Alif Fauzan
Aug 31, 2018 · 2 min read

Merantau

Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu. Berpergianlah. Maka ada lima keuatamaan untukmu. Melipur duka dan memulai hidup baru. Memperkaya budi, pergaulan yang terpuji dan meluaskan ilmu.

- Imam Syafi'i

Sekitar 1200 tahun yang lalu beliau menulis kata-kata tersebut. Zaman dimana semua menjadi keterbatasan, termasuk transportasi. Mereka tidak pernah berharap kereta, mobil, atau pesawat. Yang mereka miliki hanya unta, kedelai dan kuda.

Zaman yang mungkin dikatakan kesusahan justru berkah bagi mereka. Berbanding terbalik dengan sekarang dimana kemudahan mungkin adalah azab.

Ditengah kesulitan materi dan teknologi, diantara puluhan hari perjalanan untuk pindah satu kota ke kota lain. Beliau justru mengecap setidaknya lima keutamaan merantau.

Disaat kita sedang dirundung duka yang tak kunjung selesai, perjalanan dan waktu meramu obat mujarab untuk menghilangkannya dan memulai lembaran baru.

Perjalanan jauh juga membuka mata kita bahwa tak selamanya emas di negeri orang lebih baim dibanding hujan batu di negeri sendiri.

Pandangan kita tentang sesuatu akan meluas. Terpaksa meninggalkan hal yang nyaman dan benar bagi kita justru membuat kita melihat perspektif segar dari tempat lain.

Merantau juga bukan hanya masalah berpindah fisik dari A ke B untuk mencari rizki. Merantau memperkaya budi dan peradaban kita, apalagi ilmu kita. Maka merantau akan terasa kurang jika tidak diselingi dengan adab dan ilmu yang baru.

Dia juga identik dengan keberanian, dimana kita akan berjuang dengan "Ketidakpastian" yang banyak membuat manusia berhenti melangkah maju. Oleh karena itu sungguh aku iri kepada mereka yang merantau jauh-jauh sedangkan aku hanya terkukung Bandung-Jatinangor saja...

Bandung, 31 Agustus 2018-20 Dzulhijjah 1439 H

#1TahunMenulis
#1TM13

Note: Hari ini terdapat 2 tulisan berjudul "Merantau" dan "Pahlawan Sekeliling Kita" Hal ini karena kemarin 30 Agustus saya tidak sempat menulis karena terlalu lelah dengan penerimaan mahasiswa baru. Terima kasih :).

--------------------------

1 Tahun Menulis adalah proyek yang saya gagas sendiri sebagai sumbangsih untuk manusia. Proyek ini membutuhkan beberapa kali kata 'Nanti' sebelum akhirnya aku masa bodoh dan nekat melakukan ini. Proyek ini memaksamu untuk menulis minimal 1 halaman word setiap hari selama 1 tahun dengan harapan membiasakan untuk menulis dan membaca. Berat ? Memang, Tapi disetiap hal yang berat pasti ada hikmah yang bisa kita ambil kelak. Tunggu apa lagi ? Lakukan saja, jangan banyak kata nanti atau kau akan menyesal sepertiku.

Silahkan kawan-kawan bebas berbagi, menyukai atau memberi kritik. Tapi mohon jangan terpaksa ikutilah kata hati. Bagikan jika kawan-kawan memang ingin orang lain mengetahui. Sukai bila menurut kawan-kawan bermutu. Dan beri komentar sekaligus saran bila kawan ingin membantu.

Alif Fauzan

Written by

A Young Geophysics, A Student of Nature, INFP, Try Hard To Be A Writer.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade