Halo, medium? Senang bisa mengetahui keberadaanmu.

Bandung, 12 April 2017

02.25 AM

*****

Untuk kesekian kalinya, sulit tidur hingga pagi buta membuatku menderita kelelahan. Rasanya aku tak sedang memikirkan apapun, hanya ingin menikmati malam dan kesunyiannya. Ya, inilah aku—si anak perempuan yang mencintai sepi.

— — — —

Sedikit bercerita tentang aku sejak dulu hingga kini.

Umurku hari ini 18 tahun 4 bulan 23 hari. Sejak kecil, aku bukan tipikal orang yang mempunyai ‘geng' disekolah ataupun dirumah. Dimanapun keberadaanku, disana hanya ada aku dan duniaku. Terus saja begitu hingga masuk SMA 19 Bandung, disana aku belajar memulai alur hidup yang baru. Pilihanku saat 2013 lalu adalah bergabung dengan Distorsi Percussion, sebuah ekskul perkusi disekolah yang aku anggap paling mencuri perhatianku saat demo ekskul dihadapan pada murid kelas 10.

Dapat banyak teman angkatan, kenal dengan banyak alumni dan pelatih, senang rasanya.

Perlahan, intensitas perjumpaanku dengan sepi semakin jarang. Hampir setiap hari mulai dari pagi menuju sore, kuhabiskan waktu diluar rumah.

Dari ekskul ini aku temukan dua orang teman rasa saudara, Diva dan Sagita. Diva adalah temanku di TK dan SD, kebetulan jumpa lagi di SMA. Sagita memang belum lama kukenal, tapi selalu ada saat susah dan senang. Ya, teman dekatku hanya ada dua. Teman yang lain terutama teman kelas, bagiku sebatas tempat bersosialisasi saja dan tidak lebih. Kalau dipikir-pikir lagi, betapa sulitnya aku ini untuk terbuka pada orang lain, hahaha.

Setelah 3 tahun berlalu, aku menemukan bahwa fakta ekskul ini bukan sedekar kumpulan orang yang senang bermain stik. Entah yang sebagai alumni, pengurus, dan anggotanya sudah aku anggap seperti keluarga.

Mulai kuliah dan menjadi mahasiswa tingkat awal di Fikom Unisba awalnya aku merasa kosong. Jelaslah kosong, karena aku telah mengalami kegagalan besar untuk diterima jurusan Humas Unpad. Waktu dibagi kelas ternyata aku masuk kelas E, ada tiga orang yang merupakan teman dari SMA yang sama. Hm, tapi ya tetap saja aku butuh menyesuaikan diri dengan warga kelas yang lain.

Sayangnya, nasib lamaku terulang dimana aku tidak dapat menemukan ‘geng' yang dirasa cocok untuk diajak jalan kemanapun bersama-sama. Namun bukan berarti aku menjadi orang yang selalu sendiri. Interaksi dengan teman kelas selalu ada, meskipun kadang hanya seperlunya saja.

Oh ya, aku ini anak yang ga mau ketinggalan info. Bisa dibilang aku adalah anak perempuan yang jago stalking tentang sesuatu apapun itu.

Saat berpikir untuk mengenal unisba lebih jauh, aku mencari segala hal tentang kampus baruku ini melalui instagram dan browser. Isenglah jariku dengan lincahnya mencari info tentang LKM dan UKM yang aku anggap sebagai ekskul-nya mahasiswa. Cukup banyak yang sedang melakukan open recruitment anggota baru. Seru juga kalau gabung dengan salah satunya, pikirku.

Setelah dengan malasnya melalui rangkaian pembinaan mahasiswa baru. Disuatu hari saat sore, selesai kelas niatnya sih ingin langsung pulang.. Namun dengan cueknya langkah kaki membawaku ke deretan meja open recruitment di daerah aquarium. Dengan menarik lengan seorang teman, aku mengajaknya daftar Pers Kampus. Sayang sekali temanku lebih pilih Paduan Suara Mahasiswa (ya, awalnya akupun sempat terpikir untuk ikut. berhubung hobi terselubungku adalah nyanyi-nyanyi sumbang di dalam kamar.)

Ah walau kami tak satu suara, tanganku tetap yakin untuk mengisi formulir pendaftaran pers kampus ini. Alasan sederhana kenapa aku bergabung sebenarnya karena sejak lama senang menuangkan keluh kesah dalam tulisan, aku juga menyukai sastra, puisi, dan sejenisnya. (sempat terpikir masuk jurusan sastra Indonesia, namun banyak dikomentari orang tua, tak kesampaian lah pada akhirnya.)

Pada pertemuan awal dengan semua calon anggota pers, sungguh aku tidak mengenal barangkali seorangpun diantara mereka. Ya, tak kenal maka kenalan—itulah yang kulakukan. Sebenarnya banyak godaan untuk berhenti. Dari awalnya ikut diklat, liputan magang, nulis sms, pelantikan, hingga sekarang projek majalah, setiap malam selalu ku tanya pada diriku sendiri, “bisa-bisanya Del, kamu betah hingga sejauh ini? disaat temen yg lain banyak yg mundur hanya karena sebuah lelah.”

Ah tak tau lah. Bagi aku pribadi, capek adalah proses, suatu proses yang nantinya akan membuahkan hasil, mungkin bukan saat kuliah tapi malah saat sudah bergelar sarjana? Ya, lets see..

Alasan lain kenapa aku betah bukan hanya ilmunya, tapi teman-teman angkatanku. Sisa kami memang tak banyak, hanya 13 tapi aku sayang mereka sepenuhnya.

Lagi-lagi hal serupa seperti saat SMA, lebih akrab dengan teman organisasi dibandingkan dikelas, kenapa ya? Aku sendiri pun tidak bisa menjawab.

Panjang juga ceritaku ini, tanpa sadar sekarang setengah 3 pagi.


Ketika hanya ada aku, malam, dan amparan sajadah—saat itulah ku panjatkan nama orang-orang terkasih didalam doa. Karena aku percaya, doa adalah kekuatan kasih sayang yang paling tulus.

Tenang rasanya saat bisa menghabiskan waktu untuk bercerita hanya bersama sepi. Sebelum matahari menyinari bumi, pertanda aku harus kembali pada hiruk pikuk keramaian duniawi.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated del.’s story.