Iklas itu di Hati, Pamrih Juga.

Ilustrasi diambil dari https://www.renungankristiani.com/ketakutan-memberi/
Sebenarnya ketika orang melakukan kebaikan, kemungkinan besar hatinya sudah merasa bahagia. Bahkan ada orang yang sumber kebahagiaannya adalah dari kebaikan-kebaikannya. Bahkan mungkin dia tidak peduli jika dia harus kesusahan sekalipun mati. Sama halnya dengan orang yang “truly evil”, tentunya orang-orang seperti ini hanya sedikit diantara orang-orang yang normal seperti kita. Ya, itu bagian manisnya, sekarang kita tengok diri sendiri.
Tentunya ada banyak alasan mengapa diri sendiri sangat sering tak acuh pada kebaikan dan selalu terhalang untuk berbuat baik. Bisa jadi karena lingkungan, atau mungkin memang latar belakang.
Kadang pada suatu lingkungan, berbuat baik itu dianggap naif, dengan berbagai macam pembelaan yang dianggap sebagai logika. Logikanya adalah, ketika kita berbuat baik dan kita tahu itu tidak menghasilkan apa-apa, maka kita bodoh. Misalnya ada kalimat seperti ini, “Lah, kamu ngapain itu dikasih ke dia? Dia kan banyak duit buat beli sendiri” padahal si pemberi walaupun tidak lebih mampu dari si penerima hanya ingin memberi, titik. Itulah ketulusan. Atau misal seperti isu pengemis yang makan di restoran. Sebenarnya, apa urusan kita menganggap itu sesuatu yang salah. Bukankah urusan kita adalah waktu dia ngemis kita tinggal mau ngasih atau nggak? Kalo ngasih ya kasih, kalo nggak ya tinggal nolak waktu dia minta. Baru kalau dia nyolot sampai ngutuk-ngutuk, di situ sebaiknya di tonjok saja.
Yang lebih menyedihkan adalah ketika ketidaktulusan itu justru tumbuh dari latar belakang, baik orang tua, ataupun sekolah. Sederhananya seperti kalimat ini, yang mungkin beberapa dari kita pernah dengar, “kamu jadi anak yang baik, biar hidupmu besok mudah”, atau “kamu jadi anak yang baik, orang itu seneng sama anak baik”, atau “kamu jadi anak yang baik, biar nggak kualat”. Yang dihasilkan dari kontruksi berpikir seperti ini adalah pamrih. Bukankah anak akan kecewa kalau dia sudah berbuat baik, tapi kebaikan orang lain tidak kunjung datang padanya? Bukankah orang akan merasa dunia tidak adil, karena janji yang diberikan tidak kunjung terwujud?
Atau yang lebih populer, dalam beramal, ada orang yang berpendapat bahwa ketika seseorang beramal, maka rejeki akan berlipat-lipat dari apa yang orang itu beri. Saya bukan tidak setuju. Mungkin memang hal seperti itu mungkin terjadi. Tapi saya yakin itu bukan hukum sebab akibat “jika orang beramal, maka rejekinya melimpah”. Pasti ada banyak variabel lain yang mendukung fenomena tersebut terjadi, namun hanya tertangkap oleh akal kita demikian. Dan ketika prosesnya dirusuhi dengan pamrih, mungkin hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Karena perasaan mengarap timbal balik memang membuat hati dan pikiran tidak tenang.
Ini bukan anjuran ataupun ajakan untuk melakukan hal manis yang berbanding terbalik dengan contoh-contoh di atas. Tanpa begitu pun kita masih tergolong normal sebagai manusia normal yang setiap langkah dalam hidupnya didasari dengan logika-logika walaupun logika juga tidak lepas dari bias. Ini hanya opsi lain yang bisa dipilih jika ternyata kita sudah bosan dengan kehidupan penuh pamrih yang membebani hati dan pikiran.
Saya jadi ingat kata juragan saya yang kurang lebih seperti ini, “kalau mau memberi ya memberi saja, tidak usah ada logika di belakangnya”. Terlepas dari akibat apa yang bisa terjadi, ternyata tanpa pamrih, hidup lebih ringan dan menyenangkan.
