Pambalekos

Bohong mungkin pekerjaan paling mudah sekaligus paling sulit. Satu kebohongan harus disertai kebohongan lainnya. Seterusnya begitu.

Kota ini memiliki kata sendiri untuk kata bohong. Kata yang diserap dari bahasa Saluan ini juga menjadi semacam penanda. Ketika kau mendengar orang mengucapkan kalimat itu dipastikan orang itu adalah asli Luwuk.

Balekos menurut Ali Sopyan diambil dari kata Lekos lalu kemudian dipakai orang Luwuk untuk menyatakan kebohongan. Contohnya: ngana balekos. Kalimat ini berarti: kau bohong.

Penggunaan kata ini populer sejak dulu. Orang-orang Luwuk terbiasa menggunakan kata balekos untuk segala bentuk kebohongan. Saya pribadi hampir tidak pernah memakai kata bohong. Sebagai orang Luwuk, bohong ya balekos.

Pelaku kebohongan sendiri disebut dengan kata pambalekos. Awalan pam, digunakan untuk pelaku yang selalu melakukan sesuatu (tergantung apa yang melekat pada awalan pang). Semisal, pampukul artinya tukang pukul, maka kata pambalekos artinya tukang bohong. Selain pambalekos istilah lain untuk tukang bohong adalah lekoson. Akhiran on pada kata lekos tersebut mengambil kebiasaan orang Saluan (salah satu suku asli yang ada di Luwuk) yang mengucapkan pelaku dengan akhiran on. Semisal buhukon kata tersebut artinya penakut. Maka lekoson artinya pembohong.

Selain model penggunaan tersebut di atas. Orang-orang Luwuk biasa menggunakan kata lain selain balekos. Latabu artinya bohong. Latabuon artinya tukang bohong. Panglatabu artinya juga tukang bohong. Prinsip penggunaannya sama.

Konon kata latabu diambil dari rumor yang beredar tentang seseorang yang bernama Latabu dan punya hobi berbohong. Entah sejak kapan latabu menjadi sebuah kata yang bermakna bohong. Tapi yang pasti sama dengan balekos, kata ini juga populer digunakan.

Sebaran kata-kata ini mungkin tidak sejauh sebaran kata-kata lain yang pernah saya tuliskan. Penggunaan kata ini hanya di daerah Luwuk dan sekitarnya. Bahkan mungkin tidak sejauh yang saya kira. Sebab sepengetahuan saya di beberapa tempat dan desa, orang-orang cenderung memakai kata dari bahasa mereka sendiri (tentunya dengan pengecualian desa berpenduduk asli Saluan).

Lalu ada lagi ungkapan untuk menyatakan kebohongan ini, meski tak begitu populer. “Abu Nawas sekali ngana ini eee.” Kata Abu Nawas di atas merujuk pada dongeng-dongeng Arab yang populer sampai ke Indonesia. Dongeng Abu Nawas sendiri berasal dari India dan Persia, populer di timur tengah kemudian dialihbahasakan ke bahasa Arab. Kumpulan dongeng Abu Nawas ini masuk dalam buku “Alfu Lailatin Wa Lailah” atau kita bisa menyebutnya Dongeng 1001 Malam. Banyak juga versi lain dari Abu Nawas ini. Tapi dalam tiap kisah, Abu Nawas memang dikisahkan sebagai orang yang licik dan tentunya pembohong. Sehingga kalimat tadi memang pas sekali mewakili ungkapan yang dimaksud yaitu pembohong.

Ada beberapa versi tentang asal kata balekos. Tapi dari hasil riset Ali Sopyan, kata itu memang berasal dari bahasa Saluan. Jadi saya sengaja untuk tak menuliskan versi lain tersebut.

Kata balekos ini populer dibawa anak-anak perantau atau mahasiswa-mahasiswa asal Luwuk yang berkesempatan kuliah di luar Luwuk. Semisal kau pergi ke Makassar atau kota lain yang jaraknya lumayan dekat dengan Luwuk dan mendapati tulisan balekos di tembok, atau stiker balekos, pin balekos dan lainnya, kau boleh bertanya langsung “ngana orang Luwuk?”

Saya yakin seratus persen, ia akan menjawab iya.

(Tulisan ditulis dalam keadaan demam dan flu berat.)

Show your support

Clapping shows how much you appreciated ama achmad’s story.