Membaca Teks, Membaca Konteks, Lalu Menulisnya

Alvaryan Maulana
Aug 28, 2017 · 4 min read
https://www.historiatimelines.com/wp-content/uploads/World-Entire-2000.jpg

Sangat mudah memahami apa sebenarnya yang Marx coba untuk tantang pada saat ia berdarah-darah memikirkan dan kemudian menuliskannya dalam ribuan lembar tulisan. Sangat mudah juga mengetahui bagai cara Stalin berhasil menjadi suksesor Lenin dengan menyingkirkan Trotsky. Hal-hal seperti itu bisa diketahui dengan mudah dengan membaca informasi yang sekarang berserak dimana-mana.

Yang sulit, tentu saja memahami apa yang melatar belakangi kegelisahan Marx muda, dan mengapa Trotsky gagal menduduki pucuk pimpinan biro saat itu. Jika kesulitan untuk memahami hal tersebut, maka kesulitan juga akan dihadapi saat mencoba memamahi apa maksud sebenarnya dari Genosida Stalin, maksud di balik Revolusi Kebudayaan Mao, dan juga cita-cita yang layu sebelum berkembang miliki Tan.

Kecendrungan kita saat membaca sejarah hanya berfokus pada bagian “apa” yang terjadi, dan bukan “mengapa” itu terjadi dan “bagaimana” dan “lantas apa”. Padahal peristiwa dan momentum yang terjadi dalam lini masa bukan peristiwa tunggal. Ada cerita dibaliknya dan tentu saja bukan cerita pendek yang bisa dipahami. Dalam kasus yang lebih esktrim, pelacakan cerita di balik suatu cerita bisa dilakukan hingga ribuan tahun ke belakang. Misalnya bagaimana Islam berkembang dan berasimilasi di Indonesia, sangat erat kaitannya dengan kegiatan niaga berabad lalu, di Jazirah arab


Ilustrasi yang lebih sederhana bisa dipahami dengan mengetahui dan juga memahami bahwa gerakan pembangunan ekonomi (misalnya paham Local Economic Development) yang partisipatif dan sangat kental nuansa grassrootnya tidak serta merta muncul, melainkan ada campur tangan dari pendekatan yang kelewat makro dan generalistik dari paham yang sedang berkembang pada saat itu. Debat antara Development from Above dan Development from Below bukan peristiwa satu hari seperti pertarungan McGregor dengan MayWeather saja. Ada sebab-sebab yang begitu banyak dan kemudian membawa pada satu kejadian yang mungkin akan lebih terkenal.

Sayangnya, dua konsep tersebut lebih dikenal sebagai konsep-konsep yang mutually exclusive. Seperti memilih menggunakan baju berwarna putih atau hitam yang penentuannya hanya didasari occasion yang berlaku. Padahal, ada konteks waktu dan konteks kausalitas yang berlaku. Tentu saja, ini sulit dipahami jika pembacaan sejarah kita terbatas pada tahapan “apa” saja.

Contoh lain, misalnya Peristiwa Malari yang sangat erat kaitannya dengan alih fungsi jutaan hektar lahan di koridor pantai utara Jawa. Bagi yang terkaget-kaget, silahkan saja baca (atau baca lagi) mengenai apa-apa saja yang terjadi pada periode sebelum Peristiwa Malari terjadi. Ada suatu cara membaca sejarah yang kurang tepat dimana sebuah peristiwa dianggap sebagai sebuah titik, dan bukan ekor dari rangkain dan rentetan peristiwa.

Ada alasan dibalik mengapa Milton Friedmann sangat pro de-regulasi dan membenci peran dari Pemerintah dalam pengambilan keputusan ekonomi, Mengapa Soeharto takut terhadap Nasakom, dan mengapa Daud Djoesoef memperkenalkan Normalisasi Kehidupan Kampus di kampus-kampus pada saat ia menjabat sebagai Menteri Pendidikan, dan Mengapa Akhirnya Ali Moertopo lengser dari jajaran orang-orang kepercayaan Soeharto.

Memahami alasan-alasan tersebut merupakan harga wajib untuk memahami dengan sebenar-benarnya sebuah fenomena yang terjadi pada suatu waktu tertentu. Sebuah peristiwa tidak bisa lagi disebutkan sebagai sebuah kejadian tunggal yang tidak dipengaruhi kejadian-kejadian lain, dan tidak mempengaruhi hal-hal lain di kemudian hari. Sudah banyak bukti nyata bahwa segala peristiwa di masa lalu yang secara akrab kita sebut sejarah tersebut memiliki kaitannya satu sama lain.

Sayangnya, ada kecendrungan bagi kita untuk tidak membaca, baik tidak membaca teks-teks sejarah, maupun tidak membaca pola-pola yang sekian alam terbentuk di ruang-ruang yang kita temukan. Khusus soal bagaimana kita memanfaatkan ruang, banyak sekali teks-teks maupun konteks yang kita sengajar lewati untuk baca dan pahami. Sekali lagi, karena ketiadaan pemahaman bahwa suatu peristiwa dipengaruhi oleh peristiwa lain, dan sudah barang tentu mempengaruhi peristiwa lainnya.


Dalam sudut pandang lainnya, pemaknaan terhadap pembacaan sejarah, baik teks maupun konteksnya, sedikit banyak membuat kita sedikit mawas diri dalam bersikap, membuat keputusan, atau dalam menggoreskan sejarah bagi waktu yang akan datang. Dengan memahami bahwa suatu peristiwa dipengaruhi oleh peristiwa sebelumnya, secara tidak langsung kita juga belajar memahami bahwa peristiwa yang saat ini terjadi akan berpengaruh terhadap peristiwa-peristiwa di masa depan.

Dalam konteks pembangunan, dikenal sebuah konsep bernama pembangunan berkelanjutan, yang sejatinya berorientasi untuk membangun kemawasdirian terhadap bagaimana pengambilan keputusan dilakukan pada waktu sekarang. Konsep pembangunan berkelanjutan ini menitik beratkan tentang bagaimana pengambilan keputusan tidak hanya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi saat ini, namun juga berdasarkan tinjauan atau ekstrapolasi ke masa yang akan datang. Sederhananya, konsep pembangunan yang berkelanjutan menuntut kita untuk sedikit berpikir lebih panjang.

Sialnya, rule of thumb untuk melakukan ekstrapolasi menuntut kita untuk membaca sejarah, membaca pola-pola yang terjadi di masa lalu. Sebut saja membaca laju pertumbuhan penduduk, membaca tren ekonomi, memprediksi gempa bumi, hingga bentuk-bentuk ekstrapolasi lainnya. Sialnya lagi, sekali lagi harus saya tekankan, cara kita membaca sejarah masih sangat buruk.

Apa lagi yang lebih buruk?

Kita tidak menyiapkan teks sejarah yang cukup baik untuk di baca di masa yang akan datang. Tidak ada teks-teks yang cukup baik untuk jadi pedoman dan bacaan mengenai mengapa suatu keputusan diambil saat ini. Tidak ada pengorganisasian narasi-narasi maupun arsip visual yang berubah dalam kurun waktu tertentu.

Jika saya kurang gaul tolong diberi tahu, tapi rasanya kita tidak punya arsip teks yang baik untuk menjelaskan mengapa kita perlu membangun kereta cepat Jakarta-Bandung untuk menjadi pelajaran di waktu yang berikutnya, kita tidak punya teks yang rapi tentang mengapa Bandara Kulon Progo atau Bandara Kerta Jati dibangun secara tiba-tiba. Lebih buruknya lagi, kita juga tidak punya teks yang menjelaskan apa dampak dari pilihan-pilihan pembangunan tersebut guna dipelajari dan dipahami di waktu yang akan datang.


Jika buku catatan Soe Hok Gie saja bisa dijadikan buku yang membakar heroisme dan romantisme anak muda, dan bahkan diangkat menjadi sebuah film yang apik, jika “interpertasi” dari Orwell maupun Huxley terhadap bourgeois dan authoritarianism bisa menjadi teks-teks untuk memahami konteks di masa yang lewat (dan bahkan memprediksi konteks yang akan datang), maka masihkah kita menafikan pentingnya membangun arsip-arsip teks yang rapi untuk menangkap dan menyimpan konteks sekarang?

Yang paling sial adalah, menulis teks untuk menyimpan konteks yang baik membutuhkan satu prasyarat ; kemauan untuk membaca teks yang telah lalu, supaya kita bisa memahami konteks yang terjadi dengan baik dan benar.

)

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade