Dua puisi dari perjalanan seorang teman.

Menulis puisi semacam obat penenang buat saya. Dua puisi ini ditulis dari foto perjalanan seorang sahabat. Foto-foto dirinya di Sindoro. Saya selalu suka melihat foto-foto perjalanan (meski saya kurang suka jalan-jalan karena gampang capek dan rindu kamar sendiri). Dari foto perjalanan, saya biasanya menemukan “sesuatu” yang akhirnya menjadi puisi. Seperti dua puisi berikut ini;

Di Sindoro.

Kabut turun dengan anggun seperti yang pernah kau bayangkan ketika membaca sebuah buku yang bercerita tentang maut.

Di sini, bulan tiba dengan pelan meski gelap sering kali lebih dulu datang bersama sedu sedanmu juga ingatanmu yang selalu menuju pada seseorang yang jauh.

Ke seseorang yang lain, kau memasang ruang semacam malam – serupa dinding yang menyembunyikan separuh dirimu.

Kau berkata “Aku telah menyisihkan sesuatu untuk ini; kota yang berisik dan Tuhan yang terlalu serius.”

Kau mengucapkan itu meski kau juga tahu ada yang hilang setelahnya – remah-remah yang sengaja kau jatuhkan sepanjang setapak menuju puncak.

Di Sindoro, kau menutup diri dari pertanyaan-pertanyaan yang tak bahagia. Sebab katamu, sunyi juga asap lembut yang memelukmu tak seharusnya mendengar jawaban dari sebuah kesedihan.

Kita dan hal yang lebih dulu hilang.

Kita pernah ada di pagi itu, katamu. Ketika hari menjadi sebuah nama dan kepul asap kopi seperti takdir yang baik.

Langit redup saat hujan turun tanpa sengaja. Tapi kata-kata jadi sekeras batu dan kita tak lagi menangkap desau angin.

Seharusnya kau menyisipkan sedih itu di saku lain yang jauh dari genggaman.

Seharusnya aku menjauhkan gigil itu dari kerah baju.

Tapi cinta adalah sesuatu yang lebih dulu hilang, bahkan sebelum selamat tinggal.

Dan di separuh kabut, kita sama-sama bergumam; apakah kita pernah bahagia?

Itulah dua puisi yang saya tulis berdasarkan foto seorang sahabat.

Like what you read? Give ama achmad a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.