Tak ada hati yang tak retak.

Rarrizi
Rarrizi
Sep 1, 2018 · 1 min read

Tatapan pertama memang selalu membuatku tidak percaya. Memang hal-hal diluar batas selalu membuat gila, apalagi hal yang bernama rasa. Ya, rasa yang dipendam begitu lama, sampai tak kuat menahan gelisah jiwa.


Awalnya saya tak pernah percaya dengan dogma yang berasas cinta. Tapi apa boleh buat, hati tak bisa dibungkam, sama seperti jiwa. Perlahan kudekati dengan upaya membentuk relasi. Banyak kemungkinan yang mungkin ada tapi itu semua kulawan demi asumsi berirama bersama. Ego pun tak bisa ditahan lebih lama. Setelah bercengkrama, ternyata semua tak sesuai dengan rencana. Realita terkadang lebih pahit daripada angan kita. Impian yang digalang ternyata menjadi fiksi belaka.

Satu hal yang kurasa,lara. Bukannya bahagia yang dikejar, lara malah hadir di depan mata. Tak apa fin namanya juga usaha, begitu kata mereka. Satu hal yang kupegang teguh, segalanya pasti sembuh. Entah itu raga ataupun jiwa. Membuka hati serta melepas ego adalah hal tersulit dari perjalanan kali ini. Merelekan sesuatu yang pergi dan tak dimiliki. Tapi bukan lah hidup jika tak ada duka. Bukanlah bahagia jika tidak didahului dengan lara. Satu pesanku jika kau membaca ini, terima kasih.

    Rarrizi

    Written by

    Rarrizi

    Sayang ibu. Dan mungkin kamu.