‘Kita' adalah kebetulan yang terbawa nyaman dan main-main yang terbawa perasaan.

Bandung, 26 Juli 2017

12.42 wib

*****

Tentang dia yang berusaha ku lupakan pada tulisan 16 April lalu.

Tentang dia yang spesial pada masanya.

Tentang dia yang memberiku pelajaran perihal menyayangi orang yang salah.

Tentang dia yang pernah buatku menunggu.

Terimakasih, sekarang aku sadar.

Aku sadar kalau nunggu kamu cuma menjadi caraku menyakiti hati sendiri.

Aku sadar, pasti ada atau mungkin banyak, orang yang jauh lebih baik dari kamu.

Akupun sadar, mungkin, berhenti menunggumu dan memulai hari-hari baru dengan hati yang lebih bahagia tanpa memikirkanmu, adalah solusinya.

— — — —

Jika hari ini aku menghubungimu, aku tak dapat memastikan aku akan baik-baik saja, karena yang ku ketahui, ini sering terjadi karena kelemahan yang ku miliki. Bahwa aku akan semakin jatuh terperosok ke dalam sumur pengharapan padamu, merasakan pengap dalam kegelapan, menanti balasan pesan darimu yang tak kunjung datang, menunggu dengan sesak yang membelenggu.

Kau membuatku memikirkanmu tanpa memaksa, setiap menit berlalu, aku selalu menerka apa yang sedang kau lakukan, sesibuk itukah? hingga tak mampu membalas satu pesanpun.

Kau menyiksaku tanpa merasa, hilangmu yang tak pernah ku mengerti, menjadi alasan aku terkapar tak berdaya, menjadikan setiap malam menjadi semakin terasa kelam.

Tapi, jika hari ini aku mampu untuk tidak menghubungimu, kuharap, esok hari perasaan tidak menentu ini akan segera pulih.

Aku mulai berhenti menanti ada pesan masuk darimu, berhenti menjadi penyusup yang mencari tahu kegiatan terbaru tentangmu, karena untuk apa, jika aku mengetahui segala kegiatan baru tentangmu, namun tak ada senyum di raut wajahku, seperti dulu.

Maka kini, aku mencoba kembali menata hati yang hampir hilang kendali, kuharap demikian, mampu untuk tidak menghubungimu hari ini saja, dan esok hari, aku mencoba kembali untuk tidak menghubungimu satu hari saja, hingga lusa, aku kembali mencoba untuk tidak menghubungimu satu hari saja, dan berlanjut untuk selamanya.

— dan segala hal baru tentangmu yang ku ketahui, dapat kusikapi dengan bijaksana, tanpa sendu dan air mata.

— — — —

Buat kamu, yang pernah penuh arti di bulan Septemberku, yang ada dalam diriku kini tinggallah kenangan, di sanalah kamu selalu.

Jangan muncul lagi di hadapanku, bisa kan? Semoga aja, ya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.