Menerapkan Prinsip Ekonomi dalam Berorganisasi di Kampus

Menyiasati kodrat mahasiswa sebagai makhluk ekonomi agar organisasi bisa menjadi lebih baik — sebuah masukan untuk para pimpinan organisasi.


Tingkat satu, pertama kali masuk kuliah ekonomi, saya kebingungan bukan main. Dalam diri saya, kata ‘ekonomi’ selalu sepadan dengan ‘ilmu sosial’, dan oleh karenanya juga sepadan dengan hapalan yang luar biasa. Dan sialnya, saya sangat parah dalam menghapal.

Setelah beberapa minggu kuliah dan responsi yang membuat saya pusing, akhirnya saya bertemu dengan sepupu saya — salah satu keluarga saya, bukan sekandung, yang paling dekat dengan saya — untuk meminta diajari ekonomi. Ia juga kuliah,beberapa tingkat di atas saya, dengan mayor ekonomi.

Keputusan saya nggak salah. Sepupu saya mengajari saya dengan banyak cara, rumus, dengan sabar menghadapi temperamen seorang maba yang masih bocah. Segera, saya menyadari bahwa ekonomi itu tidak sekedar hapalan, tetapi juga hitung-hitungan. Grafik revenue dan cost, demand dan quantity, saya kuasai dan telan perlahan-lahan.

Singkat kata, saya jadi menyukai ilmu ekonomi.

Saat saya menginjak awal tingkat dua, ada sebuah mata kuliah yang mengubah, lagi, pandangan saya terhadap mata kuliah ekonomi. Adalah dosen saya, yang kelak akan menjadi dosen pembimbing saya hingga saat ini, saat itu berkata sebagai berikut:

Ilmu ekonomi mempelajari bagaimana manusia berusaha memenuhi kebutuhannya. Dan, dengan memenuhi kebutuhannya, ia (manusia) juga mendapatkan kepuasan.

Hal tersebut membuat saya berpikir: dalam hidupnya, manusia melakukan segala sesuatu pasti karena ia mengharapkan sesuatu. Revenue untuk cost yang dikeluarkan. Dari hal-hal yang besar seperti memimpin negara (Cost: sedikit kesalahan dan akan dicerca rakyat serta lawan, fisik yang dikuras habis; Revenue: bisa membawa negara menuju arah yang dia inginkan), hingga yang personal seperti beribadah (Cost: membeli peralatan ibadah, meluangkan waktu; Revenue: mengharapkan pahala). Bahkan ‘ikhlas’ pun disebut sebagai ‘mencari ridha-Nya.


Manusia adalah makhluk ekonomi, dan dengan demikian, prinsip ekonomi pasti berlaku untuk mereka: ingin memperoleh kepuasan, ingin memperoleh keuntungan, profit. Bagaimana caranya mendapatkan kepuasan tersebut? Caranya, tentu saja, adalah dengan berusaha agar revenue yang dia peroleh lebih besar dibandingkan cost yang ia keluarkan. Ia akan selalu berusaha agar setiap kegiatan yang dilakukannya memberinya profit.

Implikasi dari hal tersebut adalah saat sesuatu tidak lagi memberinya profit, atau cost untuk melakukannya lebih besar daripada revenue yang diperoleh, adalah wajar baginya untuk meninggalkan sesuatu tersebut. Hal ini bagus sekaligus berbahaya, karena bisa-bisa semua manusia di dunia cuma mengejar keuntungan masing-masing. Karena nggak mau rugi, jadilah saling mengambil keuntungan, atau hak, sesamanya.

Untuk mengatasi hal ini, mari kita lihat lagi di ilmu ekonomi: ada sesuatu yang bernama breakeven point. Maksudnya, dalam suatu kegiatan ekonomi, ada suatu kondisi di mana keuntungan bisa jadi tak diperoleh, namun kegiatan produksi masih bisa dilakukan. Hal ini dapat terwujud karenya adanya breakeven point: batas maksimum kerugian yang mampu diterima. Selama belum menginjak titik tersebut, proses produksi, kegiatan ekonomi, masih bisa dilakukan.

Sekarang, mari kita lihat di manusia. Dari berbagai literatur, kita tahu yang namanya manusia memiliki ‘kekuatan maksimum’. Batas di mana ia akan rubuh, runtuh, setelah menimpa kerugian bertubi-tubi. Gampangnya, hal tersebut bisa dikatakan sebagai ‘batas kemampuan’. Manusia bisa tetap melakukan kegiatan, meski tak memberinya keuntungan maksimum, selama belum menginjak batas tersebut.

Berdasar dari poin-poin ekonomi di atas, saya mencoba mengambil beberapa strategi utama yang dapat diterapkan dalam kehidupan berorganisasi. Khususnya, strategi yang dapat diaplikasikan dalam berorganisasi di kampus, khususnya oleh para pimpinannya. Harapannya, tentu saja, diterapkannya prinsip-prinsip ekonomi berikut, organisasi yang diikuti bisa menjadi lebih baik.

Jadi, singkat kata, berikut adalah beberapa poin tersebut.

1. Ketahui batas-batas anggotamu

Kenali anggotamu! Semuanya! Ketahui batas-batas kemampuan mereka!

Sebagai ketua/BPH/pimpinan dalam berorganisasi, tentu teman-teman akan melakukan kegiatan yang namanya memimpin: mengarahkan anggota-anggota untuk bekerja, untuk bergerak, demi tercapainya visi dan misi organisasi. Tentu saja, ‘mengarahkan’ di sini adalah ‘memberi tugas’, memberi anggota-anggota dengan kegiatan untuk dilakukan.

Nah, supaya kegiatan-kegiatan tersebut bisa berjalan baik, tentunya harus diberikan pada anggota yang bisa, dan siap, serta mau untuk menjalankannya. Sebagaimana saya tuturkan di atas, seseorang pastilah akan mau melakukan kegiatan jika itu mereka rasa menguntungkan, atau, minimal berada di bawah batas stres mereka. Mengetahui batas-batas seseorang sangat penting untuk memastikan tugas-tugas yang diberikan mereka mau dan sanggup kerjakan.

Aplikasi dari hal ini: jangan berikan tugas-tugas yang berat kepada anggota yang jelas-jelas takkan sanggup untuk melakukannya.

2. Ketahui passion dan kepuasan seperti apa yang anggotamu inginkan

Kalau passion mereka, sebagian besar, adalah tracking ke pegunungan padahal kalian adalah klub komputer, maka akan ada masalah di situ yang harus diatasi.

Masih sangat berkaitan dengan distribusi tugas, dan sangat erat hubungannya dengan prinsip ekonomi yang menjelaskan kenapa seseorang mau bekerja, mengetahui kepuasan seperti apa yang ingin dicapai oleh anggota sangatlah penting. Dengan mengetahui seberapa besar profit yang ingin mereka peroleh, kita bisa memperkirakan apakah mereka akan puas/tidak dalam menjalankan tugas yang diberikan pada mereka.

Jika mereka tidak puas, mungkin saja suatu tugas dapat mereka laksanakan, namun belum tentu hasil yang dicapai memiliki nilai yang sama dibandingkan dengan jika tugas tersebut mereka lakukan dengan rasa kepuasan.

Tapi, untuk mencapai hal ini, tentulah seorang pemimpin juga harus bisa menilai besarnya profit dan cost yang dapat diperoleh dari suatu tugas bagi anggotanya. Hal tersebut tidaklah mudah, tapi bisa dilakukan. Melakukan valuasi sederhana seperti menanyai anggota, “Menurutmu ini bagus tidak?” “Menurutmu ini merugikan nggak?” “Mau mengerjakan ini nggak?” adalah salah satu cara yang paling sederhana.

3. Buat aturan, pagar, agar jalan mereka selalu terarah


Ini cukup penting: sebagaimana saya tuliskan sebelumnya, kecenderungan manusia untuk selalu mengejar keuntungan bisa menjadi kerugian yang sangat besar. Kalau tidak ada aturan, yang terjadi adalah setiap anggota akan berusaha cari kepuasan sendiri-sendiri tanpa memikirkan organisasinya. Seenak-enaknya, sepuas-puasnya saja — karena bagi mereka, mungkin memang itu yang memuaskan.

Contoh sederhana: anggota yang tidak mau datang ke rapat karena lebih enak tidur di kosan. Atau tidak mau ikut diskusi penting hanya karena ingin santai-santai saja. Atau, lebih parah lagi, anggota yang datang hanya di hari-H, tidak mengikuti proses persiapan, hanya mengejar narsis-nya saja.

Untuk mengatasi hal tersebut, buatlah aturan. Buatlah sanksi-sanksi sosial, moral, kepada anggota-anggota yang melanggar. Strategi dalam pembuatan aturan ini, tentu saja, hampir serupa dengan poin 2 di atas: tanyakan kepada mereka, sanksi apa yang mereka inginkan. Tanyakan, hukuman apa yang akan dijatuhkan pada anggota yang melanggar aturan. Sepakati bersama-sama, sehingga pada saat nanti memang ada yang melenceng, langsung bisa diluruskan dengan aturan-aturan tersebut. Jatuhkan sanksi — itu bukan hal yang sulit: mahasiswa masih pergi ke kelas, kuliah, dan kosan. Masih bisa bertatap muka. Mereka takkan bisa menghindari dari ‘malu’ yang akan mereka terima.

Terdengar sangat keras? Memang demikian, karena menurut saya, yang namanya aturan adalah untuk ditegakkan. Sama seperti pemerintah yang senantiasa menegaskan bahwa Indonesia adalah Negara Hukum: kita dibatasi oleh aturan-aturan. Kita nggak boleh seenaknya sendiri. Kita harus mematuhi aturan-aturan tersebut agar ketertiban dapat tercapai, visi-misi dapat terpenuhi, dst.


Tentu saja, setelah panjang lebar uraian di atas, saya sadar sepenuhnya bahwa hal-hal tersebut adalah opini saya. Argumentasi. Sangat debatable, sangat bisa ditambahkan ataupun dikurangi.

Sehingga, apakah ada yang punya ide/gagasan tambahan?


Artikel ini juga diterbitkan di Nulis Hujan.

Email me when Ahmad Alkadri publishes or recommends stories