Pembangunan Taman Asia Afrika di Kiaracondong

Alwi Yusran
Sep 9, 2018 · 3 min read

Alwi Yusran/15417128

Taman Asia Afrika. Sumber:jabar.tribunnews.com

Permintaan itu datang dari negara-negara Asia dan Afrika untuk meminta agar dibuat sebuah tempat yang mempresentasikan Konferensi Asia Afrika, tentunya selain gedung merdeka. Sebuah taman akan dibangun, Taman Asia Afrika sekaligus sebagai Alun-Alun Kiaracondong, untuk sekian kalinya taman yang sudah dibangun dalam era Ridwan Kamil. Mengenai tempat, penulis terkejut betul pembangunan Taman yang katanya sudah dilakukan November tahun lalu, ternyata tak lebih dari 1km berada jarak dari rumah penulis.

Saat masih duduk di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, penulis acapkali atau bisa dikatakan setiap hari melewati lokasi tersebut. Pada waktu yang lalu, lokasi tersebut ditempati pemukiman penduduk juga pabrik. Namun, beberapa tahun kemudan, semua beton yang berdiri di tanah tersebut rata oleh tanah, penduduk berkumpul melihat untuk terakhir kalinya rumah mereka, juga lucunya orang-orang yang terlibat kemacetan lebih asyik menanggapi penggusuran daripada gusar akan kemacetan. Mungkin pula, kemacetan lebih sering terjadi dari penggusuran. Polisi berdatangan, Pamong Praja juga hadir ditambah pula kehadiran TNI dan alat berat seperti excavator dan loader.

Penolakan-penolakan itu ada. Dengan dalih penggusuran dilakukan secara tiba-tiba ,dilain sisi pemerintah menegaskan sudah mengeluarkan surat pemberitahuan sebanyak 3 kali. Adapun dalih kompensasi karena sebagian rumah yang digusur adalah lahan komersil. Ditambah lagi dengan warga yang merasa dilakukan tidak adil. Banyak warga yang sedang dalam keadaan sakit terpaksa harus digusur, terlebih salah satu warga tersebut adalah mantan atlet nasional yang sudah berjibaku dalam berbagai kejuaraan.

Mantan atlet senam, Amin Ikhsan (42) terbaring di kasur seusai menjalani cuci darahdi tenda saming rumahnya. Sumber : jabar.tribunnews.com

Berikut beberapa kondisi yang membuat penulis bingung, dimana warga-warga yang melakukan penolakan, memlilih untuk tetap tinggal dengan beralas kasur di atas puing bangunan. Cara mereka mengumpulkan uang adalah bergotong royong mengumpulkan sisa-sia puing dan menjualnya. Sumbangan di jalanan pun di lakukan, bahkan melibatkan anak-anak, namun tentunya dengan mendahulukan jam sekolah mereka terlebih dahulu. Poin penting dimana penulis kebingungan adalah kenapa warga lebih memilih tinggal di atas puing, padahal upaya pemindahan warga sudah dilakukan se-demokratis mungkin. Memang pembangunan tak akan pernah luput dari rintangan.

Terlepas dari berbagai penolakan, baru diketahui pula oleh penulis, ternyata kesepakatan lahan yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Bandung tersebut sudah terjalin kerjasama dengan pihak swasta pada permulaan 1990 silam. Rencana revitalisasi Kiaracondong ini berkerja sama dengan PT Mega Chandra Parabuan (MCP) dengan kontrak higga 2038 dengan target saat itu akan dibangun pusat perbelanjaan dan perkantoran modern.

Lain tahun, fungsi lahan itu pun berubah , taman sekaligus alun-alun akan dibangun seluas 2,6 hektar. Luasan tersebut merupakan kewajiban pembangunan Ruang Terbuka Hijau di atas lahan seluas 13 hektar milik Pemerintah Kota Bandung yang akan dibangun kemudian hari. Pengelolaan sisa lahan di Jalan Kiaracondong itu juga akan langsung dikerjasamakan dengan PT. BII. Berbagai infrastruktur akan dibangun, bentuknya bisa berupa zona ekonomi atau hunian, sesuai dengan kebutuhan. Pembangunan pasar pun diproritaskan dan diperuntukkan warga yang pernah tinggal disini.

Secara garis besar penulis sangat senang dengan pembangunan ini. Pembangunan taman seluas itu tentu akan membuat Kiaracondong lebih hijau dan tertata. Taman Asia Afrika bukan hanya sebagai Ruang Terbuka Hijau, namun pula akan dibangun danau buatan sebagai penangkal banjir di kawasan Bandung Timur. Di lain sisi pihak-pihak swasta akan bermunculan, namun bagaimana dengan kemacaten? Terlebih pembangunan apartemen rakyat yang penulis pikir pemerintah sangat bertanggung jawab terhadap warga yang dahulu tinggal di tempat tersebut. Namun, ada rasa pesimis pada penulis karena lahan kosong dalam beberapa bulan sama sekali tidak dilakukan pengerjaan apapun. Jika terhitung target enam bulan ada sejak November 2017, maka seharusnya pertengahan tahun ini Taman Asia Afrika sudah dapat di akses masyarakat. Kenyataannya memang harus dikatan jauh dar harapan.

DAFTAR PUSTAKA

Taman Asia Afrika Ada di Kiaracondong. (2017). Retrieved from http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2017/11/03/taman-asia-afrika-ada-di-kiaracondong-412940

8 Bangunan Dibongkar. (2015). Retrieved from https://daerah.sindonews.com/read/965828/151/delapan-bangunan-dibongkar-1424229214

SM, T. (2015). Pemkot Tetap Relokasi Keluarga yang Menolak Pindah dari Kiaracondong. Retrieved from http://jabar.tribunnews.com/2015/08/07/pemkot-tetap-relokasi-keluarga-yang-menolak-pindah-dari-kiaracondong

Ispranoto, T. (2017). Digusur, Warga Gugat Pemkot Bandung Rp52 Triliun. Retrieved from https://news.okezone.com/read/2015/10/07/525/1227474/digusur-warga-gugat-pemkot-bandung-rp52-triliun

    Written by

    /urbanplanner/ kataquokka.blogspot.com

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade