Mengejar.
Aku suka berbicara soal mimpi. Aku Aliifa. Aku nggak tau aku bilang ini berapa kali tapi aku masih bermimpi untuk lolos SBMPTN SAPPK ITB 2016.
Awal cerita bermimpi masuk itb.
Jadi aku memang sebenernya udah lama udah ngidam itb. Tapi dulu, aku UI garis keras karena jaman kelas 11 I suck at science. I do. Aku selalu dapet ranking paling bawah. Bukan 15 besar atau 10 besar, tapi 25 besar. Paham kan seberapa parahnya aku dulu?
Here’s the thing. Waktu itu aku cumaa bisa bermimpi. Belum usaha apa apa. aku dulu cuma suka itb gara gara nonton video oskm tapi cuma sebatas “Keren banget ospeknya”.
Oke itu cerita jaman kelas 11 dimana jaman jaman aku pengen masuk komunikasi UI.
Gimana waktu awal awal pengen banget ITB?
Jadi waktu itu ada alumni sekolah aku yang sekarang jadi mahasiswa di itb. They call themselves ASPEG (Alumni SMA Pekalongan Ganesha). Mereka ngadain sosialisasi di sekolah aku. Jadi waktu itu aku sempet nggak mau ikut karena aku udah bulat dengan keputusanku mau masuk komunikasi UI.
Jadi ada satu jurusan yang buat aku tertarik, bener bener tertarik. Namanya Teknik Planologi. Waktu alumni ngejelasin apa itu teknik planologi aku mulai penasaran. Ada alumni sekolah aku yang Teknik Planologi juga, aku contact-an sama dia dan tanya tanya banyak hal tentang plano and GOD IT IS AWESOME. Planologi itu buat kalian yang ngga tau, itu Urban Planning. Menata kota, infrastruktur, fasilitas, transportasi, perekonomian, pengairan, blabliblu. Intinya, ITU KEREN. Aku mulai semangat sampai rumah aku tanya tanya sama bapak dan Bapak setuju, Ibu setuju and everything seems wonderful.
Aku mulai bercita cita masuk ITB. Ada satu acara motivasi di sekolah aku namanya CYOF (Create Your Own Future). Kita menuliskan semua mimpi mimpi kita dalam satu kertas, dan aku dapat kesempatan untuk maju dan membacanya keras keras. Tapi cuma satu hal yang perlu di highlight.
“Nama saya Aliifa Andita Taufan, dan saya bermimpi menjadi Insinyur Planologi lulusan Institut Teknologi Bandung.”
Di saat itu juga, aku bulat dengan mimpiku. Aku akan Kuliah di Institut Teknologi Bandung.
SNMPTN.
Kalau ini bukan bagian dari perjuangan sih, tapi aku ceritain aja. Kalan pasti ngira aku SNMPTN ambil SAPPK ITB. The truth is, I didn’t.
So here’s how it goes. Waktu itu aku pusing banget milih antara Brawijaya atau ITB. Singkat cerita, aku shalat Istikharah, aku mimpi Brawijaya, aku pilih Brawijaya. That’s it.
Move on pas pengumuman snmptn, aku nggak lolos. Gak ada lagi yang bisa aku lakukan selain stay positive. Oke, berarti brawijaya bukanlah yang terbaik untuk saat itu.
Flashback lagi.
Setelah UN usai, aku mulai cabut ke Bandung buat ikut bimbel yang disaranin sama Alumni 2015 sekolahku. Tiap hari rutinitasku sama. Bangun jam 3, Shalat Malam (Percayalah kadang suka bolong), belajar sampai jam set 11, mandi, berangkat les, pulang jam 6 cari makan, sampai rumah belajar lagi sampe sekuatnya.
Itu rutinitasku sampai H-7 SBMPTN.
Kalian kira perjuanganku datar datar aja? Oke gini, aku rela aja sih ngga ikut prom sama wisuda. Beneran rela abis. Itu bukan suatu masalah besar buat aku.
Jadi passing grade itb saat ini adalah 58%. Selama di les dapet angka 40 sekian persen aja susah. Jadi aku desperate banget setelah aku tahu Tryout terakhirku di bimbel cuma 36% Disitu aku hopeless, ngerasa nggak ada cara lain sedangkan itu sudah H-7 SBMPTN. Aku ngga tau harus gimana lagi. Berdoa terus minta tolong supaya Allah kasih jalan. Hopeless banget. Udah ngga ada lagi harapan untuk lolos SAPPK ITB.
Aku ikut bimbel segala macem, aku bener bener hopeless banget. Dicoba ini itu, cari buku baru sana sini karena aku sadar saat itu aku kurang variasi soal karena aku cuma punya buku dari bimbel aku (tenang aja buku itu udah abis kok)
Oke mulai saat itu, aku back on track. Kerjain segala macem variasi soal bla bli blu banyak banget intinya, masih ada HARAPAN. Aku nongkrong di Eduplex dari pagi sampe malem ditemenin soal saoal sama lagu Indie. (Si kambing sok banget)
SBMPTN
Waktu hari H SBMPTN, aku telat bangun. Aku bangun sekitar jam set 6 pagi langsung mandi kilat siap siap dan akhirnya sampai di tempat tes, kerjain, pulang. Udah gitu aja.
Rencana ancur. Tadinya matdas mau dikerjain semua tapi aku cuma kerjain 5 gara gara soal tkpa model baru yang ngeselin banget. Aku hopeless. Pasrah, nggak tahu mau gimana lagi, udah bingung mau ngapain selain berdoa. Aku rela ikut SBMPTN lagi tahun depan, tapi semoga Allah kasih kesempatan supaya bisa lolos tahun ini.
Aku udah gak tau lagi gimana kelanjutan cerita ini. Semua Allah yang menentukan. Kita sudah usaha dan berdoa. Kalau Allah mengizinkan aku untuk menginjak kembali Kampus Ganesha tahun ini, akan kulakukan nazarku.
Kalian bisa bilang aku pesimis. Tapi percayalah, pesimisme itu penting karena itu menunjukkan bahwa kita merasa kurang. Itu sangat membantu untuk mewujudkan apa yang sebenarnya kita perjuangkan.
Orang tua kita yang sudah mengalungkan doa dan harapan kepada kita. Saatnya untuk timbal balik.
Man Jadda, Wa Jadda.
Terima kasih sudah membaca, Semoga teman teman seperjuangan SBMPTN 2016 mendapat kabar baik di tanggal 28 Juni. Semoga Allah memberikan yang terbaik.