chat

kapan terakhir kali kamu bercakap dengan orang dan betul-betul menatap matanya serta melupakan ponselmu?

saya dan seorang adik menerapkan aturan ketat untuk tidak memegang gawai setiap kali kami bertemu. kami akan duduk berhadapan, mengalirkan banyak percakapan, menyesap teh hijau dan membiarkan gawai kami berdiam dalam tas. ada satu pengecualian, jika itu adalah panggilan telpon, kami bisa menerimanya. pertemuan dengannya selalu adalah percakapan panjang tentang banyak hal. ah ya saya akan sangat merindukannya, sebentar lagi ia akan pindah.

saya ingat waktu bertemu kak Lian dan bicara tentang bagaimana gawai ini memangkas banyak interaksi dan komunikasi. alih-alih menatap teman bicara, orang-orang nyaman mengetik di “kamar” chat atau alih-alih memeluk, emoji peluk dirasa cukup untuk menghibur. sering kali juga secara tidak sengaja kita berani menghakimi seseorang dari percakapan-percakapan (wa story dan hal semacamnya) di gawai. bahasa tulisan di media chatting, memang mempunyai kelemahan, salah satunya menjadi pangkal dari kesalahpahaman.

beberapa bulan lalu, ketika gawai saya rusak (dalam waktu yang cukup lama), saya merasa ada yang kurang di hari-hari saya — ada yang hilang. saya dengan bercanda menyebutnya anxiety level hp belum sembuh.

begitu terbiasanya kita dengan gawai terkadang membuat cemas atau gelisah ketika tidak menggenggamnya. kita telah sepenuhnya terbiasa dengan gawai, mulai dari menjejalah banyak tempat dengan internet juga hal sepele seperti membalas chat dan terhubung dengan banyak orang di dunia. bagi saya ketidakhadiran gawai juga menghambat proses menulis (saya biasa menyimpan catatan-catatan lepas di notes). bagi orang lain mungkin adalah terhambatnya akses ke media sosial dan terhambatnya sesi foto-foto. gawai pada akhirnya menjadi kebutuhan primer bagi sebagian orang. saya tidak terkecuali.


kembali pada pertanyaan di atas. kapan terakhir kau bercakap dengan seseorang, betul-betul menatap matanya dan melupakan gawaimu?

saya membayangkan jika percakapan-percakapan di whatsapp, line atau media pesan singkat ini menjadi sebuah percakapan di dunia nyata. bagaimana jika emoji-emoji peluk, cium, tertawa, tertawa keras, menari dan lainnya ada di dunia nyata? rasanya dunia ini akan baik-baik saja ya. dan sebaliknya emoji-emoji tidak menyenangkan seperti marah, marah besar, dan lainnya tetap tinggal di gawai, rasanya hidup akan secerah wallpaper gawai.

barangkali memang sudah seharusnya, kita kembali menyentuh seseorang dengan jemari alih-alih hanya mengirim chat pendek. juga mulai belajar memeluk semua orang, mengapresiasi setiap pencapaiannya, tekun mendengarnya bercerita, ikut berempati dengan masalahnya dan seterusnya. rasanya ada yang salah, jika kita betah berjam-jam membalas chat, browsing, stalking media sosial, tapi sama sekali tidak mampu mempertahankan percakapan secara “live” dengan seseorang.

akan ada sebuah masa ketika gawai secanggih apa pun tidak akan mampu membeli percakapan. pilihan yang tersisa hanya percakapan utuh kita sebagai makhluk sosial. bercakaplah dengan orang asing di kursi sebelah, mulailah menyapa seorang teman dari masa lalu yang kebetulan sekantor denganmu, atau paling sederhana cobalah untuk menghadiahi siapa pun senyum terbaikmu. selewat tadi, saya menemukan twit di lini masa, yang kurang lebih berbunyi begini: Indonesia ini darurat pelukan.


Percakapan
Tidak ada yang mampu membeli percakapan.
Tidak aku.
Tidak kau.
Tidak juga pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawabanmu.

catatan ini ditulis sebagai otokritik terhadap diri sendiri. ketergantungan kepada gawai terkadang membuat kita lupa “melihat” hal-hal baik di sekitar.

sudahkah kau tersenyum pada seseorang hari ini?

Like what you read? Give ama achmad a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.