La Buana Cafe dan flu yang tak tahu diri

Kemarin sore langit Makassar seperti anak kecil yang kehilangan permen, menangis keras dan lama. Saya selalu suka hujan, gerimis atau deras. Hanya saja setiap kali hujan saya musti berteman dengan obat flu, tissue dan teh hangat segalon (oke teh hangat segalon ini agak berlebihan).

Kafe ini bergaya antik. Penampakannya juga bagus. Sayang sekali hujan sangat deras sehingga kami tak bisa duduk di teras menikmati senja. Saya datang bersama teman untuk ketemu seseorang dan membahas kegiatan yang akan kami laksanakan tahun depan.

Satu teh tarik hangat, satu cappucinno untuk kami berdua. Orang yang kami tunggu datang lima belas menit kemudian. Kami ngobrol sampai pukul 19.30. Obrolan dibuka tanpa basa basi. Saya mencatat banyak sekali selama obrolan. Belajar banyak sekali mengenai festival selama obrolan. Dan tentunya bersin banyak sekali selama obrolan.

Banyak hal yang saya kagumi dari orang yang kami temui ini. Dari semua itu hal yang paling luar biasa adalah isi kepalanya. Saya rasa semua buku yang dibacanya pindah dengan sukarela ke kepalanya. Kalimat-kalimatnya yang tertata rapi selama percakapan juga sesuatu yang membuat saya kagum. A sampai Z dari isi kepalanya pindah ke catatan saya. Saya semacam anak kecil yang dengan ikhlas menerima semua perkataannya, menyerapnya dalam kepala. Bahkan saya tak sempat mengecek HP karena tak mau kelewatan satu hal pun.

Ada satu hal yang saya ingat sekali, di akhir obrolan dia menitip pesan untuk terus menjaga Luwuk. Kota yang baru dikunjunginya minggu lalu. Di akhir obrolan kami, di meja saya, tissue berhamburan. Sepanjang percakapan saya terus-terusan bersin sambil sesekali mengeluarkan air mata. Di antara kata-kata yang keluar, ide-ide yang ingin saya bagi secepatnya dengan teman-teman dan kekaguman terhadap sosok di hadapan kami, saya juga membagi ingatan saya dengan apotek. Hujan setitik membuat saya flu berat. Pagi ini saya bangun dengan mata super sembap (semacam orang putus cinta yang menangis semalaman), kepala sakit dan tentunya flu yang tak tahu diri. Karena flu juga, saya dan teman tak jadi melihat pameran foto di Rumata Art Space.

Saya berkompromi dengan flu ini untuk menulis. Sesuai janji saya 1 hari 1 tulisan.

Like what you read? Give ama achmad a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.