Mimpi Mimpi Kita

Nasib baik mimpi-mimpi kita waktu tidur luput dari sensor penguasa, puan. Ketidakjelasan serta harapan-harapan kita yang amburadul membuat mimpi kita seakan tidak layak tayang — tepatnya kurang diminati, di mata mereka. Mereka menyorot khutbah di masjid, meneropong bunyi mulut mubaligh, menyeret ayat-ayat kauniyah, bahkan kibasan sarung santri-santri membelah sepertiga malam pun disadapnya pula."

"Kenapa tidak sekalian mimpi-mimpi kita?"

"Suatu saat, barangkali, iya. Kita lihat saja nanti. Tatkala mimpi-mimpi menjadi buruan, di"keker"nya ia dengan "teleskop", lantas dijeratnya menggunakan tali-temali yang entah terbuat dari apa sehingga mimpi-mimpi kita dapat diterkamnya juga, dengan tangan-tangan penuh ambisi, kemudian dipilah-pilih seenak nafsu mereka, dialihfungsikan penafsirannya sesuai kepentingan sepihak."

"Tapi itu kan mimpi kita. Hak kita. Kenapa sebegitu liarnya mereka merenggut hak-hak yang bukan milik mereka. bahh!"

"Wkwkw.. makanya jangan mimpi terlalu tinggi. Jabatan, kekayaan, kemakmuran. Itu semua milik mereka. Para Pemuka yang telah buta dengan kekuasaan. Setidaknya mereka menganggap seperti itu. Rakyat kecil macam kita cukup tidur dengan impian yang biasa saja, saling berpelukan satu sama lain. Menguatkan genggaman yang ada, agar tak terlepas sampai fajar baru tiba."

"Aku masih ingin bermimpi, tuan, kalau boleh."

"Yasudah. Bermimpilah sepuasmu, puan. Selagi ada kesempatan untuk bermimipi. Bila tak kau temukan cahaya nan terang esok pagi, maka genapilah tidurmu untuk malam selanjutnya. Barangkali cahayamu masih juga terlelap. Bersamaan dengan mimpi-mimpimu yang tak pernah tahu batas ujungnya."

"Bismikallahumma Nahya wa Namut.."

Fuah, Mukalla
@alif_lmpng