Berapa lama lagi, Citarum?

Alwi Yusran
Sep 5, 2018 · 5 min read

Alwi Yusran/15417128

Citarum penuh sampah. Sumber: viva.co.id

[PROLOG]

Banyak orang mengatakan, Walikota Bandung belum bisa dikatan sukses jika belum menyetuh Cicadas. Lebih jauh, Gubernur Jawa Barat belum bisa dikatakan sukses jika belum membenahi Sungai Citarum.

Sudah 15 tahun penulis tinggal di Bandung, Cicadas dengan perkampungan kumuh, premanisme juga PKL sudah melekat pada daerah tersebut. Masalah memang tak sepenuhnya usai, namun bagi penulis, pemerintah sudah melakukan pendekatan dan perkembangan yang jauh lebih baik dari periode sebelemunya.

Namun belakangan, Sungai Citarum adalah masalah yang berbeda, Citarum adalah masalah lama yang tak kunjung selesai. Namun dalam satu tahun terakhir media memanas, Citarum menjadi masalah yang menjadi menarik untuk dibahas. Bukan lagi masalah revitalisasi sungai yang termasuk salah satu yang tercemar di dunia, militer terjun ke lapangan atau kini PTN dan PTS diarahkan untuk melakukan KKN di Citarum. Namun pun ada kepentingan elektoral, kepentingan kekuasaan untuk menarik simpati masyarakat Jawa Barat karena banyak masyarakat Jawa Barat menganggap Citarum sebagai indikator tata kelola pemerintahan. Tak disangka pula, masalah sungai bisa menjadi masalah yang semenarik itu.

[Sungai Terpanjang di Tatar Pasundan]

Citarum Dahulu. Sumber:kaskus.co.id

Secara etimologi, Citarum disusun oleh dua kata yaitu Ci berarti sungai dan Tarum yang berarti nama tumbuhan penghasil warna nila. Mengalir sejauh 300 km dan pada sejarahnya merupakan batas antara kerajaan Galuh dan kerajaan Sunda. Citarum kini, semenjak 2007 dinobatkan sebagai salah satu sungai tercemar di dunia dan di saat yang sama pula merupakan bagian dari ketahanan nasional. Wajar saja, air sungai Citarum dikonsumsi 80 persen warga DKI , menjadi sumber irigasi 420 ribu hektare sawah di Jawa Barat dan pemasok listrik 1.888 watt untuk Jawa dan Bali.

Citarum dahulu adalah sumber peradaban, sejak lama citarum dapat dilayari perahu kecil, 34 spesies ikan tercatat pernah hidup disana dan 3 waduk dibagun sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) . Citarum dahulu, bukan pula Citarum sekarang. Industrialisasi yang semakin tajam membuat Citarum terpaksa harus menerima limbah-limbah pabrik di sekitar kawasan sungai, diperparah dengan pertambahan penduduk yang semakin tidak wajar mengakibatkan sampah terus menumpuk dan menghambat aliran sungai.

[Berbagai Jurus Menghadapi Citarum]

sumber : Mongabay.co.id

Pemerintah bukannya tanpa langkah dan mati langkah. Di tahun 2003 digaungkan program Citarum Bergetar (bersih, geulis (cantik dalam bahasa sunda) dan lestari). Program ini berfokus pada pengendalian pemulihan konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Program ini dianggap gagal karena belum mampu mengatasi pencemaran Citarum.

Lain tahun, lain program, pada 2008, pemerintah menyepakati tawaran pinjaman dari Asian Development Bank (ADB) untuk memulihkan Citarum. Besar paket pinjaman itu senilai USD 500 juta atau sekitar Rp 6,7 triliun untuk program selama 15 tahun. Namun baru berjalan 3 tahun, beberapa kalangan menemukan ketidakcocokan jumlah masyarakat terdampak dengan proyek Rehabilitasi Kanal Tarum Barat — proyek pertama Citarum Terpadu. Program justru dianggap merugikan warga, tidak jelas, bahkan tidak sesuai dengan tujuan awal pelaksanaan proyek, serta minus transparansi anggaran.

Pada tahun 2013, lahir gerakan Citarum Bestari. Bestari bermakna bersih, sehat, indah dan lestari. Namun program ini dianggap berbagai kalangan sebagai gerakan yang mengada-ada, pemerintah ingin pada tahun 2018, sungai Citarum yang merupakan salah satu sungai tercemar di dunia dapat langsung diminum dan bersih oleh masyarakat. Pada akhirnya, program ini dianggap gagal karena tidak ada sinergitas antara kabupaten-kabupaten.

[Campur Tangan Militer dan Perguruan Tinggi]

Sumber : cnnindonesia.com

Ketika Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Doni Monardo menerima tongkat kepemimpinan Komando Daerah Militer III/ Siliwangi (Kodam III/ Siliwangi) pada 14 November 2017 silam, dia memilh untuk tidak berleha-leha, ia langsung memilih program prioritas nonperang yang bisa dia kerjakan bersama para prajuritnya, dalam kasus ini ia memilih masalah pembersihan Citarum dan kemudian di gagaslah program Citarum Harum. Tercatat program ini menerjukan 7.100 personel gabungan yang dibagi 22 sektor.

Tak ketinggalan, di awal tahun 2018, Presiden Joko Widodo memulai rapat terbatas (ratas) yang membahas tentang Citarum. Hasilnya , Jokowi menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum yang diterbitkan pada 14 Maret 2018.

Namun, peneliti politik menduga ada kepentingan politik dalam masalah revitalisasi Citarum tersebut. Disebutkan bahwa Jokowi pun melihat ada kesempatan untuk mengikat hati masyarakat Jabar lebih banyak untuk Pilpres 2019 mendatang. Karena sebelumnya, partai pengusung Jokowi, PDIP, belum pernah memenangi kontestasi di Jawa Barat.

Tak ketinggalan, peran perguruan tinggi UPI dan UGM yang telah melakukan KKN di Sungai Citarum. Selain itu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, pihaknya akan menginstruksikan seluruh PTN dan PTS di Jawa Barat dan DKI Jakarta agar ikut pada program Citarum Harum. Setiap enam bulan akan ada 250 mahasiswa yang melakukan KKN di wilayah tersebut dan kemudian digantikan oleh universitas lainnya.

[EPILOG]

Presiden Joko Widodo menjanjikan dalam 7 tahun semenjak Citarum Harum berjalan, Citarum akan menjadi sungai paling bersih. Entah penulis saja yang merasa kalau masalah Citarum ini gempar karena video dokumenter Gary dan Sam Bencheghib, dua kakak beradik warga Perancis, mendayung sampannya yang terbuat dari botol plastik bekas, di tengah sampah yang dibuang di sungai Citarum, pertengahan tahun lalu. Tapi memang dirasa masalah Citarum sangat hangat setelah video dokumenter itu muncul.

Terlepas janji memang janji, atau tanpa janji akan sama saja . Yang jelas, dengan adanya janji pun tidak ada alasan untuk hanya menunggu. Terlepas oleh kepentingan politik dan publik, alam adalah bagian lain dari semua kepentingan itu. Ketika militer turun ke lapangan, itu artinya sudah gawat. Dan ketika sungai dialiri sampah, ikan mati karena manusia, manusia kebingunan mencari air karena manusia lain, itu artinya semua pihak harus bergerak. Karena, berapa lama lagi kita harus menunggu? atau berapa lama Citarum harus menunggu?

DAFTAR PUSTAKA

Faiz, D. (2018). Citarum, Antara “Perang” Doni Monardo dan Taktik Jokowi. Retrieved from https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180326201130-32-286082/citarum-antara-perang-doni-monardo-dan-taktik-jokowi

Syafira, F. (2018). Jokowi janji bersihkan sungai Citarum: berawal dari kritikan film dokumenter? Retrieved from https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-43252218

    Alwi Yusran

    Written by

    /urbanplanner/ kataquokka.blogspot.com

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade