Jane Jacobs, Pahlawan Kota Humanis
Alwi Yusran/15417128

Tertanggal 4 Mei 2016, ratus ribu bahkan jutaan orang matanya tertuju pada doodle unik yang menggambarkan tata kota yang rapi, dengan sosok wanita berambut abu-abu dan kacamata biru, memperingati 100 tahun kelahiran wanita tersebut. Seorang wanita pakar studi urban terkemuka namun tidak memiliki gelar dan pelatihan formal sama sekali yang terkait dengan tata kota. Seorang penulis yang bukunya merupakan salah satu yang terlaris dalam sejarah dan menjadi inspirasi bagi para Planner di Amerika dan memengaruhi perkembangan kota disana. Melawan dogma perencanaan modernis, seorang penggerak gerakan akar rumput , penggagas kota yang humanis dan pernah di penjara karenanya. Bagi penulis sendiri, tanpa menurunkan nama besar beliau, mungkin begitulah cara penulis menggambarkan sosok wanita tersebut, Jane Jacobs.
Tentang Jane Jacobs
Jane Jacobs berdarah Amerika-Kanada dan bergelut sebagai wartawan, penulis dan aktivis bidang studi urban. Lahir di Scranton, Pennsylvania, 4 Mei 1916. Dalam keberjalanan hidupnya, ia pernah belajar di bidang geologi, zoologi, hukum, ilmu politik, dan ekonomi di Colombia University . Kritik selalu dekat dengan Jane Jacobs dan apa yang ia tuliskan dalam buku “ The Death and Life of Great American Cities” merupakan salah satu bukti hal tersebut. Kritikan itu mendarat pada perencana ‘rasionalis’ yang menolak kota. Baginya sendiri, para perencana kota modern menganggap manusia sebagai sumber kekacauan dan menolak kota yang didalamnya hidup manusia sebagai komunitas yang dicirikan oleh kerumitan berlapis, seperti kemacetan dan kekumuhan.
“The Death and Life of American Cities” dan “The Garden City”
Semua itu berawal ketika ia mengunjungi North End, Boston di tahun 1959. Di saat yang sama ia melihat daerah itu sebagai lingkungan yang ramah, aman dan sehat. Namun, di saat itu pula para perencana modern menganggap daerah itu sebagai perkampungan kumuh yang membutuhkan pembaharuan dan Jane menganggap “Urbanisme Ortodoks” telah merasuki pemikiran para perencana. Memulai memahami Urbanisme Ortodoks adalah bagaimana memulai dengan The Garden City.
The Garden City adalah sebuah kota mandiri yang dihilangkan dari kebisingan dan kemelaratan akhir abad ke-19 di London, kota kebun dibangun berbentuk pemukiman yang terencana yang dikelilingi “sabuk hijau” (taman) terdiri dari kawasan pemukiman, industri dan pertanian yang tersebar merata. The Garden City ideal mampu menampung 32.000 orang pada daerah seluas 6.000 are, terencana dalam pola konsentris dengan ruang terbuka, taman umum dan enam adimarga melingkar selebar 120 ft (37 m), menyebar dari pusatnya. The Garden City menyerukan otoritas publik permanen untuk secara hati-hati mengatur penggunaan lahan dan menangkal godaan untuk meningkatkan aktivitas komersial atau kepadatan penduduk.

Bagi Jane, kota adalah organisme yang dinamis. Itu terbukti betul dalam kasus North End, dimana wilayah yang dianggap kumuh dan tidak terawat dapat menjadi wilayah yang tidak lagi kumuh setelah ada interaksi sosial dan kesadaran masyarakat . Begitu pula apa yang terjadi dengan Garden City, sebagai organisme yang dinamis, Garden City dianggap bagi Jane mengotak-atik fungsi perkotaan dan tidak membiarkannya tumbuh secara organis.
Sang Pahlawan Anti Penggusuran dan Akhir dari kisah
Jane Jacobs adalah seorang pahlawan bagi warga Greenvillage, Manhattan, New York City, tempat tinggalnya. Cerita itu berlatar dan dimulai sekitar tahun 1950–1960, ketika seorang pejabat publik bernama Robert Moses ingin mengubah Greenvillage untuk perluasan lingkungan New York University dan pembangunan jalan bebas hambatan yang bernama Lower Manhattan Expressway (LOMEX). Akibatnya 132 keluarga harus mengungsi dan lebih dari 1000 usaha kecil harus pindah.
Tak berhenti disitu, merasa wilayah tempat tinggalnya diganggu akhirnya ia melawan dengan membuat sebuah komite yang diberi nama Joint Committee to Stop the Lower Manhattan Expressway (Komite Bersama untuk Menghentikan Lower Manhattan Expressway). Hingga pada puncaknya, tahun 1968 Jane Jacob harus mendekam di penjara akibat dituduh menghasut massa untuk melawan dengan berbuat kejahatan kriminal dan menghalangi administrasi publik.
Perjuangan nya mewujudkan kota yang humanis tak hanya berhenti sampai gerakan akar rumput yang ia lakukan di Greenvillage. Lebih dari itu begitu banyak tulisan yang telah ia terbitkan. Namun sayang, perjuangan itu harus berakhir di Toronto, Kanada, pada 25 April 2006. Jane Jacobs harus menghembuskan nafas terakhirnya setelah bertarung dengan stroke.

Bagi penulis sendiri, sosok Jane adalah sosok seorang perencana yang kisahnya mungkin tak akan kita dengar kembali. Seorang pejuang di lapangan dan di saat yang sama mengedukasi masyarakat luas melalui karyanya, seorang humanis yang menjadi pelopor dan pahlawan. Lebih dari itu , bagi penulis Jane Jacobs telah menyadarkan bahwa kota bukanlah bagaimana gedung gedung berdiri, kawasan industri yang tak kunjung berhenti atau pertanian yang terus memproduksi. Tapi adalah bagaimana manusia yang ada di kota itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Jabar.tribunnews.com. (2016). No Title. Retrieved September 2, 2018, from http://jabar.tribunnews.com/2016/05/04/sosok-wanita-bernama-jane-jacob-yang-menjadi-google-doodle-hari-ini
Wikipedia.org. (2018). Jane Jacobs. Retrieved from https://en.wikipedia.org/wiki/Jane_Jacobs