Catatan dari rumah sakit

Satu minggu ini, waktu saya dihabiskan di rumah sakit. Dari satu kesakitan ke kesakitan lain. Dari rumah sakit umum ke rumah bersalin. Telinga saya penuh oleh aduh dari orang-orang yang saya temui juga tentunya dari kakak dan adik saya. Saya kehabisan kata-kata penghiburan. Sebab sepanjang apa pun kalimat yang saya ucapkan, kakak saya tetap kesakitan, adik saya tetap menjerit. Sampai saya berpikir apa mungkin rumah sakit dan rumah bersalin ini tak menyediakan lagi kata-kata sebab telampau banyak nyeri yang diterimanya.

Saya melihat dinding-dinding di rumah sakit dan rumah bersalin itu sembari membayangkan sudah berapa banyak tembok-tembok dingin itu merekam tangisan dan doa-doa kesembuhan.

Saya sempat melihat satu patung di taman rumah bersalin, di situ terpahat tahun patung dibuat, 1979. Sudah begitu lama, tahun itu pun saya belum lagi lahir. Saya juga bertanya ke seorang perawat di rumah sakit umum tentang usia rumah sakit itu, perawat itu hanya memberi jawaban yang tak pasti, yang pasti sudah lama, begitu katanya.

Jadi coba bayangkan berapa banyak yang didengar dinding-dinding itu, berapa banyak yang disaksikan langit-langit di rumah sakit umum dan rumah bersalin itu, berapa banyak nama-nama yang pernah singgah di loket-loket pembayaran di sana.

Saya sempat antri lama di depan apotek di rumah sakit umum daerah Luwuk. Selama antri saya memperhatikan nama-nama dipanggil, dicatat di plastik bersama aturan minum obat. Cukup lama saya berada di situ untuk akhirnya menulis satu puisi.

Rumah Sakit Umum

Orang-orang mendatangiku dengan nyeri yang tak bisa lagi disembunyikan senyuman. Sebagian lain datang bersama kematian, separuhnya pulang membawa banyak bahagia.
Telingaku menerima banyak permohonan dan erangan seperti dengung abadi yang tak bisa dihalau. Di loket-loket, kesembuhan dijual dalam berbagai macam angka. Kata-kata hanya nama dan aturan minum obat yang tertera di kertas.
Seluruh tubuhku menerima segala rasa sakit dengan tabah serupa santun langit menangkup semua air mata yang naik dalam doa.
Seluruh tubuhku adalah tempatmu meletakkan perih sepenuh khidmat seperti tunduk ranting-ranting akasia di satu hari yang hujan.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.