Liesel dan sebuah Buku –

Kau mengemas tahun-tahun ke dalam catatan-catatan rapuh yang sembunyi. Tapi seringkali rahasia adalah dingin lantai bawah tanah yang gelap.

Orang-orang membakar kata-kata, tapi di dinding rumahmu, alfabet-alfabet acak tumbuh seperti hujan yang tak menyakiti, serupa kata-kata penghiburan untuk duka yang segera tiba.

Liesel, seperti kau tahu, dari buku yang kau sembunyikan di saku jaket, benderang akan padam. Begitu juga warna-warni senja yang mati di ujung jembatan.

Kelak, di lagu terakhir, Liesel, ada yang tak terucapkan not –not akordeon itu:

Mimpi yang hangus di halaman belakang dan kesedihan yang tiba-tiba mengecup puncak kepalamu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.