Sesederhana itu…

Perihal cinta itu…

Kupikir cintaku kepadamu cukup bisa dibilang sederhana.

Ini mengingatkanku kembali pada obrolan chat kita saat kita berdua memutuskan untuk sama-sama mengungkap rasa.

“Apa yang membuatmu menyukaiku?”

Seketika aku termenung, jemariku terhenti. Benakku berpikir

Ah iya! Aku melupakan alasan utama dari rasaku.

  • Kau baik. Ah, tidak juga
  • Kau ganteng. Tidak
  • Kau care. Banyak yang lebih care

Kau kembali membalas, menuntut jawaban atas pertanyaanmu.

Tidak ada. Aku menyukaimu tanpa alasan.

Klasik ya? Tapi itu memang adanya.

Kau menuntut lagi. Kau bilang mana mungkin. Semua itu ada alasan.

Walaupun aku menjungkir kepalaku, mengeluarkan isinya alasannya tidak akan kutemukan.

Karena memang pada akhirnya aku mencintaimu tanpa karena

Setelah kita sama-sama mengungkap, kupikir kau akan bertanya kelanjutan hubungan kita.

Nyatanya tidak.

Akupun waktu itu tidak memikirkannya. Entah karena kegirangan ataupun yang entah itu apa.

Aku memang tidak mempertanyakan bagaimana kelanjutannya.

Sampai sekarangpun. Semuanya hanya mengalir begitu saja.

Tidak ada ikatan

Tidak ada komitmen

Tidak ada janji.

Kupikir dari peristiwa ini membuktikan suatu bacaan karya Boy Chandra

Isinya kurang lebih seperti ini.

“Perihal menyatakan suka itu hanya untuk menyatakan. Sekedar memberitahu bahwa aku menyukaimu. Soal diterima atau tidaknya itu perihal lain.”

Ya. Kita memang hanya menyatakan. Aku menyukaimu. Dan kamu menyukaimu.

Tugasku memang hanya menyatakan. Aku tidak berharap lebih. Toh, daripada aku menyimpannya sendiri, melihatmu mendekati yang lain dan akhirnya berujung menjadi cinta dalam diam.

Suka ya nyatakan. Sederhana.

Perihal akan berlanjut atau sekedar berakhir menjadi pernyataan dan atau malah mungkin menjadi seseatu yang akan terlupakan.

Entahlah.

Biarlah waktu yang menjawab.


Gowa, 10.04 PM – Ditemani secangkir kenangan dari kota Bercahaya

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.