Kok Bisa Jadi Penulis?

Rasanya seperti kemarin.

Menjadi seorang anak kecil dengan timbunan imajinasi di dalam kepala. Bermain bersama robot-robotan dengan cerita yang kurajut sendiri. Melamun di sekolah, berpikir tentang cerita apa yang akan dimainkan lagi. Tak sabar pulang sekolah. Lalu, tahu-tahu, sudah beranjak dewasa. Terlalu malu menyentuh robot-robotan. Namun, imajinasi itu tetap bertahan di dalam kepala, bersinar tapi berusaha diredupkan oleh realita.

Sungguh, rasanya seperti kemarin.

Membaca buku pertama. Tenggelam dalam imajinasi yang dibalut dalam kata-kata indah. Lalu, jatuh cinta. Seolah menemukan apa yang telah lama kucari. Aku ingin menulis sebuah buku, batinku kala itu di sebuah angkutan umum.

Kemudian mencoba-coba menulis, menghidupkan kembali imajinasi yang nyaris mati. Membaca lebih banyak buku. Mempelajari bagaimana para penulis memulai tulisan mereka, merajut kisah hingga menjadi sebuah buku yang tebal, mengingat-ingat kembali Ejaan Bahasa Indonesia, mengikuti komunitas untuk belajar menulis, bertukar cerita dengan teman dan saling memberi saran. Membaca, menulis, membaca, menulis. Mengirimkan tulisan-tulisan tersebut ke media. Entah berapa banyak. Kebanyakan ditolak. Tetapi, aku belajar banyak.

Rasanya benar-benar seperti kemarin.

Masa-masa KKN di sebuah desa. Sendirian di kamar karena tak tahu bagaimana harus berbaur. Menulis sebuah cerita di ponsel Nokia. Yang setahun kemudian menjelma novel. Novel pertamaku. Dilema; Tiga Cerita untuk Satu Rasa. Tahun 2012.

Lalu, tahun 2013. Telepon dari seorang editor. Ajakan menulis novel kedua. Yang kemudian menjelma Swiss: Little Snow in Zurich.

Lompat ke tahun 2015, novel ketigaku terbit, I Love You; I Just Can’t Tell You. Dan, ini adalah novel terakhir yang pernah kuterbitkan.

Lagi-lagi, rasanya seperti kemarin.

Pada tanggal 8 Agustus 2016, aku memulai petualangan baru. Menulis lewat media digital. Di Wattpad. Sebuah novel keempat berjudul Dan Dia Kembali. Menulis kisah bersambung ini selama setahun. Bertemu pembaca-pembaca baru yang begitu suportif. Nyaris dibaca sejuta kali.

Lalu, aku pensiun menulis novel fiksi. Menutup semua akses pada novel-novelku. Kukira… aku tak akan pernah menerbitkan buku lagi.

Tetapi, aku tidak mau berhenti menulis.

Berbekal pengalaman menjadi tempat kerabat terdekat curhat, aku mencoba mengganti haluan tulisan: Sebuah nasihat. Nasihat yang dibalut diksi sederhana nan manis. Membagikan tulisan-tulisan berisi nasihat ini di Instagram. Berharap bermanfaat bagi orang sekitar. Dengan followers yang masih sedikit. Mulai dari sana, aku berkembang. Tulisan yang lebih banyak. Ide-ide buku baru. Followers yang meningkat. Sampai hari ini. Sampai bertemu kamu.

Rasanya sudah bukan seperti kemarin. Sekarang sudah hari ini.

Aku duduk di depan komputerku, membaca komentar-komentar positif dari teman-teman pembaca di media sosial, tersenyum tenang, ikut antusias oleh antusiasme mereka menanti pre-order Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta.

Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, segera hadir di Gramedia, Desember 2018

Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta. Buku pertamaku setelah tiga tahun tak menerbitkan buku. Buku pertamaku setelah memutuskan berhenti menulis novel fiksi. Buku pertamaku di era yang baru. Buku yang tak pernah kupikir akan kutulis. Sekarang telah tertulis, siap menetap di rak bukumu.

Oh, sepertinya aku bercerita terlalu banyak. Sampai-sampai melupakan pertanyaanku.

Kok bisa jadi penulis?

Jika kamu memperhatikan cerita di atas baik-baik, menarik satu garis merah, ada satu hal yang kulakukan sampai aku bisa jadi penulis:

Aku menulis. Sesederhana itu.

Aku menulis. Lalu, konsisten — sejak 2012.

Aku menulis. Lalu, terus belajar — membaca, membaca, membaca.

Aku menulis. Lalu, mencoba berbagai cara baru — fiksi, nonfiksi, Wattpad, Instagram.

Aku menulis. Dan, berdoa.

Sesederhana itu, temanku:

Menulis.[]

— Alvi Syahrin
( Instagram | Twitter | Telegram | Wattpad | Shopee : alvisyhrn)

Sebelum Kamu Pergi

Sebagai bentuk dukungan untuk tulisanku, ikuti aku di media sosial yang kusebutkan di atas. Juga, bersiaplah mengikuti pre-order Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta di sini! 2 Desember 2018.