
Tyau Mate See: Tupia dan Mimpi Setengah Rampung.
Cerita malam ini tentang dua pemuda dari tanah seberang nun jauh di sana. Nasib membawa mereka berlama-lama di negara ini sehingga akhirnya berkunjung ke Luwuk.
Mereka bercerita tentang Tupia (Tupaia), seorang Tahiti yang menavigasi HMS Endeavour, kapal Inggris yang dinahkodai Captain Cook, sang kapten petualang yang tersohor sebagai penemu Australia (Menurut catatan sejarah mainstream). Pada satu kesempatan, dua pemuda ini bertemu nama tersebut, tertarik akan ceritanya. Lalu melakukan napak tilas pada titik-titik yang dikunjungi Endeavour di nusantara, dan akhirnya menulis serta membuat suatu pertunjukan seni tentang Tupia.
Tupia adalah pria cerdas yang punya pengetahuan mendalam tentang astronomi, navigasi dan menguasai beberapa bahasa dari Kepulauan Pasifik. Tupia bermimpi untuk dapat mengunjungi Eropa, merasakan megahnya peradaban barat. Captain Cook berjanji akan membawanya ke Inggris selepas ekspedisi Endeavour selesai. Dan Tupia gembira luar biasa ketika hari itu tiba, Endeavour membentangkan layarnya mengarah ke Inggris raya.
Yang menarik, dalam perjalanan ke Inggris tersebut, rute Endeavour melewati nusantara dan suatu ketika harus singgah sebentar di pelabuhan Batavia untuk perbaikan dan melengkapi persediaan.
Belang tak dapat dibuang, malang tak dapat dihadang. Takdir membawa Tupia terjangkiti Malaria (atau Disentri) yang berujung pada kematiannya. Tupia lalu dimakamkan pada satu dari sekian banyak pulau di Kepulauan Seribu.
Pada nafas-nafas terakhirnya, Tupia berucap: "Tyau mate see" yang berarti "Teman, saya akan mati". Tupia tahu dia sedang sekarat, berada jauh dari keluarga dan rumah. Dan dia menyesal telah bermimpi terlalu jauh.
Tupia merasa bahwa dia seharusnya berada di antara orang orang yang tulus menyayanginya, akrab di hatinya dan telaten mengurusinya pada saat-saat terakhir seperti itu. Dan bukan malah berada di tengah mimpi setengah rampung di negeri antah berantah.
Tentu saja Tupia punya hak untuk menyesal. Seperti halnya siapa saja berhak untuk bermimpi jauh dan terus berusaha untuk mewujudkannya, bahkan jika ternyata mimpi itu tak kunjung terlaksana. Hidup adalah pilihan dan Tupia merasa telah memilih alinea yang keliru.
Bercita-cita besar dan merantau jauh adalah perihal rasa ingin tahu dan mimpi yang bergejolak namun berbalut risiko tinggi. Banyak orang yang kemudian pulang dengan membawa cerita manis ke kampung halaman, namun tak jarang pula yang kemudian tidak mendapatkan banyak kecuali melewatkan kabar duka atau suka dari kampung tercinta. Serta rindu membuncah saat hujan turun, atau air mata yang terselip di antara foto usang orang tua tersayang di balik dompet.
Namun batang pedang tak kalah tajam dari ujungnya. Perjalanan seharusnya tak kalah mengasyikkan dari akhir mimpi indah itu sendiri. Selalu nikmati setiap bilah petualangan dan setiap babak takdir yang disajikan Tuhan. Kita tak tahu di pelabuhan mana kapal ini akan berlabuh.
Selamat tidur dan selamat berpetualang!
Ali Sopyan
Tontouan, 03.15 WITA, 22 Juli 2017
(Terima kasih kepada Alma dan Andras untuk diskusi serta cerita menariknya)