Luwuk

Kota ini diberi gelar “Hongkong di malam hari.” Saya belum pernah ke Hongkong dan tak berniat ke sana kecuali gratis. Gelar itu sudah lama melekat. Tadi ketika duduk di teras, saya berpikir, kalau seperti Hongkong, saya tak perlu ke Hongkong untuk rasa penasaran saya dan cap di paspor saya. Entah siapa yang memulai itu dan dengan percaya dirinya menganggap begitu.

Lalu pelan-pelan kota ini mulai bergelar macam-macam, kota air (karena ketersediaan air yang luar biasa), kota gas (karena ada pabrik gas di sini), kota teluk (karena tempat hiburan kota ini adalah teluknya), kota pantai (karena garis pantainya yang panjang), macam-macam sampai saya tak bisa lagi mengingat. Di luar itu semua, saya hanya penduduk kota yang menyayangkan kenapa tak ada satu pun toko buku di sini, kenapa tak ada satu pun kafe yang melengkapi dirinya dengan buku, kenapa kota ini sibuk meminjam identitas orang lain (mulai dari nasi goreng, siomay sampai pepaya).

Saya tak menyukai ini; dandanan kota yang mulai menor (kafe di mana-mana), tak suka cat-cat yang tiba-tiba terlalu berani juga sangat tak suka jalanannya yang mulai mengecil.

Seorang laki-laki yang saya kenal mengatakan, kota ini sedang tumbuh. Ibaratnya ia semacam anak gadis yang sedang senang berdandan dan tak suka diganggu dengan hal-hal yang antik. Saya menelaah ucapannya dan mengiyakan dalam hati. Betul, kota ini tampak seperti itu, berdandan dan sedang dalam proses mencari identitas. Saya cuma berharap, apa pun itu kelak, Luwuk yang saya cintai tak melupakan dirinya sendiri. Tentang teluk yang teduh, tentang keramahtamahan yang luar biasa dan sorenya yang selalu magis.

Ah ya ketika orang-orang menyukai malamnya, saya mencintai sore kota Luwuk yang santun; mataharinya yang sayu dan anginnya yang baik. Begini saja, bayangkan saja kau sedang duduk di teras rumah, ditemani teh hangat, lalu seseorang yang kau tunggu tiba dan kau langsung saja merasa semua rindu terbayar.

(Saya merekomendasikan sore kota ini untuk para penyair yang kehilangan kata atau penulis yang sedang akrab dengan tanda titik)

Like what you read? Give ama achmad a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.