Sessanta Coffee: Ngopi Itu Harusnya Sederhana

Adzan Magrib sayup-sayup terdengar ketika saya menjejakkan kaki di area parkir Sessanta Coffee. Meskipun matahari sudah tenggelam sepenuhnya, namun semburat kuning kemerahan masih tampak di langit Jogja.

Dari luar, kedai kopi yang terletak di Jalan Cendana №18 ini masih terlihat cukup ramai. Begitu kami masuk, senyum-senyum ramah nan bersahabat langsung menyambut.

Salah satu pemilik senyum ramah itu ialah Ignatius Adhitya, salah satu ownerSessanta Coffee.

Adit, begitu ia biasa dipanggil, langsung menemani kami duduk. Guyonan demi guyonan mengalir renyah. Saya merasa begitu beruntung bisa ngobrol tentang Sessanta langsung dengan owner-nya.

Sebelum obrolan dimulai, saya memesan segelas Es Kopi Susu. Ini adalah satu signature product Sessanta yang konon sedang naik daun.

Percaya deh, rasanya bener-bener petjaaaah!

Sekali seruput, badan langsung segar. Pantas saja produk ini diidolakan sebagian besar konsumen Sessanta.

Saya penasaran, apa yang bisa bikin rasanya senikmat ini? Syukurnya, rasa penasaran saya akhirnya terjawab begitu Adit angkat suara.

“Komposisinya gula aren, kopi, dan susu. Cuma bedanya, gula aren langsung kita sourcing dari petani gula aren di Kulon Progo. Jadi gula aren kita murni, bukan campuran seperti yang banyak beredar di pasaran.”

Lebih lanjut, Adit menjelaskan bahwa gula aren murni ada rasa kacangnya. Secara penampakan, gula aren campuran terlihat lebih gelap, seperti ada bagian-bagian yang gosong.

Alasan Adit melakukan sourcing ke petani gula aren di Kulon Progo adalah ingin memastikan sendiri kualitas gula aren yang akan ia sajikan kepada konsumen.

Signature product di sini ada empat,” lanjut Adit menjelaskan. “Olsen, Olivia, Cold Latte, dan Es Kopi Susu.”

Olsen adalah produk yang dibuat oleh barista Sessanta Coffee sendiri. Minuman non-kafein ini terbuat dari stroberi dan cokelat.

Olivia adalah campuran antara green tea, leci, dan soda. Cold Latte, signature productpertama dari Sessanta Coffe, tercipta dari campuran Latte dan vanilla essence.

“Es Kopi Susu bukan signature sini bener-bener,” terang Adit. “Soalnya, itu lihatnya dari Jakarta.”

Meskipun bukan signature product asli bikinan Sessanta Coffee, namun sentuhan gula aren murni membuat taste minuman ini memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan es kopi susu di kedai kopi lainnya.

Bukan hanya itu, keunikan lain dari kedai kopi ini adalah house blend yang mereka miliki.

“Untuk house blend-nya sendiri, kita ada dua,” ujar Adit. “Yang pertama namanya Sewarna. Itu untuk minuman berbasis Espresso yang pakai susu. Misal kopi susu, Cappucino, Latte, itu pakai Sewarna.”

House blend kedua diberi nama Cendana.

“Namanya Cendana, karena Sessanta terletak di Jalan Cendana. Biar orang cepet tahu kedai kopi kita, Mas,” jelas Adit. “Cendana itu dari Toraja sama Sunda. Kalau yang Sewarna tadi dari Toraja sama Toraja, tapi beda proses: washed sama natural.”

Lebih lanjut Adit menjelaskan bahwa rasa dari house blend Cendana ada yang cherry, dan beberapa buah berwarna merah lainnya. Rasa house blend ini lebih masam. Banyak yang bilang kalau rasa house blend ini seperti manual brew. Padahal aslinya adalah dari Espresso.

“Nah, itu untuk minuman yang black, yang cuma Espresso, Long Black, atau Americano. Jadi yang warnanya masih item, nggak ada campurannya apa-apa, kita pakai Cendana.”

Sejak awal, Adit memang menginginkan Sessanta Coffee memiliki house blend sendiri. Green beans untuk house blend ini pun ia sourcing dari petaninya langsung, yaitu dari petani Toraja dan petani Sunda.

Saya begitu terkesima dengan luasnya pengetahuan yang Adit miliki seputar kopi. Ini cukup mengejutkan, mengingat ada banyak owner kedai kopi yang tak tahu apa-apa soal kopi. Fokusnya hanyalah uang, uang, dan uang.

Adit mengaku, ketertarikannya pada kopi bermula ketika ia bertemu dengan seorang petani kopi. Pertemuan itu terjadi saat Adit sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata. Dari sang petani kopi, ia baru tahu bahwa jenis tanaman kopi dan daerah tempat kopi ditanam bisa menghasilkan rasa yang berbeda.

“Akhirnya waktu itu saya coba. Si Ibu Petani Kopi menyediakan beberapa kopi, dan saya rasain memang beda satu sama lain. Nah, dari situ saya udah mulai tertarik kopi,” ujar Adit, sambil mengenang masa lalu. “Terus, akhirnya habis lulus kuliah, saya punya banyak waktu senggang. Saya langsung ambil pelatihan barista di Jakarta. Nah, waktu di pelatihan barista itu, saya makin suka lagi dengan kopi.”

Melalui pelatihan tersebut, ia mendapatkan satu fakta baru tentang kedai kopi. Di mana pun tempatnya, kedai kopi lekat dengan keramah-tamahannya. Bahkan di Jakarta yang menurut Adit memiliki stereotype sebagai kota yang individualis.

“Saya lihat kok di kedai kopi di Jakarta semuanya ramah. Nah, dari situ saya terus kepikiran buat Sessanta dengan konsep kekeluargaan yang mengedepankan keramahan.”

Akhirnya, pada 1 Juni 2015, Sessanta Coffee resmi berdiri. Awalnya, Sessanta terletak di Demangan Baru, menjadi satu dengan sebuah merek burger lokal.

Waktu itu ia sendiri sangsi, apakah burger bisa cocok dengan kopi? Namun berbekal kenekatan, Adit memilih langsung action tanpa banyak mikir.

“Saya denger, kalau bisnis pertama kali ya tabrak aja dulu. Kan percuma juga kalau cuma dipikirin terus tapi nggak ada eksekusinya,” tegas Adit. “Tempatnya dulu cuma dua kali tiga meter persegi. Kita sharing berdua. Di situ, ya memang nggak bisa cocok burger sama kopi. Akhirnya burger ada sendiri, kopi ada sendiri.”

Dalam perkembangannya, akhirnya Sessanta berdiri sendiri di lokasi yang ditempati saat ini.

“Sessanta itu diambil dari bahasa Italia. Artinya enam puluh. Karena kita pertama kali buka cuma pakai alat namanya V60,” jawab Adit ketika saya tanya tentang arti nama kedai kopi yang ia pilih.

Bagi Anda yang belum tahu, V60 adalah sebuah alat seduh manual. Istilahnya, manual brew. V60 memakai corong yang sudutnya 60 derajat ke bawah. Karena bentuknya yang menyerupai huruf V itulah, akhirnya disebut V60. Alat ini biasa dipakai untuk membuat Black Coffee.

“V60 gunanya untuk memaksimalkan aroma, rasa, tapi nggak terlalu kental. Nggak terlalu kuat seperti Espresso,” terang Adit.

Selain alasan itu, Adit memilih memakai kata yang diambil dari bahasa Italia, karena kebanyakan menu kopi memakai bahasa Italia seperti Espresso, Macchiato, Latte, dan sebagainya.

“Terus, ada satu lagi yang saya suka dari budaya Italia,” kata Adit. “Dulu, udah lama banget, ada yang namanya Espresso Bar di Italia. Itu adalah warung yang menyediakan menu-menu Espresso. Budaya di sana itu, begitu orang datang untuk ngopi pagi biasanya baristanya udah menyapa dengan menyebut nama-nama konsumen. Jadi udah hapal. Sama konsumen udah kayak temen sendiri. Terus, begitu dia udah pegang cangkirnya, dia bersosialisasi dengan orang-orang, kayak udah kenal dari lama. Itu budaya yang saya senang dari Italia.”

Konsep itulah yang ingin diadopsi oleh Sessanta Coffee. Adit ingin konsep Sessanta seperti layaknya sebuah keluarga. Orang-orang yang datang sudah saling mengenal satu sama lain.

Bicara soal masa depan, Adit tidak muluk-muluk. Ia hanya ingin bisa mengontrol seluruh lini bisnis dari hulu ke hilir. Bukan hanya coffee shop-nya saja seperti sekarang. Ia berharap bisa memiliki kebun kopi dan tempat roasting sendiri.

“Cita-cita saya juga ingin bisa menyejahterakan petani, Mas,” ujarnya sambil tersenyum lebar.

Kesederhanaan juga tampak dari filosofi yang Adit miliki tentang kopi. Menurutnya, ngopi itu harusnya memang sederhana. Tak perlu berpusing-pusing dengan segala teori atau resep saklek yang biasa dilontarkan pada “pendekar”.

Ditanya tentang tiga kata yang mewakili Sessanta Coffee, jawaban Adit sangat lugas: “Nyaman, bersahabat, enak.”

Waktu menunjukkan pukul sembilan ketika kami mengakhiri obrolan. Entah kenapa, waktu terasa berlalu begitu cepat ketika kita ngobrol dengan orang yang punya passion di satu bidang tertentu. Kopi, misalnya.

Satu hal yang saya tangkap dari sosok seorang Adit adalah: keterbukaan. Ia bisa dengan lepas membeberkan segala hal yang bagi pelaku bisnis lain dianggap sebagai rahasia perusahaan.

Barangkali, keterbukaan itulah yang akhirnya mampu menyentuh hati para penikmat kopi di sekitaran Jogja — termasuk hati saya malam itu.

Istilah “bersahabat” yang digadang-gadang Adit bukanlah embel-embel semata. Ia nyata dan benar-benar hadir di dalam Sessanta. Namanya “sahabat”, tentu tidak ada yang ditutup-tutupi. Semuanya serba terbuka.

Persis seperti itulah Adit memperlakukan setiap manusia yang berkenan meluangkan waktu mampir ke kedai kopi miliknya.

https://youtu.be/ZnYppa6kWTs

Di era yang serba instan dan individualis seperti sekarang, keterbukaan benar-benar barang langka. Sialnya, keterbukaan adalah kunci terbentuknya rasa percaya. Dan rasa percaya merupakan benih dari persahabatan, persaudaraan, serta kekeluargaan.

Teramat banyak kedai kopi yang menggadang slogan “persahabatan” atau “kekeluargaan”, namun di dalamnya sama sekali tidak dijumpai keterbukaan.

Bagaimana bisa muncul kekeluargaan, tanpa adanya keterbukaan?

Pada akhirnya, ngopi memang bukan semata soal rasa yang kita kecap di lidah. Lebih dari itu, ngopi juga adalah tentang apa yang kita rasakan di dalam hati.

Ketika hati kita sudah merasa nyaman, rasa kopi “seaneh” apa pun bisa menjadi nikmat. Apalagi kalau rasa kopinya senikmat kopi-kopi di Sessanta Coffee. Itulah yang disebut dengan kenikmatan yang HQQ!

Ingin tahu seperti apa itu kenikmatan yang HQQ?

Yuk, langsung datang ke Sessanta Coffee! (GRS)