Relasi Kuasa
Yang paling menyedihkan tentu saja kepalsuan, termasuk komunikasi dan hubungan yang didasari kepalsuan. Dalam hal ini relasi kuasa adalah kepalsuan, setidaknya bagi saya. Meski sebenarnya relasi yang muncul karena keberadaan struktur tertentu, namun bagi saya, cukuplah itu menjadi pemantik awal saja, tanpa perlu menjadi landasan yang langgeng. Relasi kuasa, meski berguna, adalah sebuah mimpi buruk, sekali lagi, setidaknya bagi saya pribadi.
Memang, relasi kuasa adalah sebuah kata benda yang tidak populer. Tapi sebenarnya, hal ini hadir di tengah-tengah kehidupan sosial manusia tanpa disadari. Beruntunglah mereka yang tidak pernah benar-benar sadar mengenai keberadaan relasi kuasa, sebuah relasi yang terikat konstruksi sosial di antara aktor yang berelasi. Sementara, mampus kau orang-orang yang menyadari, bahwa kadang sebuah senyuman dan kebaikan hanya muncul dari sebuah kontrak sosial yang kadangkala, dangkal.
Pada dasarnya, seluruh hubungan antar manusia didasari oleh sebuah kontrak atau struktur yang disepakati. Misalnya kontrak antara orang tua dengan anak, kontrak guru dengan murid, bos dengan pegawai, hingga kontrak lain seperti pelanggan dengan pramuniaga. Kontrak tersebut yang mendefinisikan posisi relatif satu aktor terhadap aktor lainnya, yang kemudian mendefinisikan bagaimana “bentuk” atau “sifat” dari relasi antar aktor tersebut.
Misalnya begini, dalam kontrak guru dan murid terdapat posisi-posisi tertentu yang ditentukan untuk seorang guru dan seorang murid. Dalam kontrak yang umum (tentu ini bisa diperdebatkan dan dipertentangkan, belakangan), guru memiliki posisi relatif yang lebih dominan dibandingkan murid. Dominasi guru terhadap murid ini memunculkan beberapa bentuk dan sifat hubungan antara murid dengan soerang gurunya, dan bagaimana seorang guru selaiknya bersikap pada muridnya.
Adanya aturan-aturan tidak tertulis, seperti “mengapa guru harus bersikap adil, memberikan contoh yang baik dan sebagainya”, sementara murid hendaknya “sopan dan mendengarkan, serta menaruh hormat” tak lepas dari adanya kontrak yang mengikat aktor-aktor tersebut. Namun, seringkali keberadaan struktur itu juga memunculkan bentuk dan sifat-sifat hubungan lain. Misalnya, guru yang menjadi semena-mena terhadap muridnya, dan murid-murid yang suka menjilat pantat gurunya (secara konotasi).
Atau dalam contoh lain, hubungan antara bos dengan anak buah, yang seharusnya didasari nilai-nilai kerjasama dan kepemimpinan, justru bergeser menjadi hubungan otoriter atau hubungan “asal bapak senang”. Kasus “asal bapak senang” ini yang menurut saya adalah salah satu bentuk mimpi buruk dari relasi kuasa yang langgeng.
— -
Mengapa ada orang-orang yang bersikap baik kepada kita? Mengapa ada orang-orang yang mau jauh-jauh menghampiri kita, atau menyediakan waktunya untuk sekedar berbincang dengan kita ditengah kesibukannya? Apakah karena memang hubungan antara kita dengan orang-orang seperti itu didasari kecocokan satu sama lain, adanya kebutuhan transaksional, atau jangan-jangan sekedar karena ada kontrak di antara kita dengan orang tersebut.
Hubungan, atau saya akan menyebutnya sebagai pertemanan supaya tidak menjadi ambigu dengan hubungan yang melibatkan perasaan karena saya sedang membahas hubungan secara general dan bukan hubungan yang melibatkan perasaan, yang derajatnya paling tinggi bagi saya adalah pertemanan yang didasari oleh kesamaan stream atau spektrum. We’re just click, and bang. Memang, tidak semua orang beruntung bisa menemukan kemewahan tersebut. Kebanyakan pertemanan muncul karena proximity atau kedekatan geografis; teman kantor atau teman senasib, meski kadang berbeda stream, meski saya tidak menafikan bahwa pertemanan yang didasari proximity juga bisa membawa ke hal-hal yang mendalam dan membahagiakan.
Ada satu titik dalam hidup saya (atau sebenarnya banyak titik), yang mendorong saya untuk mempertanyakan bentuk-bentuk hubungan (baca ; pertemanan) yang sekarang saya miliki. Apakah semua relasi yang saya miliki ini benar-benar hadir karena saya adalah teman yang baik, atau hanya sekedar buah dari posisi relatif dan kuasa yang terbentuk antara saya dengan teman-teman saya tersebut.
Lebih mengerikan lagi, tentu saja, jika pertemanan yang saya miliki didasari oleh hal-hal yang bersifat transaksional, alias ada maunya. Bisa saja karena berbagai hal yang sebaiknya tidak usah saya sebutkan karena hanya akan menjadikan saya ber-suudzon ria kepada teman-teman saya. Namun, menjelaskan pemikiran ini menjadi satu bagian penting untuk melengkapi maksud saya dalam menuliskan tulisan ini.
Secara tidak sadar, ada suatu keuntungan komparatif yang dimiliki oleh seseorang yang kemudian dinilai bermanfaat oleh orang-orang di sekitar kita. Kadangkala, ada juga orang-orang yang memanfaatkan keunggulan komparatifnya terhadap orang lain untuk membentuk suatu hubungan pertemanan (atau hubungan dengan bentuk lain).
Tanpa bermaksud mengklaim teman-teman yang saya miliki semuanya penuh kepura-puraan, sekali lagi saya perlu menekankan hal ini, supaya konteks dari tulisan ini dipahami dengan utuh, terutama hal-hal yang akan saya tuliskan di bagian akhir.
Dalam konteks yang saya miliki, lingkungan tempat saya berada, beserta individu yang berada di dalamnya, dan tentu saja posisi yang “ditentukan” untuk saya, mau tidak mau membentuk beberapa kontrak-kontrak tertentu pada saya. Misalnya, karena saya adalah seorang senior di lingkungan mahasiswa di kampus (saya bekerja di kampus), maka saya memiliki keuntungan komparatif terhadap teman-teman mahasiswa yang lebih muda dibanding saya. Secara tidak langsung, saya punya relasi kuasa yang menyebabkan apa-apa yang saya ucapkan dan saya sarankan akan lebih legitimate bagi mereka. Ada yang malu-malu menyapa atau “terpaksa” bersikap ramah, tidak bisa dipungkiri juga merupakan buah dari relasi kuasa yang saya miliki akibat keuntungan komparatif akibat hal-hal yang sudah saya jelaskan di atas.
Atau karena saya adalah seorang asisten dosen, maka akan muncul bentuk-bentuk relasi dimana saya akan “dicari” untuk berbagai kepentingan yang tidak usah saya sebutkan. Sekali lagi, bukan bermaksud mendevaluasi niat teman-teman saya berteman yah, tapi ini sebagai suatu penghantar pada konteks.
Atau karena saya beruntung menuntut ilmu, dan kemudian mengadu nasib di kampus yang cukup baik, sehingga ada suatu pelabelan yang menguntungkan saya jika dalam kehidupan bermasyarakat, menyebabkan adanya teman-teman yang ingin bertukar pikiran pada saya. Khusus untuk hal ini, saya kadang bertanya-tanya, apakah ini karena embel-embel almamater yang saya miliki, atau karena memang saya?
— -
Saya masih ingat perkataan Yudki, seorang kenalan dari Teknik Dirgantara angkatan 2009 saat ia dilantik menjadi PJS Presiden KM-ITB tahun 2013. Waktu itu ia berkata
“lepaskan semua atribut yang kita miliki, lepaskan atribut mahasiswa, atribut himpunan, atau atribut insan akademik, maka apa yang tersisa?”
Perkataan Yudki itu yang mendasari penyelaman saya padamulanya terhadap konstruksi dan kontrak sosial, bahwa ada manusia terikat pada embel-embel dan kontrak satu sama lain, dan sialnya mendefinisikan bagaimana cara manusia tersebut berhubungan.
Ada masanya saya bertanya-tanya, jika saya bukan alumni sini, jika saya dan orang-orang tersebut tidak digembleng bersama-sama dengan memiliki musuh bersama saat orientasi, jika saya tidak lahir lebih dahulu, dan jika saya tidak seorang asisten dosen, apakah saya masih memiliki pertemanan yang semenyenangkan sekarang? Ada ketakutan dalam hati saya, jangan-jangan semua hal-hal yang menyenangkan ini hanya berlandaskan relasi kuasa, hanya berdasarkan kedekatan dan nasib semata. Bagaimana jika atribut-atribut saya itu dicabut? Apakah saya juga masih akan memiliki teman-teman sebanyak ini.
Cukup lama saya bergerumul dengan pertanyaan tersebut, mempertanyakan eksistensi dan esensi dari diri saya sendiri. Dan sebenarnya, pertanyaan tersebut bisa dicukupkan sampai di sana. Namun saya tidak sampai hati mendevaluasi dan menegasikan keinginan teman-teman saya untuk berhubungan dengan saya. Apa jangan-jangan saya saja yang terlalu suudzon.
Maka kemudian, pertanyaan tersebut saya lanjutkan.
“Jika semua atribut tersebut dicabut atau dihilangkan dari saya, lantas apa yang tersisa?”
Saya lanjutkan dengan menjawabnya
“Ya saya masih seorang manusia diantara milyaran manusia lainnya”
Sementara itu yang menjadi jawaban saya.
Berangkat dari jawaban sementara tersebut, maka saya melanjutkan pertanyaan tersebut lebih jauh. Jika atribut tersebut hilang, jika relasi kuasa tersebut hilang, maka apa yang membuat seseorang tetap menjadi orang yang menyenangkan untuk dijadikan teman?
“Ya karena dia baik aja”
Baik atau tidaknya seseorang tersebut relatif dalam relasi antar dua aktor. Satu aktor bisa dengan bebas menginterpretasikan atribut aktor yang sedang berelasi dengannya. Mendefinisikan “kebaikan”, saya mengutip secara bebas dialog panjang antara Plato dan murid-muridnya, yang mana kebaikan often refers to and denotes that conduct which is to be preferred and prescribed by society and its social constituents as beneficial and useful to the social needs of society and its preferred conventions, alias disukai dan bermanfaat. Bukan berarti menjadi orang baik adalah membuat semua orang senang alias menjadi penjilat dan bermuka banyak. Ya, gitu dah, ngerti kan?
Singkat kata, semua cita-cita saya yang dulu luar biasa indah dan megah tersebut, saya hancurkan dan saya hanyutkan ke sungai yang bermuara entah kemana. Saya kemudian menggantikan cita-cita tersebut menjadi sebuah pondok kecil dengan pekarangan sejuk yang teramat luas, yang ditumbuhi berbagai macam buah-buahan dan bisa digunakan untuk piknik oleh semua orang.
Jika semua atribut dan relasi kuasa tersebut hilang, maka apa yang tersisa?
“Ya karena lo baik aja”
Kemudian, saya hanya bercita-cita menjadi orang baik, yang tentu saja tidak “saja”.
