Embel - Embel

Dewasa ini, semakin banyak bisnis baru yang bermunculan. Secara keseluruhan ini bagus, karena membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Tapi kali ini saya mau coba melihat dari sudut pandang lain.

Kita ambil contoh bisnis kopi. Beberapa tahun belakangan bisnis kopi berkembang begitu pesat di Indonesia. Salah satunya didukung dengan adanya Third Wave of Coffee, sebuah gerakan untuk memproduksi kopi dengan kualitas tinggi dan menganggap kopi sebagai minuman yang “nyeni” seperti halnya wine. Dengan adanya gerakan ini, banyak kafe baru bermunculan, berbagai jenis biji kopi baru bermunculan dan jenjang umur serta kalangan penimum/pencinta kopi juga semakin meluas.

Lalu apa yang salah?

Tidak ada yang salah dengan gerakan Third Wave of Coffee; namun dengan semakin meningkatnya permintaan produk kopi, banyak brand yang berusaha mendompleng citra harum gerakan ini.

Begitu banyak brand yang tidak bertanggung jawab dengan mudahnya menuliskan tagline premium coffee, the best coffee atau apapun itu. Tidak hanya di produk kopi, di banyak produk lain juga kata - kata seperti healthy, no 1, the best dan lainnya dipakai secara brutal dan seringkali tidak mencerminkan nilai asli dari suatu produk. Akhirnya yang terjadi adalah kata - kata tersebut hanya menjadi embel - embel, sekedar ada saja dan tidak penting.

Berharap brand berhenti menuliskan kata - kata tersebut ibaratnya seperti menunggu salju turun di Jakarta, namun kita sebagai konsumen bisa lebih jeli membedakan mana brand yang menggunakan tagline dengan sungguh - sungguh dan mana brand yang hanya menggunakan tagline sebagai embel - embel.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.