Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

Kata-kata yang menjadi judul dari tulisan ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Kalimat tersebut seringkali diserukan ketika mahasiswa melakukan ‘aksi’. Biasanya akan ada seorang danlap atau siapapun itu yang terlebih dahulu menyuarakan kalimat tersebut, lalu yang lainnya mengikuti danlap tersebut dengan suara yang lantang pula.

Saya sendiri pertama kali diperkenalkan dengan kalimat tersebut ketika mengikuti pelatihan untuk magang di Kabinet KM ITB hampir 2 tahun lalu. Peserta pelatihan tersebut disuruh untuk mengulang kalimat tersebut yang diserukan oleh seseorang.

Tidak masalah menurut saya waktu itu. Tidak ada masalah sama sekali dalam menyerukan kalimat tersebut. Karena kalimat tersebut menurut saya bagus dan saat menyerukan kalimat tersebut orang-orang menjadi lebih bersemangat. Ya layaknya jargon biasa yang memiliki fungsi pembakar semangat.

Tapi, saya mulai mempertanyakan hal ini. Setelah beberapa waktu lalu saya membantu teman saya untuk membuat teks orasi yang di dalamnya terdapat kalimat ini, saya jadi penasaran: Apa sih makna kalimat tersebut?

Sejak pertama kali saya diperkenalkan dengan kalimat tersebut sampai melihat orang-orang yang menyuarakan kalimat tersebut saat melakukan aksi, apakah kita tau makna dari kalimat yang kita ucapkan? Jika memang hanya sebagai pembakar semangat, mengapa harus kalimat itu?

Jadi, setelah membaca dari berbagai sumber di internet, kesimpulan saya satu: Kalimat tersebut dapat dimaknai berbeda-beda oleh setiap orang. Hal tersebut saya simpulkan karena tidak ada dua website berbeda yang menuliskan makna yang sama untuk kalimat tersebut. Dari situ saya sadar bahwa makna kalimat tersebut tidak didikte oleh kakak tingkat saya karena saya harus memaknai kalimat tersebut sendiri. Jadi, berikut cara saya memaknai kalimat tersebut.

Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

Saya memaknai kalimat tersebut sebagai kalimat sebab-akibat. Hidup Mahasiswa -> Hidup Rakyat Indonesia. Mahasiswa yang hidup akan berimbas pada Rakyat Indonesia yang hidup pula.

Mengapa sih bisa begitu?

Hal sederhana yang membuat saya memberi makna seperti itu ialah karena mahasiswa memiliki peran sebagai agent of change (agen perubahan), social control (kontrol sosial), dan iron stock (pengganti generasi sebelumnya). Jika ketiga peran tersebut terlaksana dengan baik, maka rakyat Indonesia akan semakin ‘hidup’ (atau dalam hal ini berarti punya kehidupan yang lebih baik). Peran-peran tersebut tentunya baru bisa terpenuhi jika mahasiswanya juga hidup.

Lalu seperti apakah mahasiswa yang hidup itu? Apakah yang terus menerus melakukan aktivitas di kepanitiaan, himpunan, unit, atau sebagainya? Yang terus menerus melakukan kajian? Yang terus menerus melakukan aksi? Atau malah yang terus menerus melakukan hal yang katanya kewajiban utama seorang mahasiswa, yaitu belajar?

Tanpa harus disebutkan lagi juga sebenarnya yang membaca ini pasti sudah tau arah tulisan ini. Tapi ya kan tujuan nulis ini buat nyurahin pikiran, bukan buat dibaca, jadi yaudah saya tulis.

Tentu saja semuanya salah. Tentu saja bukan orang yang terus-terusan melakukan kegiatan non-akademik ataupun akademik saja lah yang dalam konteks tulisan ini dapat disebut sebagai mahasiswa yang hidup. Kedua hal itulah, akademik dan non-akademik, yang jika dilakukan dengan porsi yang tepat, dapat mengubah seorang mahasiswa biasa menjadi seorang mahasiswa yang hidup. Mahasiswa hidup yang dapat menghidupkan rakyat Indonesia.

Percayalah, peran-peran mahasiswa tersebut tidak akan bisa kita capai jika kita hanya terus berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan non-akademik sambil mengesampingkan kegiatan akademik, begitu pula sebaliknya.

Kita hanya akan menjadi agen perubahan yang tidak tau mau berubah dengan cara apa, atau minimal secara spesifik ke arah mana, jika kita tidak belajar, tidak jelas dasar pola pikir dan basis keilmuannya. Kita juga hanya akan menjadi agen perubahan bagi diri kita sendiri jika kita hanya berakademisi tanpa belajar berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain.

Kita hanya akan pengontrol sosial yang mengkritik tanpa solusi jika kita tidak belajar, tidak jelas dasar pola pikir dan basis keilmuannya. Kita juga hanya akan menjadi ‘pengontrol sosial’ yang asal menawarkan berbagai hal yang kita anggap sebagai solusi jika kita hanya berakademisi terus tanpa tahu apa akar permasalahan yang dihadapi rakyat Indonesia

Kita hanya akan menjadi penerus generasi bangsa, PENERUS yang berarti meneruskan yang baik tapi yang buruknya juga diteruskan jika kita tidak menyeimbangkan jiwa sosial dengan pola berpikir kita.

Wahai kalian yang sibuk berkegiatan sambil mengatai orang-orang yang tidak ikut berkegiatan bersama kalian sebagai orang yang ‘apatis’. Wahai kalian yang sibuk belajar sambil mengatai orang-orang yang sibuk itu melupakan kewajiban utamanya sebagai seorang mahasiswa. Yuk sama-sama merefleksi diri. Yuk kita saling mengingatkan satu sama lain untuk membagi porsi akademik dan non-akademik lebih baik lagi. Yuk kita jadi mahasiswa yang hidup seutuhnya.

Dan wahai kalian yang sudah menjadi mahasiswa hidup, saya tahu bayaran di luar negeri sana bisa lebih besar dan karya kalian dihargai lebih kecil di sini. Tapi ada Tuhan yang akan membalas kebaikan hambanya dengan cara yang bisa jadi lebih elegan, kan? Tolong jangan lupakan ada ratusan juta rakyat Indonesia yang menunggu untuk dihidupkan oleh kalian.

Referensi:

- Fathoni, Ahmad. 2011. “Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia”. Doa Yang Sudah Terkabulkan?. http://geologipiece.blogspot.co.id/2011/10/hidup-mahasiswa-hidup-rakyat-indonesia.html. Diakses pada 28 Mei 2017.

- Fuzna, Giska. 2015. Makna Hidup Mahasiswa! dan Hidup Rakyat Indonesia serta Pergerakan Mahasiswa Sebelum dan Sesudah Tahun 1998. http://chikagiska.blogspot.co.id/2015/05/makna-hidup-mahasiswa-dan-hidup-rakyat.html. Diakses pada 28 Mei 2017.

- Khairunisa, Shafira. 2016. Esensi Hidup Mahasiswa. https://tankmipaunj.wordpress.com/2016/04/19/esensi-hidup-mahasiswa/. Diakses pada 28 Mei 2017.

- Ri’pi, Gustian. 2013. Peran Mahasiswa (Agent of Change, Social Control, Iron Stock). http://www.gusti8official.org/2013/09/kritikan-terhadap-pemimpin-bangsa.html. Diakses pada 28 Mei 2017.

- Widiyatmoko, Andang. 2015. Hidup Mahasiswa, Hidup Mahasiswa Indonesia, Hidup Rakyat Indonesia?. http://www.kompasiana.com/andangwidiyatmoko/hidup-mahasiswa-hidup-mahasiswa-indonesia-hidup-rakyat-indonesia_54f8bde3a33311b9188b47b4. Diakses pada 28 Mei 2017.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.