Intah Makan Milu!

Kalimat di atas berarti ajakan untuk makan jagung. Intah dalam bahasa Luwuk adalah ayo. Kata yang berfungsi sebagai ajakan terhadap seseorang. Sedang Milu adalah jagung dalam bahasa Luwuk. Milu sendiri diserap dari bahasa Portugal. Milho dalam bahasa Portugal berarti jagung. Pelafalannya agak sedikit berbeda untuk orang Sulawesi utamanya Sulawesi Utara, Gorontalo dan sebagian Sulawesi Tengah yaitu: milho menjadi milu.

Di Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah, ada penganan khas dari jagung yang menjadi favorit banyak orang. Orang-orang di Luwuk, menyebutnya Milu Siram. Di Gorontalo bahasa aslinya adalah Binde Biluhuta atau di Manado dan Palu menggunakan kata Binte untuk Milu Siram.

Milu siram adalah penganan khas yang bentukannya mirip sup jagung. Dibumbui dengan sederhana lalu dinikmati bersama parkedel teri atau keripik ikan. Masih menjadi rahasia kenapa milu siram selalu banyak peminat. Tak ada warung milu siram yang sepi. Sesepi-nya, sajian milu siramnya akan tetap habis pukul 21.00.

Milu siram sendiri adalah arti harfiah dari Binde Biluhuta jika di Gorontalo. Sedang di Luwuk, sejak kecil saya tak pernah mendengar sebutan lain untuk sup jagung ini kecuali milu siram.

Makna siram di sini, kata Ali Sopyan terkadang rancu. Hakikatnya adalah jagung rebus bukan jagung siram. Memang ada penggunaan khusus kata siram ini di sebagian daerah di Sulawesi, katanya. “Siram dulu teh.” Kalimat ini berarti permintaan untuk menyeduh teh. Kata menyeduh diganti dengan kata siram. “Siram akan dulu kopi.” Kalimat ini berarti permintaan untuk diseduhkan kopi.


Kota ini juga punya banyak nama “asing” untuk makanan tertentu. Salah satunya kuah Bugis. Makanan ini hakikatnya adalah Sop Konro di Makassar. Tapi kemudian oleh orang Luwuk disebut dengan kuah Bugis. Meski sesungguhnya rasa kuah Bugis versi Luwuk ini berbeda sedikit dengan versi asli Sop Konro. Mungkin menyesuaikan dengan lidah orang-orang Luwuk.

Kemungkinan besar kata ini muncul dari ketidaktahuan orang-orang dulu terhadap nama penganan masyarakat Makassar ini. Sehingganya untuk gampangnya mereka menyebut dengan sebutan kuah Bugis. Bugis sendiri seperti diketahui adalah salah satu suku terbesar yang ada di Sulawesi Selatan atau Makassar.

Kemudian ada kukis. Kata ini dalam bahasa Luwuk berarti kue. Meski dalam penggunaannya kata ini lebih sering disematkan pada kue kering ketimbang kue basah. Kukis sendiri kemungkinan besar diserap dari bahasa Inggris, cookies.


Khusus edisi ini, saya ingin bercerita sedikit tentang narasumber andalan saya, Ali Sopyan.

Ali Sopyan atau lebih akrab disapa Kak Ali, bagi saya adalah laki-laki “serba tahu.” Ia adalah tempat bertanya paling menyenangkan dan guru yang baik.

Ali Sopyan adalah pekerja swasta di salah satu perusahaan di Banggai. Ia adalah penggerak pendidikan serta relawan literasi di Banggai. Ia juga adalah ketua komunitas literasi Babasal Mombasa. Ali juga tergabung dalam komunitas Relawan Oke. Di sela kesibukannya, Ali Sopyan terus bergerak untuk Banggai.

Tahun ini mungkin tahun tersibuknya. Setelah menyelenggarakan Festival Sastra Banggai 2017, ia kembali disibukkan dengan agenda Kelas Inspirasi dan tentunya agenda narasumber untuk buku Luk Pe Kata-kata. Beberapa hal itu masih akan ditambah dengan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas-komunitas di mana ia bergabung.

Di balik tampilannya yang menenangkan (karena ia tak banyak bicara), Ali juga sosok yang keras. Dalam diskusi terkait kata-kata, ia kerap mempertahankan pendapatnya, tentunya dengan berupaya mencari bukti-bukti untuk pembenaran pendapatnya. Kesenangannya pada bahasa membuat saya dan beberapa teman menjulukinya Ivan Lanin kw 1.

Satu hal yang kurang darinya adalah kemalasannya menulis. Padahal kombinasi isi kepala dan kemampuann Ivan Lanin-nya tentunya akan menghasilkan tulisan yang baik.

Ali juga sedikit “gila.” Kegilaannya berkegiatan terutama untuk pendidikan dan literasi telah menghasilkan banyak hal baik untuk orang-orang. Menginisiasi Festival Sastra Banggai, salah satunya. Meski sebagai manusia biasa kadang ia juga butuh jeda sebentar dari “kegilaan” itu.

Ide buku Luk Pe Kata-kata muncul dari teman kami, Wahid Nugroho. Lewat Wahid pula, saya pertama kali berkenalan dengan Ali Sopyan. Keduanya “orang gila” (ingatkan saya untuk menulis tentang Wahid Nugroho).

Akhirnya (meski ini bukan catatan terakhir dalam Luk Pe Kata-kata), saya berharap, ia tetap sehat walafiat dan tetap mau menyediakan jawaban untuk semua pertanyaan saya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated ama achmad’s story.