Bossy

Satu hal yang tak saya sukai adalah sifat bossy orang-orang yang kebetulan berinteraksi dengan saya. Mungkin karena pada dasarnya saya pribadi terbiasa menangani banyak hal sendiri. Sejujurnya saya pun sering menyuruh orang dengan catatan orang yang saya suruh tugasnya memang seperti itu. Semisal saya menyuruh mbak di rumah untuk memasak Indomie atau menyuruh staf di kantor untuk membuat laporan dan sebagainya. Intinya saya menempatkan diri dengan siapa saya bersikap “bossy” atau menyuruh orang lain. Saya tipe yang sungkan jika menyuruh orang jika ia hanya teman atau sahabat tanpa ikatan kerja. Karena saya segan menyuruh, saya pun tak suka diperintah. Beberapa hal saya lakukan dengan sukarela, sehingga dengan sadar saya menginginkan orang berbuat sama dengan saya.

Beberapa teman saya menyandang sifat bossy ini. Di dunia psikologi sifat bossy ini berkaitan dengan sifat egois yang juga tinggi. Semisal menyuruh orang di dekatnya pergi ke kasir untuk membayar sedangkan ia bisa melakukannya sendiri atau menyuruh teman lain untuk mendekatinya (alih-alih menghampiri teman itu) karena ada yang ingin dibicarakannya. Hal ini sepele tapi sering kali menimbulkan “suasana tak enak” bagi pertemanan.

Sikap ini biasanya terkait tingkah-laku atau attitude meski juga terkait kepribadian secara tidak langsung. Artinya jika mau, sikap ini bisa diubah lebih mudah daripada mengubah kepribadian.

Sering orang-orang terjebak dengan sikap ini. Contoh sederhana, di rumah kita dilayani ART. Sikap ini terbawa ke kantor atau lingkungan pertemanan. Ketika kita tidak bisa menempatkan diri di mana kita berada dan bagaimana harusnya attitude kita, bukan tidak mungkin kita bersikap layaknya bos di lingkungan luar rumah artinya secara de jure akan menyandang predikat bossy.

Berbeda dengan yang kita lihat di film Horrible Bosses (film ini bercerita tentang BOS ((benar-benar BOS)) yang agak mirip monster), sikap bossy ini jelas mengganggu pertemanan. Saya contoh orang yang akan menghindari teman atau saudara dengan sikap bossy yang tingkatnya macam Menara Burj El Arab.

Karena bossy ini tumbuh oleh sesuatu atau dilatarbelakangi sesuatu, maka sesungguhnya ada jalan untuk meminimalkan atau bahkan menghilangkan sikap ini.

Saya menulis ini karena belakangan ini saya dikelilingi banyak teman yang sikap bossy-nya luar biasa. Sikap ini bukan hanya mengganggu pertemanan tapi juga membuat orang lain tak percaya diri. Sikap bossy ini juga bersekutu dengan sikap sok tahu, merasa lebih dari orang lain dan kepercayaan diri yang kebablasan.

Doa saya malam ini, semoga kita dihindarkan dari sikap sok nge-bos ini.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.