Dua Kata Multitafsir

Alif A. Putra
Sep 5, 2018 · 3 min read
Sumber gambar dari pinterest.com

Terserah dan tidak apa-apa.

Pernyataan ini sering muncul saat satu pasangan mengalami kekeliruan terhadap lawan pasangannya. Misalnya saja saat lawan pasangan kita menanyakan perihal tujuan yang hendak kita tuju, atau yang paling sering adalah saat mau makan apa, hal atau jawaban yang seringkali dilontarkan oleh lawan pasangan — terutama perempuan saat mereka memasuki masa-masa sulit untuk-ditebak-kemauannya adalah terserah. Hal yang dianggap sepele dan bisa berakibat besar bagi hubungan karena akan menimbulkan perdebatan — terserah!

Jawaban yang diterima pun hampir sama, yaitu terserah. Seakan semua pertanyaan klasik saat bersama pasangan pun akan dijawab dengan satu kata, terserah.

Terserah adalah kata yang paling sulit ditafsirkan selain tidak apa-apa bagi sebagian atau hampir seluruh pasangan — lawan pasangan. Terserah berarti sudah diserahkan (kepada); tinggal bergantung (kepada); dan (2) masa bodoh.

Hal inilah yang sering dianggap sebagai senjata pamungkas bagi sebagian atau hampir seluruh (maaf) perempuan.

Tetapi anehnya adalah jika saat hendak bepergian ke suatu tempat dan kita — sebagai kaum laki-laki menanyakan perihal tujuan lalu dijawab dengan terserah, lantas bagaimana jika berkaitan dengan keberadaan hubungan? Bisakah hubungan yang telah dianggap serius — karena sudah mengatakan iya saat ditembak lalu saat menjalani kehidupan sebagai pasangan (baca pacaran) hanya ada kata dan jawaban terserah dan tidak apa-apa dari setiap pertanyaan?

Hmm… menjalani hubungan bukan hanya berdasarkan satu kemauan saja tetapi dalam hal ini akan ada dua kemauan dan keinginan yang harus diutamakan satu sama lain. Misalnya sebelum bepergian, tentu sebagai pasangan memiliki tujuan.

Bukankah kita memilih untuk mencari pasangan karena memiliki tujuan? Lantas jika tujuan awal telah tercapai, bagaimana dengan tujuan berikutnya? Terserah? Saya rasa tidak!

Saya sering mendapatkan teman saat ditanya hanya menjawab terserah. Saya sering bingung dengan mereka, apakah mereka sebenarnya memiliki sikap hidup atau prinsip hidup? Seolah-olah hidup ini hanya dijalani dengan masa bodoh. Menentukan tujuan adalah salah satu contoh menerapkan prinsip hidup dalam menjalani hubungan bersama pasangan, sebab jika saat menentukan tujuan dan kita sudah bisa menyebutkan nama tempat — misalnya, tentu jika saat ditanya, “Apakah kamu mau menjadi pasanganku seumur hidup?” sudah bisa dijawab tanpa berpikir lama dan tanpa ragu-ragu seandainya saja kita memiliki prinsip hidup yang kuat.

Sudah berapa kali kata terserah yang kalian ucapkan hari ini?

Jika banyak, berarti kalian telah bersikap masa bodoh dengan diri kalian sendiri, pasangan, dan terutama kepada hidup kita yang hanya ada satu kali saja. Jadi, cobalah untuk berprinsip dalam menentukan sesuatu, contoh paling kecilnya yang seperti saya sebutkan sebelumnya — tujuan.

Selain terserah, tidak apa-apa adalah kata kedua yang paling sering diucapkan saat bersama pasangan — lawan pasangan. Terlebih jika pasangan kita menunjukkan sikap yang tidak nyaman terhadap sesuatu dan kita — sebagai laki-laki tahu itu. Saat ditanya, “Kamu kenapa? Kok diam saja?” lantas jawaban yang ada pastilah, “Saya tidak apa-apa.”

Sebuah jawaban yang bisa saya pastikan akan membuat laki-laki seketika itu berniat untuk bunuh diri. Tidak apa-apa berarti tidak mengapa; tidak menjadi soal; (2) tidak ada sesuatu. Jika tidak menjadi soal atau tidak ada sesuatu, lantas bagaiman bisa terjadi perubahan sikap? Hal inilah yang biasanya membuat saya bingung atau entah apa namanya.

Menjalani hubungan terlebih tentang perasaan — cinta, tak hanya dijalani dan/atau dihadapi dengan terserah dan tidak apa-apa, tetapi yang sangat dibutuhkan adalah sikap. Sikap dalam ini bukan hanya memberikan sikap terhadap sesuatu tetapi juga dalam hal menerima sikap — saling menghargai. Selain komunikasi tentunya (akan dibahas dalam tulisan selanjutnya).

Bagaimana cara bersikap dalam menjalani hubungan dan terhadap pasangan? Jawabannya mudah — berikan sikap atau tanggapan yang sesuai (bukan terserah atau tidak apa-apa) tetapi terlebih kepada menyebutkan suatu tempat — misalnya atau mengungkapkan perasaan. Sebab, pasangan satu sama lain belum tentu saling memahami sebelum salah satu di antara mereka mengungkapkan hal-hal yang mereka butuhkan.

Hubungan dan cinta terutama hidup tidak sebaiknya dihadapi dengan keadaan masa bodoh dan (seolah-olah) tidak terjadi apa pun. Tidak ada salahnya mengungkapkan sesuatu, menyebutkan sesuatu atau hanya sekadar mengeluarkan pendapat akan sesuatu yang belum tentu bisa kita terima — bahkan sulit diterima. Toh pasangan kita juga akan mengerti tentang apa yang telah kita ungkapkan terhadap sesuatu.

Mengungkapkan adalah hal yang dibutuhkan, sebab cinta tidak akan tumbuh sebelum cinta itu diungkapkan terlebih dahulu. Perasaan tidak akan pernah menjadi perasaan sebelum perasaan itu diungkapkan. Mengungkapkan, bukan hanya bersikap bodoh atau tidak ada apa-apa. Mengungkapkan adalah salah satu cara berkomunikasi yang baik.

Bukankah komunikasi adalah salah satu sebab yang membuat kita nyaman terhadap pasangan selain perasaan?

    Alif A. Putra

    Written by

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade