Unjuk Kuasa di Dunia Maya, Apa Faedahnya?

Belakangan ini, seorang influencer sebut saja awkwkwk sedang jadi bahan perbincangan dan pergunjingan yang cukup santer di dunia maya. Keributan ini bermula dari cuitan salah seorang Freelance Illustrator yang mempertanyakan dan keberatan terhadap perilaku awkwkwk yang kerap mencomot karya artis dan seniman tanpa ada kredit dan bahkan ada beberapa yang diakui sebagai karya Influencer yang satu ini.
Hal ini tentu saja mengundang pro-kontra yang heboh. Tak sedikit yang membela si Freelance Illustrator ini (sudah pekerja kreatif, freelance pula). Terbayang betapa banyak rekan sejawatnya (ehm, termasuk saya) yang merasa isu ini penting untuk diangkat dan dikawal agar setiap seniman dan pekerja kreatif lainnya bisa mendapat pengakuan dan keamanan atas karya yang sudah dihasilkan.
Menanggapi hal ini, si Influencer ternyata cukup antusias (baca: agresif) dan melakukan beragam klarifikasi dan pembelaan atas apa-apa yang sudah dilakukannya di masa lalu dan (mungkin) mencomot beberapa karya seniman dan pekerja kreatif. Bahkan, si Influencer ini mengancam akan membawa perkara ini ke ranah hukum apabila masalah ini masih diperpanjang.
Hingga tulisan ini dibuat, si Freelance Illustrator semua tweet nya hilang (entah dihapus secara konsensual atau dibawah ancaman, siapa yang tahu?) dan yang bersangkutan tampak tidak aktif lagi di berbagai media sosialnya. Hal ini berkaitan erat dengan ancaman si Influencer ini yang kerap membawa-bawa kemampuannya untuk menyewa tim pengacara hebat dan melanjutkan kasus ini ke meja hijau.
Uang yang melimpah, dukungan fans garis keras yang militan, dan personal branding yang ‘unik’, si Influencer ini memiliki cukup amunisi untuk melakukan unjuk kuasa dan pamer ‘power’ lewat akun-akun media sosialnya. Sebenarnya, unjuk kuasa di media sosial banyak wujud dan caranya, mulai dari sekadar pamer, panjat sosial, hingga yang berbahaya yaitu perisakan dan framing jahat yang mengandalkan dukungan basis massa dan followers yang militan dan menganut paham ‘Right or Wrong is My Idol’.
Dalam bentuk apapun, power dan kekuasaan itu akan menimbulkan candu. Semakin banyak orang yang menyukai dan memaklumi atas tiap tindakan atau bahkan kesalahan kita, semakin tinggi kemungkinan kita akan bertindak semena-mena dan sesuka hati. Apalagi, dunia maya merupakan tempat yang mendukung dan menyenangkan untuk melakukan berbagai kontroversi dan perisakan. Tidak berhadapan langsung dan bisa dengan mudah melakukan framing, apalagi jika didukung basis massa yang besar.
Kesenjangan kuasa dan pengaruh inilah yang menjadi persoalan utama dalam kasus ini. Sejatinya peribahasa ‘Semakin berisi, padi semakin merunduk’ semakin jauh panggang dari api. Kita dihadapkan dengan berbagai kejadian ‘Bully massal’ yang dilakukan seorang Influencer bersama pasukan followers dan lingkaran sesama influencernya. Jadi, marilah lebih hati-hati dalam memilih role model di dunia sosial, dan menjadi penggemar fanatik itu adalah salah satu bentuk kesia-siaan terbesar di muka bumi ini.
Pertama kali tayang di thenomaden.com
