Catatan pendek tentang hari ini; 4 Februari 2017.

Tulisan kali ini disponsori dua gelas kopi yang diminum tengah hari. Dua gelas kopi yang membuat kata-kata memenuhi kepala (hari ini saya lumayan produktif, membaca (lagi) kumpulan puisi GM, menulis beberapa lembar).

Sore tadi saya bertemu Neni Muhidin, seorang tamu yang akan datang di FSB (Festival Sastra Banggai) April nanti. Perjalanannya ke Luwuk adalah salah satu bagian roadshow seorang solois bernama Rival Himran eks bassist Steven & Coconut Treez. Neni Muhidin bertindak sebagai Publishers Rival Himran.

Bertemu Neni Muhidin adalah sesuatu yang perlu dicatatkan di sini. Saya senang menulis tentang orang-orang yang saya temui. Seperti mengabadikan momen tapi dalam bentuk kata-kata.

Kami mulai dengan perbincangan soal FSB. Bercerita tentang bagaimana akhirnya wacana ini lahir dan bagaimana kami meramu acara ini supaya lebih menyenangkan, menghibur sekaligus mengedukasi.

Berbicara dengan Neni Muhidin seperti melahirkan banyak kekaguman. Tak terhitung berapa kali saya mengangguk-angguk, setuju dengan apa yang diucapkannya.

Neni Muhidin adalah pegiat literasi Sulawesi Tengah. Beliau mendirikan Perpustakaan Mini Nemu Buku di tahun 2007. Hal ini juga yang akhirnya menjadikan beliau sebagai Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Sulawesi Tengah. Bukan hanya itu, Neni juga membuat program Hagala Buku. Hagala dalam bahasa Kaili artinya hadiah. Neni menjalankan Hagala Buku pertama di Lalong, sebuah desa di Mansalean, Banggai Laut. Seterusnya Hagala Buku ini berlanjut menyentuh titik-titik lain di Sulawesi Tengah.

Kejutan lain hari ini adalah bahwa saya baru tahu Neni juga adalah seorang penyair. Sebelumnya saya membaca bahwa beliau adalah esais yang mengumpulkan esai-esai-nya di media dalam satu buku berjudul Selfie – Sewindu Catatan dari Palu. Buku ini adalah buku ke limanya yang terbit.

Buku puisinya berjudul Setiap Rindu Mungkin Diciptakan Tuhan dari Seekor Ulat Bulu yang Bermetamorfosa jadi Kamu (judul yang panjang untuk sebuah buku puisi) langsung menarik perhatian saya. Ada hal yang menarik dari buku ini, pertama adalah covernya yang buat saya puitis sekali. Kedua saya menemukan Neni yang lain (yang bukan saya temui sore tadi) di buku puisi ini. Saya menemukan seseorang yang sedang jatuh cinta sedikit gelisah dan cemas. Perpaduan yang akhirnya melahirkan buku puisi ini. Ketiga adalah bahwa Neni adalah manusia yang sedikit “gila.” Kenapa gila? Karena Neni membuat penerbitan indie yang namanya sama dengan perpustakaan-nya. Penerbit nemubuku ini masuk ke jejaring penjualan buku online. Buku-buku nemubuku memang bertemu pembacanya dengan cara yang lazim ditempuh penerbit sepertinya.

Kami berdua (saya dan teman saya) kagum dengan totalitas Neni terhadap dunia literasi. Satu hal yang tambah bikin kami kagum adalah rencana Neni untuk datang bersama teman-teman Forum Taman Bacaan Sulawesi Tengah ke Luwuk di FSB nanti. Bagian ini juga saya anggap cukup gila, Neni menolak dengan halus tawaran kami untuk menyediakan akomodasi dan transportasi baginya. Beliau akan berlayar dari Toboli menuju Luwuk.

Lepas dari itu, Neni Muhidin juga adalah sosok yang resah dengan hilangnya bahasa ibu di masing-masing daerah. Itulah yang membuat Neni mendukung Rival Himran di album solo perdananya. Terobosan ini luar biasa, konsep mengenalkan kembali kejayaan bahasa ibu, dalam hal ini bahasa Kaili ke generasi sekarang. Media yang paling cocok, paling mudah dan paling gampang menyentuh semua orang tentunya adalah musik. Ini luar biasa, lagu berbahasa Kaili dikemas dalam musik reggae yang enak. Saya ingat jaman masih sekolah, belajar Bahasa Inggris paling mudah adalah dengan mulai belajar lewat lagu-lagu berbahasa Inggris. Jadi cara ini; menggubah lagu berbahasa Kaili dalam irama reggae adalah ide yang luar biasa.

Hari ini ditutup dengan menonton mini konser Rival Himran. Sambil menikmati musiknya, saya juga berusaha keras memahami liriknya. Syukurlah saya masih mengerti sedikit-sedikit bahasa Kaili (bahasa papa saya).

Satu pertanyaan saya jika April nanti bertemu kembali dengan beliau; Apakah anda mewarisi ilmu membelah diri atau menggandakan diri?

Sebab buat saya tak mudah menjadi Neni. Beliau adalah manusia dengan banyak energi positif. Menjangkau ini, melakukan itu, bergerak di sana, berkolaborasi di sini, semua dilakukakan Neni. Ini tentunya tak mudah, terus bergerak dan menebar energi positif ke banyak aspek.

Sebelum tulisan ini diakhiri, satu yang saya paham, hal yang dilakukan Neni adalah sesuatu yang harus berkelanjutan. Semoga akan banyak orang seperti beliau. Saya menitipkan doa untuknya – untuk semua hal positif yang dilakukannya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.