Putra

Maaf.

Maaf belum bisa menjadi putra yang baik.

Maaf belum bisa menurunkan sifat kerja keras mu, yah.

Maaf belum bisa menurunkan sifat berani mu, ma.

Maaf hanya terus menerus membuat kalian khawatir.

Maaf selalu melanggar apa yang seharusnya tidak dilanggar.

Maafkan putra mu yang tak pernah merindukan rumah.

Tapi maaf, putra mu hanya ingin menjadi dirinya sendiri.

Tak ada yang bisa disalahkan, tak ada yang perlu disalahkan.

Hanya doa yang bisa diucapkan dalam hati agar kalian bahagia di sisa umur kalian. Apapun pilihan kalian.

Dari putra mu, yang belum siap pulang ke dua rumah.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.