Bukan puisi, hanya tentang hujan dan apa yang saya bayangkan

Hujan seperti ini, saya selalu membayangkan berada dalam rumah dengan perapian yang hangat, karpet tebal dan sofa lembut serta sebuah piano. Dan kamu tentunya.

Hujan seperti ini, saya selalu membayangkan dua cangkir cokelat panas tak tersentuh. Sebab kita sibuk menghilangkan gigil dengan pelukan-pelukan panjang.

Hujan seperti ini, saya membayangkan kita berbagi selimut, menghalau beku dan bertukar haiku.

Hujan seperti ini, saya membayangkan kita duduk menghadap jendela. Menghitung berapa banyak rintik yang jatuh menciumi kaca.

Hujan seperti ini, saya membayangkan kita menggubah simfoni tak bernomor dari desah nafas dan bunyi titik-titik air yang mengetuk atap rumah.

Hujan seperti ini, saya membayangkan kita, hanya kita. Sepasang yang (harusnya) menggenapi dengan sempurna.

*bukan puisi*

Show your support

Clapping shows how much you appreciated ama achmad’s story.