Kumuh dan Tidak Teratur

“Kumuh dan tidak teratur.” Kalimat itu yang membuka mulut saya untuk bersuara. Awalnya, saya tidak seprihatin itu dengan daerah ini. Beberapa gang di daerah Cigondewah, salah satu jalan di sudut Kabupaten Bandung, jalan yang terkenal dengan produksi garmen.

Pertama kali untuk menginjakan kaki di Cigondewah, Sabtu, 21 Maret 2015, saya disambut oleh toko-toko yang berhadapan. Warna-warni kain yang coraknya luar biasa indah. Penjualnya pun membuka pertemuan saya dengan senyuman. Hanya untuk beberapa waktu, setelah saya selesai bertanya-tanya, ada sebuah gang yang cukup mencolok. Dari luar sudah terlihat beberapa jemuran baju yang digantung di dinding gang. Dengan rasa penasaran, saya berjalan ke dalam.

Teringat masa lalu yang membuat saya tersenyum tipis, tapi miris. Waktu saya kecil, permainan yang bernama petak-umpet sedang dalam zaman keemasan. Hampir semua anak kecil dalam satu komplek perumahan tahu permainan tersebut. Tidak ada lagi istilah untuk bermain di rumah atau bahkan bermain ponsel sendirian. Saya teringat gang-gang kecil saat bermain petak-umpet dan di beberapa tempat sudah menjadi ‘langganan’ bersembunyi anak kecil.

Tidak hanya itu, dalam satu grup, semuanya pernah merasakan menjadi ucing atau ‘pencari’. Untuk itu, semua teman saya bisa mencari sampai titik tersusah untuk bersembunyi. Gang ini seperti lorong waktu yang membawa saya ke masa kecil. Ditambah anak-anak kecil yang sedang bernyanyi dan berlari-larian.

Bagian mirisnya adalah sampah yang berserakan dan kondisi rumah yang tidak layak. Dalam hati, saya berbicara, “Apa yang membuat mereka bisa tinggal di sini?” Sampah yang menyumbat gorong-gorong bisa menjadi salah satu faktor banjir dan terutama sumber penyakit. Mereka tidak menghiraukan hal itu, terlihat dari tawa mereka saat menyambut orang baru. Kondisi rumahnya pun tidak layak, karena terlihat hanya lorong yang berisi kasur sekaligus dapur. Bahkan, hanya ada beberapa yang tidak memakai kasur, hanya sofa. “Hanya satu petak?” Saya masih berpikir dan dahi ini mengerut. Untuk seluruh toko di jalan yang penghasilannya bisa lebih dari 1jt/hari, saya kecewa dengan gang di belakangnya.

Saya merasa belum cukup untuk berhenti, akhirnya saya memutuskan untuk menyusurinya lebih dalam. Gang-gang yang sempit membuat saya semakin penasaran. Akhirnya terbukalah sebuah pemandangan hijau. Sawah. Saya melihat beberapa petak sawah sekaligus petani yang sedang memupuki tanah. Namun, saya sudah melihat aliran air yang kotor dan tidak layak untuk dijadikan standar. Selesai berkeliling sawah, matahari yang terik menjadi saksi anak kecil yang sedang bermain.

Saya bisa melihat wajah mereka yang cukup asing. Masih memakai Bahasa Sunda yang halus, mereka menyapa. Terdengar saat mereka bernyanyi, ada sayup-sayup Pupuh Kinanti. Entah, tidak begitu mengerti maksudnya dari nyanyian itu. Hal yang pasti adalah mereka tertawa nan ceria. Cukup untuk berkeliling di sawah.

Kali ini, saya memasuki gang lain untuk disusur. Tidak menyangka, gang yang ini lebih aneh dan kumuh. Tidak hanya jemuran baju yang berantakan, sampah juga berserakan di pintu gerbang yang saya masuki. Bau yang tidak karuan ditambah sampah yang terkena air hujan seperti hal biasa bagi mereka. Keluar seorang ibu dari rumahnya, ia ingin menyerok hasil panen yang sedang dijemur. Betapa ironisnya saat itu, saya rasakan bahwa seorang ibu mencari penghasilan dari bibit padi diantara gundukan sampah yang menyebarkan bibit penyakit.

Parasnya tetap datar. Ia tidak seakan tidak menyambut kedatangan saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mendekatinya. Setelah beberapa saat, baru saya sadari bahwa saya berdiri di depan kuburan. Mungkin ini suatu budaya, saya melihat kuburan itu tidak dirawat dan hanya dibiarkan berantakan di belakang rumah.

Kuburan yang saya lihat tidak hanya satu, tapi masih ada dua atau tiga lagi yang berdekatan. Pohon-pohon yang masih beroksigen juga menjadi latar dari kuburan tersebut. Teringat sebuah cerita dari teman saya. Kampung halamannya juga membudayakan hal seperti itu. Ia bercerita bahwa nenek dan kakeknya berpesan untuk tidak dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU). Cukup di halaman belakang rumah. Kuburan itu dirawat dengan baik dan dapat dipercayai bahwa arwahnya tetap dekat dengan rumah.

Lagi-lagi pengalaman ini berkorelasi. Tidak cukup sampai di situ, saya memilih untuk berkeliling lagi. Saya bertemu anak kecil dari yang aktif sampai yang masih disusui. Saya masih melihat petak-petak yang sempit dan tata ruang yang kurang pas. Mulai timbul kecurigaan saat melihat empat anak kecil dengan satu ibu.

Awalnya saya tidak menghiraukan hal tersebut. Saya kembali berjalan dan melihat hal yang sama. Meski tidak persis, tapi stimuli itu sudah bisa menjadi pola. Saya bertanya dalam hati, “di mana Ayah mereka?” Saya tidak ingin berspekulasi apa-apa. Itu hanya pertanyaan atas dasar penasaran. Tidak lebih dan tidak kurang. Saya tidak ingin menduga hal-hal buruk lainnya. Saat itu saya menyadari bahwa memendam pertanyaan yang ‘bisa’ diduga jawabannya adalah hal yang memuakan.

Untuk itu, saya hanya butuh satu orang yang mengonfirmasi pertanyaan ini. Saya dekati anak kecil yang sedang bermain dengan mainannya. Kami mulai bertatapan. Ia membuka dengan senyuman manis nan lucu. Muncul perasaan tidak tega dan pertanyaan itu hampir ‘hilang’. Dalam benak ini, saya berpikir, kemungkinan apa yang akan terjadi.

Pertama, mungkin ia tidak akan tahu ayahnya di mana. Itu kemungkinan paling buruk dan sejujurnya saya tidak ingin mendengar itu. Kedua, ia akan menyebutkan ayahnya di mana. Sejujurnya saya merasa senang dan akan saya ‘tendang’ dugaan itu sejauh-jauhnya. Ketiga, ia tidak akan menjawab dan kembali bermain dengan mainannya. Namun, kemungkinan ini yang akan membawa rasa penasaran saya sampai pulang dan tidak terjawab.

“Hai, dek, Ayahmu di mana?” pertanyaan itu terlontar ketika 10 detik setelah kami bertatapan. Saya sudah siap dengan kemungkinan apapun. Saya menarik nafas. Akhirnya ia memilih pada kemungkinan ketiga. Rasa penasaran ini meledak. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi dengan senyuman yang bertanda “terima kasih atas jawabannya”

Tidak terasa ketika sedang berjalan, saya menemukan satu sekolah. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Plus Sindang Resmi, lebih tepatnya. Sebuah SMP dipinggir jalan yang masih terbilang indah. Udara yang sejuk, karena pohon ridang. Cukup menenangkan setelah pemandangan yang kumuh. Latar biru pada dinding sekolah itu, seperti baru dicat ulang. Pada pintu depan, ada sebuah papan bertuliskan tentang tawakal dan kesejahteraan.

Namun, saya sayangkan bahwa hari itu semua orang libur. Tidak ada aktivitas di sekolah itu. Setidaknya, saya bisa melihat sisi lain dari daerah Cigondewah yang berlatar pendidikan dari SMP yang diresmikan Walikota Bandung tahun 2003. Tidak hanya, sebuah kotoran dan tata ruang yang memuakan. Hanya beristirahat dan duduk dekat pohon sudah membuat saya kembali tenang.

Sampailah saya di luar. Dengan siang yang cerah, sekitar pukul 13.40, saya duduk dekat toko. Jujur, saya kembali kesal dengan pemandangan yang tidak memuaskan sama sekali. Ironis saat melihat mereka tersenyum dengan pelanggan yang sedang menawar harga. Rekaman itu masih melekat di memori saya. Gang-gang yang tidak terperhatikan, sampah yang tidak ditambung, dan sumber air yang tersumbat, menjadi paradoks.

“Dengan harga kain 45rb/kilo, tidak bisakah mereka menyisihkan uangnya untuk membangun daerah ini?” kalimat itu yang terlintas di pikiran saya. Rupanya, tidak semua penjual yang berdomisili di daerah ini. Ada beberapa yang memang datang untuk berjualan dan tinggal di tempat lain. Menurut saya itu suatu hal yang tidak adil.

Seperti datang untuk memetik buah, tapi tidak memberikan royalty pada penanam bibitnya. Untuk Cigondewah yang dulunya pesawahan, sekarang berganti menjadi industri. Dari pihak pertama, dibeli oleh pihak kedua. Cigondewah adalah pihak keduanya. Memang pembangunan industri bisa menjadi jalan keluar untuk mata pencaharian, tetapi jika tidak membangun daerah sendiri, lambat-laun usahanya nihil.

Tidak semua sadar betapa tidak nyamannya hidup dalam gang. Tidak semua sadar bahwa bau sampah setiap hari akan menjadi masalah. Tidak semua sadar bahwa air-air yang kotor dapat menyebabkan penyakit. Tidak semua sadar untuk berubah. Untuk definisi “kumuh” yang saya temukan, gang Cigondewah termasuk dalam hal ini. Akhirnya saya memutuskan untuk pulan

Setidaknya, hal itu yang saya simpulkan dalam observasi di Cigondewah. Mereka memikirkan untuk mencari uang. Bisa hidup, bisa makan, dan punya anak. Lalu, entah ke mana kebahagiaan itu, mungkin hanya beberapa orang yang merasakannya. Selebihnya hanya tidur dalam satu petak kamar nan sempit dan mungkin mereka berharap untuk “tidak bangun lagi” esok hari.