H a r a p

Pada baju hangat yang belum jadi,

Seorang perempuan pernah berharap gigil akan pergi jauh dari pundaknya.

Ia menggumam tentang rabu yang teduh. Langit bermatahari yang ramah dan angin yang sepoi.

Ia ingat semua itu.

Meski orang-orang telah lama meninggalkan kedai minum dan musik telah diam sejak lalu

Sejak itu tak ada yang datang. Hanya empat turis spanyol dengan pakaian warna warni cerah yang tak disukai matanya.

Ia pun menunduk.

Mencatat kenangan pada bisu meja kayu yang kasar.

Lalu, hanya angin.

Angin yang lelah berbisik mengabarkan kehilangan.

Setelahnya cahaya lindap. Tiupan-tiupan dingin pelan-pelan memeluknya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated ama achmad’s story.