Cinta Pertama

Alif A. Putra
Sep 2, 2018 · 3 min read

Teringat pada suatu saat, ketika saya atau pun kamu yang pernah mengalami jatuh cinta pertama kali, mungkin pada saat masih anak-anak yang biasa juga disebut cinta monyet atau bisa saja saat sudah beranjak dewasa. Saya mengalami hal itu saat masih anak-anak, mulanya saya hanya senang melihat salah satu teman saya. Dia memiliki wajah yang sulit saya lupakan saat itu — entah bagaimana wajahnya sekarang saat sudah dewasa. Tetapi setidaknya wajah anak-anaknya masih terekam dengan baik di ingatan saya.

Waktu itu — ketika masih anak-anak. Saat saya memandang wajahnya atau mencuri pandang kepadanya, jantung saya tiba-tiba berdegup sangat kencang. Wajah saya tak henti tersenyum melihatnya, pipi saya menyembul dan tentu saja wajah saya akan seperti kepiting rebus. Memandangnya meski hanya satu-dua detik pun dalam suatu kesempatan tapi itu sudah cukup membuat saya bahagia. Apakah itu yang namanya cinta? Apakah saya telah jatuh cinta kali pertama? Atau apakah saya hanya sekadar suka terhadap teman masa kecil saya itu? Entahlah.

Jelasnya, pertanyaan terpenting adalah bagaimana cinta ini — perasaan ini tumbuh dan bertahan?

Ada pula pepatah yang mengatakan, “Setiap pertemuan pasti ada perpisahan,” benar adanya. Pada caturwulan kedua sekolah dasar kelas satu, perempuan itu — teman saya yang wajahnya masih saya ingat — teman masa kecil saya pindah ke ibukota negara. Sebuah perayaan kecil-kecilan diadakan di kelas — berjabat tangan sebagai salam perpisahan. Saat itu, saya hanya bisa sedih. Ternyata cinta pertama itu tidak bertahan lama, saya hanya menyukainya. Tidak sampai mencintainya sebab entah kenapa saya merelakannya untuk pindah meskipun segala upaya telah saya lakukan termasuk mencari nomor telepon rumahnya di buku telepon. Tetapi saya hanya merasa kehilangan dalam beberapa hari.

Setelah itu, saya kembali menjadi diri saya sendiri. Menikmati masa anak-anak: bermain, berkelahi, mengeja, menghitung, berdoa, dan menyanyi. Saya telah lupa bahwa saya ada seseorang yang pernah saya cinta, pernah saya suka di kelas ini walau saya pada saat itu tidak tahu menahu tentang rasa cinta atau rasa suka. Jelasnya, perempuan itu pernah membuat saya tersenyum dalam beberapa detik saat memandangnya.

Bagaimana denganmu? Pernahkah kalian mencoba mengingat-ingat kembali saat kalian jatuh cinta atau merasakan suka kepada seseorang saat pertama kali? Apa yang kalian rasakan? Lalu, bagaimana rasanya kehilangan seseorang itu? Hanya diri kalian yang bisa menjawabnya, coba tanyakan ke hati kita masing-masing.

Jatuh cinta dibagi atas dua suku kata: jatuh dan cinta. Jatuh memiliki sepuluh arti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V, salah satunya adalah (3) sampai ke …; tiba di …; kena pada …; tembus ke …; ditujukan ke:

Meskipun pengertian dasarnya adalah (terlepas dan) turun atau meluncur ke bawah dengan cepat karena gravitasi bumi (baik ketika masih gerakan turun maupun sesudah sampai ke tanah dan sebagainya). Sedangkan cinta adalah suka sekali; sayang benar: (2) kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan): (3) ingin sekali; berharap sekali; rindu: (4) susah hati (khawatir); risau: Tetapi yang paling membuat saya risau adalah pengertian “jatuh cinta” secara keseluruhan katanya yang berarti menaruh cinta kepada.

Sudah ada beberapa pengertian dasar tentang jatuh dan cinta termasuk jatuh cinta. Tapi itu semua tidak membuat saya menerima bahwa cinta itu benar-benar jatuh. Ungkapan bahwa “Dari mata turun ke hati” adalah ungkapan yang menggambarkan bagaimana cara cinta itu jatuh.

Tapi pertanyaan saya tetap adalah bagaimana cinta itu tumbuh?

Cinta bukan saja perasaan “menaruh cinta kepada” lawan jenis tetapi bisa juga kepada hal-hal yang membuat kalian atau kita merasa bahagia. Kita harus bisa membedakan antara cinta dalam bentuk perasaan atau cinta hanya sebatas pada kekaguman saja. Saya sering mengalami perasaan seperti ini yaitu sulit membedakan antara saat saya benar-benar jatuh cinta atau saat saya benar-benar kagum kepada perempuan. Seperti yang saya utarakan pada bagian awal tulisan ini, cinta dan suka itu sulit dibedakan. Saya sering menemui orang yang berkata bahwa saya mencintai pasangan saya sampai saya sulit untuk melepaskannya. Lalu, saya memberikan timbal-balik yaitu apakah kau benar-benar mencintai pasanganmu atau hanya sekadar suka?

Cinta tidak akan pernah membuat manusia sengsara, justru sebaliknya, cinta membuat manusia bahagia. Manusia akan rela melakukan apa pun untuk orang yang dia cintai merasa bahagia pun demikian dengan dirinya. Tetapi sebaliknya, jika seseorang menyukai pasangannya justru hanya akan melakukan hal-hal yang membuat dirinya bahagia saja, tidak memikirkan perasaan pasangannya. Demikianlah cinta dan suka bekerja pada seorang manusia.

Kembali ke cinta pertama. Cinta pertama bukan hanya sekadar cinta yang kita alami pertama kali, namun setiap kali kita merasakan cinta atau bahagia kepada pasangan kita sekarang. Itulah yang dinamakan cinta pertama — cinta atau perasaan yang pertama kali kita rasakan. Selain itu, persiapkan dirimu untuk menghadapi kenyataan akan sebuah pertemuan yaitu perpisahan. Setiap cinta lahir dari sebuah pertemuan dan mati oleh setiap perpisahan.

“Jatuh cintalah dan rasakan sakitnya!” — Alif A. Putra.

    Alif A. Putra

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade