Liburan atau Lebaran?

Saya orang yang agak kuno. Mencintai hal-hal yang tidak kekinian, semacam roti sobek yang rasanya manis di toko kue tua atau juga piring keramik putih yang pinggirannya berwarna emas atau meja rias di kamar saya yang usianya lebih banyak dari jumlah lilin ulang tahun saya.

Seperti itu juga saya mencintai Lebaran di tahun-tahun yang jauh, jauh sebelum saya menuliskan ini. Saya ingat ketika itu kegembiraan Lebaran adalah berkunjung ke kerabat-kerabat jauh dan dekat. Menikmati suguhan kue ini itu juga keik (cake) putih dengan lapisan gula yang sangat enak. Acara silaturahmi semacam rute yang sudah diatur orang yang entah siapa. Hari pertama ke keluarga Djalal, misalnya. Hari kedua semua keluarga akan berkunjung ke saudara tertua, misalnya. Lebaran yang kuno kalau kata orang-orang. Seminggu penuh dihabiskan untuk saling berbalas kunjungan dan bermaafan.

Sekarang, Lebaran lebih kepada liburan. Hari pertama open house. Hari kedua dan seterusnya adalah jalan-jalan ke tempat rekreasi. Lebaran liburan itu bukan tipe saya. Tipe saya dan keluarga adalah Lebaran kuno yang saling berkunjung, bermaafan dan sesekali disertai adegan terharu dan mewek karena rindu.

Makin ke sini, Lebaran adalah liburan. Bahkan ada yang selepas shalat Ied langsung ke luar negeri atau ke tempat wisata. Tak ada yang ganjil dari hal itu, saya hanya penyuka Lebaran yang Lebaran. Bukan liburan yang meminjam kata Lebaran.

Ah ya selamat berlebaran ya, jangan lupa ketupat dan opor.