi, itu pun lewat salah satu medium sosial media, tapi satu gerakan kaki pun tidak ada untuk menjumpainya, dan tepat bulan menunjukan agustus 2016 akhir, (jarak awal terakhir ketemu bulan desember 2015 tepat 9 bulan). Akhirnya novel Dilan karya “Pidi Baiq” yang baru keluar, yaitu “Milea”. Karena ku tahu dia juga tertarik dalam dunia Karya sastra berbentuk novel , maka ku berniat “Pre-Order” Novel tersebut.

2 buah novel tersebut ditangan ku , karena tidak tau Nomor ponsel nya dan alamat rumah nya dimana, lalu ku membuat sebuah alasan akan mengirim novel tersebut lewat salah satu jasa ekspedisi, sebenarnya itu hanya salah satu trik untuk mendapatkan Nomor ponsel dan Alamat nya dengan cara yang elegan. Sehingga kesannya dia sendiri yang memberi tanpa di pinta.

Percakapan itu ku lakukan lewat salah satu Medium sosial media , bahwa aku akan memberikan dia Novel Milea tersebut, dan mengirimnya dari luar kota. Nomor ponsel dan Alamat sudah ku genggam, akhirnya terlintas ide akan memberikan nya langsung ke rumahnya, tanpa memberi tahu dia sedikitpun.

Tepat 2 minggu setelah PO, novel itu datang, sebenarnya ku sudah berada di kota kelahiran ku sekitar 5 hari tanpa dia tahu, dan novel itu sampai pada saat hari dimana senja nya saya harus ke bandara. Setelah satu hari sebelumnya mencari rumahnya dimana, keliling tersesat , akhirnya ketemu. Mentari muncul perlahan tanda hari yang baru datang, aku menuju ke rumahnya membawa novel itu. Tepat setelah sampai di depan rumahnya , ku menulis lewat sebuah medium yang bisa mengirimkan pesan dan bilang kepadanya “sudah di depan rumah”, tiba — tiba dia kaget seketika, tapi sayangnya pada saat itu dia lagi tidak ada di rumah. Terpaksa ku titipkan kepada salah satu orang yang ada di rumah nya , bilang dari “Alif”.

Berpesan lewat sebuah medium yang bisa mengirimkan pesan , dia bilang Terima kasih , pada saat itu juga aku mengucapkan pamitan karena harus berangkat lagi ke luar kota, itu sudah cukup bagiku biarpun tidak sempat bertatap muka, akhirnya bisa berkomunikasi biarpun tidak sempat bertemu.

Senja menjadi saksi pada saat sejarah itu tercipta.

Bumi , 5 September 2016

Di hari dimana dia menerima Novel tersebut

Continue — — — — Vol.2

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.