Strategi Komunikasi : Ini sesuatu yang awalnya begitu kecil. Tapi ternyata memberi efek yang besar

Saya termasuk yang meyakini bahwa kemampuan komunikasi dapat menentukan sebuah hasil. Jadi berkomunikasi yang baik apakah dari pemilihan kata yang tepat, metode respon (pelayanan) yang sigap, adalah hal yang dapat menunjang kesuksesan sebuah pencapaian hasil yang ingin diraih.
Kemampuan komunikasi seseorang tidak serta merta bagus begitu saja. Selayaknya sebuah pelatihan yang terus menerus akan menghasilkan kemahiran, begitupun dengan komunikasi. Paling dasarnya adalah pola pembelajaran dari bagaimana kita membentuk skill tersebut.
Sewaktu saya kecil, mama saya sangat menekankan bagaimana sopan santun menjadi tolak ukur dalam “bekomunkasi”(menyampaikan pesan ) kepada orang yang kita hadapi. Dimulai dari sesuatu yang sangat kecil seperti kalau bertamu kepada orang, dan disuguhkan makanan atau minuman yang rasanya tidak sesuai selera, mama selalu berpesan “Kalau ditanya apakah itu enak atau tidak, dan sebenarnya kamu rasa gak enak, nanti jawabnya yang netral. Bilang aja “ini memang bukan selera saya, tapi cita rasanya sangat mengesankan. Makasih ya tante, udah ditawarin makanannya” padahal ya sebenarnya rasanya emang gak enak. Hehe. Meskipun demikian kita juga gak bisa serta merta hanya dengan berlandaskan “perasaan gak enak hati” lantas memilih berbohong dengan mengatakan sebaliknya. Ini bukan jadi solusi. Karena dengan begitu orang tersebut tidak akan memperbaiki atau meningkatkan kemampuannya menjadi lebih baik. Begitupun dengan mengatakan terlalu jujur hanya akan membuat hati orang tersebut sakit atau bahkan menjadi hilang semangat untuk melakukan eksplorasi yang lebih.
Lalu suatu hari ketika mama jadi tuan rumah untuk arisan ibu-ibu, stok makanan yang disediakan lebih dari cukup. Namun beberapa jenis makanan yang lain sudah habis karena menjadi pilihan paling favorit orang-orang diantara menu yang lainnya. Jadi bisa dibahasakan bahwa ada beberapa jenis menu yang masih tersisa dari menu lainnya. Dan ketika itu mama saya meminta saya agar menu yang masih ada tersebut diantar dan dibagikan ke orang lain. Dan sekali lagi mama saya mengajarkan untuk memilih mengkomunikasikan dengan bahasa yang lebih nyaman didengar. “Nanti kalau mau nawarin ke orang, kamu jangan bilang “ ia ini sisa acara tadi”. Bilang sisa itu gak sopan. Yang awalnya niat baik untuk berbagi, tapi kalau bahasanya gak tepat orang bisa salah mengira kalau mereka hanya menerima sisanya saja. Jadi kamu harus bilang “ ia, ini kelebihan makanan di acara tadi”
Senada dengan diatas, belum lama ini seorang rekan bisnis yang punya skill negosiasi yang bagus, mengajarkan saya kalimat dimana seseorang secara tidak sadar diarahkan untuk tidak punya opsi kata “tidak”. Jadi misalnya nih ketika kita menawarkan sesuatu yang kemungkinannya memang tidak bisa diprediksi untuk di iyakan, sebaiknya kita tidak menggunakan kalimat yang dapat menawarkan opsi “tidak” tersebut. Dengan penekanan yang ditutup “ini bisa gak?” “kamu bisa kerjain ini gak?” “tawaran kami yang kemarin bagus gak?” kata “gak” ditiap akhir kalimat hanya akan memberi pengaruh yang kuat terhadap psikologi seseorang untuk berfikir dan menimbang pilihan “tidak” . Maka sebaiknya kata tidak diakhir tiap kalimat dihilangkan dan diganti dengan kata yang lebih punya daya magis untuk disetujui. Misalnya “ kalau bentuknya seperti ini boleh ya” “ kalau anggarannya seperti ini cukup ya” “ kalau pengaturannya seperti ini bisa ya”, “tawaran ini bagus kan ya” dan kalimat semacamnya yang menekankan pada aspek dimana kita memang menginginkan orang dapat menyetujui hal yang sama dengan hal yang kita kemukakan.
Well, kelihatannya Ini sesuatu yang awalnya begitu kecil. Tapi tanpa disadari menjadi sebuah kebiasaan kecil yang terpola dan bisa sangat memberi pengaruh yang kuat.
Silahkan dicoba dan rasakan perbedaanya.